Jumat, 27 April 2012

Bagaimana Stres Mempengaruhi Kesehatan

Taylor (1986) menjelaskan empat jalur yang berbeda:
1.    Jalur Langsung
ð  Rangsangan Berlebih Kronis
Rangsangan berlebih kronis yang disebabkan oleh stressor kronis dapat menyebabkan timbulnya penyakit jantung kororner (CHD) à penyempitan pembuluh darah pada otot-otot jantung, sehingga menghambat pengiriman oksigen dan zat makanan ke jantung. Oksigen ke jantung yang terhambat menyebabkan infark miokardium (suatu serangan jantung)
Terdapat kontribusi genetik untuk penyakit jantung koroner: orang dengan riwayat penyakit jantung koroner dalam keluarganya berisiko lebih tinggi mengalami penyakit jantung koroner pula. Penyakit jantung koroner juga berkaitan dengan tekanan darah tinggi, kadar kolesterol yang tinggi, diabetes, merokok, dan obesitas.
Hasil suatu penelitian menunjukkan bahwa pria maupun wanita dalam pekerjaaan yang meminta tuntutan tinggi tapi disertai kendali rendah memiliki risiko penyakit jantung koroner 1,5 kali lebih tinggi dibandingkan pekerjaan lain (Karasek, dkk., 1981; Kkarasek, dkk., 1982)
Wanita bekerja, pada umumnya, dibandingkan ibu rumah tangga, tidak lebih tinggi berisiko terkena penyakit jantung koroner. Tetapi, ibu yang bekerja lebih besar kemungkinannya mengalami penyakit jantung. Kemungkinan penyakit meningkat bersamaan dengan bertambahnya jumlah anak untuk wanita yang bekerja, tapi tidak untuk ibu rumah tangga (Heynes & Feinleib, 1980).
Penelitian eksperimental dengan hewan menunjukkan bahwa gangguan lingkungan social dapat menimbulkan patologi yang mirip dengan penyakit arteri koroner (Manuck, Kaplan, & Matthews, 1986; Sapolsky, 1990)
ð  System Kekebalan
Bidang riset baru dalam kedokteran perilaku adalah psikoimunologi, yaitu penelitian mengenai bagaimana system kekebalan tubuh dipengaruhi oleh stress dan variable psikologis lain.
Tidak ada parameter tunggal tentang kualitas fungsi imun individual atau imunokompetensi. System imun adalah system yang kompleks dengan banyak komponen yang saling berinteraksi. Sejumlah bidang menyatakan bahwa stress mempengaruhi kemampuan system imun untuk melindungi tubuh.
Penelitian terakhir  menunjukkan bahwa system imun dan system syaraf memiliki banyak hubungan anatomis dan fisiologis. Contohnya, peneliti telah menemukan bahwa limfosit memiliki reseptor untuk sejumlah neurotransmitter yang berbeda. Jadi, sel system imun tersebut mampu menangkap pesan dari system saraf yang dapat mengubah kemampuan mereka. Salah satu alasan adanya kaitan antara neurotransmitter dengan system saraf yang penting adalah keadaan emosional negative (sebagai contohnya, kecemasan atau depresi) dapat mempengaruhi tingkat neurotransmitter. Jadi, situasi stress dapat mempengaruhi fungsi system imun hanya jika situasi tersebut menimbulkan keadaan emosional yang negative.

2.    Jalur Interaktif
Terdapat cukup banyak bukti bahwa hanya jika situasi stress dan kepribadian berinteraksi satu sama lain, atau dengan kerentanan biologis yang telah ada sebelumnya terdapat penyakit, penyakit akan muncul (Cohen & Williamson, 1991). Tipe model interaktif ini sering dinamakan sebagai model kerentanan stress, atau model diathesis stress (diathesis adalah kerentanan atau predisposisi terhadap penyakit). Kerentanan menjadikan individu peka terhadap gangguan tertentu, tetapi hanya terjadi jika ia menemukan stress sehingga gangguan benar-benar berkembang.
Kerentanan biologis, seperti kerentanan hipertensi atau diabetes, ditentukan secara genetic. Bagi sebagian orang, kerentanan ini mungkin menyebabkan perkembangan penyakit jika individu itu berhadapan dengan situasi stress kronis. Demikian pula stress mungkin tidak benar-benar menyebabkan pertumbuhan kanker pada awalnya, tetapi penelitian tumor pada tikus menyatakan bahwa stress dapat membantu perkembangan tumor yang telah ada. Terakhir, penyakit  mental stelah suatu stressor mungkin lebih sering terjadi jika individu memiliki kerentanan terhadap gangguan itu.

3.    Jalur Perilaku Sehat
Jika kita merasa stress, kita sering tidak memperhatikan diri kita sendiri secara baik. mungkin, kita cenderung lupa makan dan mengudap junk-food; menjadi sedikit makan atau bahkan tidak makan sama sekali. Orang yang stress mungkin tidak melakukan kebiasaan olahraga normalnya dan menjadi sedentarik.
Jadi, stress dapat, secara tidak langsung, memengaruhi kesehatan dengan menurunkan perilaku kesehatan positif dan meningkatkan perilaku kesehatan negative.

4.    Jalur Perilaku Sakit
Stressor menyebabkan sejumlah gejala yang tidak menyenangkan: gelisah, depresi, lelah, gangguan tidur, gangguan lambung. Sebagian orang menginterpretasikan gejala tersebut sebagai gejala penyakit, dan mencari bantuan medis. Selanjutnya, perhatian yang mereka dapatkan dari professional medis dapat memperkuat perilaku tersebut, artinya: menjadikan mereka lebih sering untuk mencari perhatian medis saat gejala stress muncul lagi di kemudian hari
Penelitian menyatakan bahwa orang dalam kedaan stress lebih sering menggunakan pelayanan kesehatan dibandingkan orang yang tidak dalam kedaan stress, walaupun mungkin mereka tidak dalam kedaan yang lebih sakit (Cohen & Williamson, 1991; Gortmaker, Eckenrode, & Gore, 1982; Watson & Pannebaker, 1989)