Tampilkan postingan dengan label My Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Story. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Agustus 2015

Sombong Itu Tak Pernah Kuizinkan Ada


Sombong itu tidak pernah ada
Ketika kamu sebegitu sayangnya padakuku,
Ketika kamu sebegitu cintanya padaku,
Ketika kamu sebegitu perhatiannya padaku,
Ketika kamu sebegitu berjuangnya untukku,
Bahkan ketika kamu sebegitu mengusahakan yang terbaik buat aku,
Sombong itu tidak pernah ada

Aku hanya ragu,
Ragu pada rasaku
Ragu pada kasihku
Ragu pada bahagiaku
Ragu pada tulusku

Sombong itu tidak pernah ada
Aku hanya takut,
Takut terlalu lena pada sayangmu
Takut terlalu menuntut pada perhatianmu
Takut terlalu meminta perjuanganmu

Sombong itu tidak pernah ada
Karena aku bukan siapa-siapa yang pantas menyombongkan diri atas semua rasamu padaku,
Karena aku belum tentu orang yang tepat untuk kamu perjuangkan dengan sebegitunya,

Sombong itu tidak pernah boleh ada
Dan aku tidak akan pernah mengizinkannya ada


Jakarta, 10 Juli 2015
#senjabetha

Jumat, 06 Maret 2015

Cerita di Negeri Sejuta Pelangi (Part 2)





Setelah kami mencicipi Gangan Ikan yang merupakan makanan khas belitung, kami melalui malam pertama kami dengan tidur beralaskan karpet. Hahahaha terdengar menyedihkan jika diceritakan, tapi terasa biasa saja bahkan bisa jadi mengasyikkan jika merasakannya bersama teman-teman dengan kondisi jauh dari rumah. Biasa ngekos memang, tapi tidak dengan rumah kosongan kan. Dan itu lah yang kami dapat, rumah kontrakan kosongan dengan modal dipinjami karpet dan kasur lipat tipis dari sang empunya rumah, hehehehe,,

Esok paginya kami ga tau harus ngapain. Hahahahaa gabut banget lah. Ditambah sebelumnya Pak Kades bilang kalau kami disuruh istirahat2 dulu aja, dan baru mulai ada agenda hari rabu. Alhasil, kami cari-cari kegiatan sendiri. Mulai dari cari-cari pinjaman motor, mengunjungi Bapak Bupati Belitung Timur ke kantornya, sampai sok-sok sibuk bikin surat dan mondar-mandir ke kantor pemerintah kabupaten buat izin2 ulang kegiatan, pinjam mobil dinas, pinjam kasur, bantal, kipas angin, sampai dispenser. Yang tadinya kami seolah menyedihkan, kemudian jadi makmur karena memiliki kasur plus bantalnya, kipas angin, dan dispenser. Tapi tetap ada sedikit rasa sedih karena tak kunjung mendapat pinjaman mobil dinas untuk mobilitas kami selama di sana.

Akan tetapi, keterbatasan transportasi ini membuat kami jadi selalu berbagi tanggung jawab dalam mobilitas, sehingga tidak melulu pergi bareng bertigabelas. Begitu pun ketika empat dari kami bertiga belas yang mengurus segala bentuk izin dan peminjaman ke kantor pemerintahan kabupaten, sebagian dari kami yang bertugas untuk belajar dan mendekatkan diri pada masyarakat sekitar. Mulai dari menyiapkan program lagi dan menyesuaikan dengan kebutuhan dan waktu masyarakat sampai kepo-in masyarakat tentang kegiatan KKN sebelumnya, karena di sana sudah beberapa kali kedatangan mahasiswa KKN dari UGM dan baru pertama kali dari UNS. Yaa karena memang kami termasuk angkatan pertama kloter kedua dalam sejarah diwajibkannya kembali KKN di UNS.

Dan bisa dibilang, kegiatan kami selama seminggu pertama di sana hanya berkutat dengan itu-itu saja. Yah, kami pun salah karena kurang mempersiapkan dengan baik apa-apa yang kami butuhkan terkait dengan kegiatan-kegiatan dalam program KKN kami. Dan kami berharap, adik2 kami nantinya bisa belajar dari kami untuk tidak melakukan kesalahan yang sama dan lebih mempersiapkan kegiatan-kegiatan KKN :)


#KKNCERIA  #KKNUNS2015 #BelitungTimur

Kamis, 05 Maret 2015

Cerita di Negeri Sejuta Pelangi (Part 1)



Kuliah Kerja Nyata yang biasa disingkat KKN merupakan sebuah kewajiban bagi kami mahasiswa Universitas Sebelas Maret. Dengan dalih KKN, kami bertigabelas bertemu dan menyatukan niat untuk mengabdi di tanah Manggar, Belitung Timur selama satu setengah bulan. Dengan tambahan niat paling besar untuk dapat menikmati indahnya belahan bumi lain di tanah air Indonesia ini. Memulai semua dari awal, izin untuk KKN ke luar Pulau Jawa kepada UPKKN UNS hingga izin kepada pemerintah daerah Belitung Timur. Mengumpulkan dana dengan mengusahakan sponsor sampai mengusahakan apa-apa yang bisa diusahakan, jual buket bunga, jual boneka wisuda, jual es kiko, sampai jual tahu bakso ikan, dan alhamdulillah ngga sampe harus jual ginjal atau jual diri hehehehe...

Mengawali perjalanan dan tantangan yang sesungguhnya di tanah Jakarta, tepatnya Bandara Soekarno-Hatta, pada 11 Januari 2015 kami bertigabelas pertama kalinya benar-benar berkumpul dan berjumpa untuk saling menguatkan serta bekerja sama demi belajar mengabdi pada masyarakat. MasyaAllah, so amazing! Karena pertemuan kami selama beberapa bulan sebelumnya tidaklah pernah lengkap, selalu ada yang tidak bisa hadir.

Alhamdulillah perjalanan kami lancar dan diberkahi Allah Swt. Hujan rintik-rintik menyambut kedatangan kami setibanya di Bandara Hanandjudin, Tanjung Pandan yang kami lalui dengan maskapai penerbangan Citilink. Juga Pak Tomi yang dengan baik hati menjemput dan mengantar kami ke Desa Baru, Manggar.

Tak banyak yang bisa kami lakukan pada hari pertama tiba di Belitung Timur. Hanya tata-tata barang bawaan dan belanja kebutuhan rumah tangga sehari-hari, seperti ember cuci baju, gantungan baju, lap pel, hingga keset. Kemudian, kami mencoba masakan khas Belitung, yaitu Gangan Ikan, bersantan degan bumbu kunyit yang gurih, enak, namun ringan.


Ada Alfian, Lulu, Uli, Randy, Opal, Ruslan, Pampam, Farras, Fhiky, Adi, Ica, David, dan aku. Tiga belas manusia yang manusiawi yang ditakdirkan Allah Swt. berjumpa dan melalui banyak kisah bersama. Canda dan tawa bahagia, ejekan sayang, perhatian, konflik kecil, sampai pembelajaran yang berujung kerinduan, semua coba kami lalui dengan manusiawi. No body's perfect, but we can be family :)


#KKNCERIA  #KKNUNS2015  #BelitungTimur


Jumat, 19 Juli 2013

Orang yang Menyayangimu Itu Pasti Ada Di Sekitarmu

     Yaa, orang yang menyayangimu pasti ada di sekitarmu. Hanya saja, seringnya, kita terlalu sibuk dengan diri sendiri hingaga tidak menyadari kehadirannya dengan segala kasih sayangnya untuk kita.

     Itu juga lah yang beberapa kali aku rasakan. Beberapa tahun yang lalu, ketika aku masih berada di bangku kelas 3 SMA (kelas XII), aku baru sadar bahwa teman baikku benar-benar menyayangiku. Sayangnya, hal itu aku ketahui justru ketika aku mengecewakan mereka. Pertengkaran itu terjadi, perang dingin. Aku terlalu sibuk dengan hal lain dan tidak mau mencoba untuk introspeksi diri mengenai penyebab perang dingin tersebut. Begitupun mereka, segan untuk berbicara jujur, males duluan lebih tepatnya. Hal itu terus berlanjut, hingga akhirnya teman-teman yang mencoba netral mencarikan pihak ketiga untuk menjadi penengah dan fasilitator untuk mencapai keharmonisan kembali.
     Saat itu lah kemudian aku terpukul dengan kalimatnya diantara kalimat perdebatan yang saling membela diri, "aku sayang kamu. kita sayang kamu"
    Dan kemudian, sampai saat ini, aku menyesal harus mendengarnya diwaktu aku menyakiti hati mereka. Aku menyesal, kenapa tidak dari awal menyadari dan memperhatikan keberadaan mereka dengan segala kasih sayang mereka padaku.
     Kemudian, ketidakpekaanku terulang. Beberapa bulan lalu aku berkenalan dengan seorang teman dengan segala kebaikan hati dan semangatnya untuk berbagi. Kami jadi sering bertemu karena takdir, berada dalam satu lembaga yang sama. Awalnya, aku merasa tak ada yang spesial darinya selain ia yang menunjukkan ketertarikan padaku di tiga hari pertama pertemuan kami, yaa dengan gaya khas anak zaman sekarang yang suka TP (tebar pesona) dan sok perhatian.
    Tapi, seiring berjalannya waktu, aku memperhatikan dia. Yaa, ternyata dia memang orang yang perhatian, bahkan hampir ke semua orang yang berada dalam lembaga yang sama dengannya. Dan yang paling membuatku sadar bahwa dia menyayangiku adalah dia memperhatiakn setiap perubahan yang terjadi pada ekspresiku, juga ketidakrelaannya ketika aku dijodoh2kan (meski cuma bercanda) pada orang yang dianggapnya kurang baik. Hahaha.. thank's :)
     Begitu juga dengan teman-teman di psikologi UNS. Mereka benar-benar menunjukkan rasa saling sayang itu. Mereka memang orang-orang luar biasa. Dari mereka, aku belajar banyak hal, bahwa rasa sayang itu memang sebaiknya ditunjukkan dengan cara masing-masing. Hingga akhirnya, aku tak pernah merasa sendiri di psikologi UNS, selalu ada saja yang menyapa, memuji, menegur, mengkritik, mengajak, bahkan ada pula yang selalu menyemangati. Big hug for my family, psikologi UNS :)

Rabu, 19 Juni 2013

Keluarga Kedua Itu Bernama Psikologi UNS

     Subhanalloh, alhamdulillah aku punya teman-teman yang luar biasa. Mereka tetap memberi semangat padaku di saat mereka juga mengalami lelah dan jenuh dengan tugas kuliah yang sama dan aktivitas lain yang banyak. Seperti tadi, saat aku sudah amat jenuh dengan tugas (kelompok) laporan eksperimen yang tak kunjung tuntas, mereka mengingatkanku untuk sabar dan tetap semangat. Padahal, Lulu Deddy dan April pun baru saja menyelesaikan tugas (kelompok) psikologi kesehatan, membuat poster. Erik baru aja selesai melakukan tugas (kelompok) kesehatan mental, penyuluhan. Yaa, padahal, mereka juga sama lelahnya denganku, dan mungkin mereka juga sama jenuhnya denganku. Tetapi, dengan sabar, mereka mengingatkanku untuk sabar dan tetap semangat.

     Dan lagi, waktu kepanitiaan Seminar Nasional Psikologi Islam beberapa hari lalu (acaranya berlangsung), banyak orang menyampaikan simpatinya sama aku. Erik juga nawarin banyak bantuan. Banyak semangat  diberikan oleh teman2 senior2 dan juga dosen. Juga banyak permintaan maaf aku terima dari koor sie di kepanitiaan karena masalah internal kepanitiaan, menyalahkan diri sendiri atas kesalahan orang lain. Aku terharu, tapi juga ngga enak hati. Dibandingkan aku, para koor sie lebih berat lagi bebannya.

     Oleh karena itu, aku selalu menjadi orang yang menunjukkan ketegaran dan menawarkan bantuan pada mereka. Meski akhirnya aku tak banyak membantu tugas teknis mereka, tapi setidaknya aku selalu berusaha meyakinkan mereka bahwa mereka sudah memberikan yang terbaik buatku, buat diri mereka, dan buat orang lain.

     Tak ada air mata yang aku tunjukkan ketika mereka merasa sedih dan hopeless. Aku berusaha tak menunjukkan lelahku ketika mereka terlihat lelah dengan perjuangan mereka. Aku berusaha tidak menyalahkan diriku atau pun mereka ketika ada hal-hal di luar prediksi terjadi, tapi mengajak mereka berevaluasi bersama. Meski diri ini, nyatanya, menyalahkan diri sendiri atas kelalaian sehingga tidak memprediksi hal terburuk, tidak berani menyatakan keraguan atas optimisme yang dibangun.

     Hingga akhirnya, air mata ini luruh saat SC menyatakan permohonan maaf dan memberi semangat. Cukup sudah aku menahan diri untuk menguatkan orang-orang yang merasa dirinya bersalah. Cukup sudah aku mendengar banyak orang menyatakan diri bersalah. Padahal, sejatinya, kesalahan itu paling banyak berada di tangan ini, yang dengan semena-menanya menyatakan optimisme, yang dengan semena-menanya menyatakan idealisme pribadinya bahwa semua akan baik-baik saja, yang dengan semena-mena bersombong dengan kesuksesan yang selama ini di raih.

     Akan tetapi, tak ada yang dapat disampaikan dengan kata-kata. Biarlah air mata ini yang berbicara bahwa aku juga manusia, bukan tempat dimohonkan maaf. Aku juga manusia yang sepatutnya di kritik atas kinerjaku sebagai ketua panitia. Dan lagi, jika aku bersuara, maka acara hari itu tak akan berakhir dengan evalusi dan komitmen bersama.

     Terima kasih teman, aku banyak belajar karena kalian menyertaiku dan melangkah bersamaku menapaki jalan kehidupan yang belum terlihat ujungnya ini kawan.

     Tetap semangat, dan saling menyemangatai. Jangan pula pernah lelah untuk belajar dan menebar kebaikan :)

Rabu, 16 Januari 2013

Bukan Pertarungan A VS B #Opiniku2

       Satu semester kemarin (semester 3) aku adalah mahasiswa tergalau di angkatanku dan kampusku. Kenapa begitu? Karena hanya aku yang mondar-mandir kelas, antara penghuni kelas A dan kelas B (biasanya kelasnya tetap jika mata kuliahnya masih mata kuliah wajib. Dan semester 1 s.d. semester 3 itu  mata kuliah wajib semua). Jika mata kuliah statistika (banyak yang pindah kelas) dan klinis-asesmen (kelas digabung) tidak dihitung, 2 mata kuliahku berada di kelas A, dan di kelas B 3 mata kuliah. Temanku sering tanya, "kamu mata kuliah ini di kelas mana sih?" atau "kita satu kelompok ga sih?" (biasanya ditanyai sama temenku yang udah biasa satu kelompok) bahkan aku sering terlupakan saat akan menyusun jadwal mentoring karena hanya aku yang beda jadwal kuliahnya.
       Jika sedikit flashback saat awal aku tahu aku di-PHP-in (Pemberi Harapan Palsu) sama universitas, tiba-tiba kelasku jadi B semua padahal aku pilih kelas A semua saat isi KRS online, kemudian setelah beberapa hari pengesahan KRS tiba-tiba berubah lagi jadi ada beberapa mata kuliah yang di kelas A dan bentrok dengan beberapa kuliah di kelas B. Harus ngelobi dosen, sendirian, supaya bisa stay di kelas B untuk jenis mata kuliah yang dosennya sama dengan kelas A. Hahaha.. pokoknya, sampai sebelum revisi KRS, aku adalah mahasiswa tersibuk dan tergalau masalah kelas dan lobi-lobi dosen. jadi sering di-puk-puk sama temen-temen, sama ketua kelas A; ketua kelas B, hingga ketua tingkat --"
       Eh? kenapa jadi ngelantur ya? hehehe 
       Sekarang aku mau bahas mengenai opiniku setelah satu tahun full sebagai penghuni kelas A, dan kemudian satu semester jadi amphibi (hidup di dua tempat, kelas A dan kelas B). Banyak teman-teman di kelas B yang nanya, "gimana rasanya di kelas B?" atau "enakan di kelas A atau di kelas B?" atau "apa sih bedanya kelas A dengan kelas B yang kamu rasain setelah kamu di kelas B?" dan berbagai pertanyaan hampir sejenis lainnya. Begitu pun teman-teman kelas A. Banyak yang nanya, "kelas B beda banget yaa sama kelas A?" atau pernah ketua kelas A  bilang "kamu pasti akan ngerasain bedanya aku sama Seta (ketua kelas B)" atau bahkan ada juga yang bilang "kelas B pada pinter-pinter ya? Asdos sering bandingin kita sama kelas B"
       Kebanyakan pertanyaan itu dilontarkan saat awal semester 3. Pada saat itu (sampai sekarang juga sih, cuma sekarang udah ada tambahannya, yaa lumayanlah bisa mengenal dan menilai setelah satu semester jadi penghuni baru kelas B) jawabanku simpel dan objektif (menurutku), "yaa, tiap kelas punya kelebihan dan kekurangan. Kalo ditanya bedanya, pasti ada bedanya kan orang-orangnya aja beda. Kalo ditanya enakan yang mana, dua-duanya enak. Kan punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Intinya, nikmatin aja proses di dalamnya" (kurang lebih aku bilang begitu).
       Akan tetapi, semakin hari aku semakin sadar bahwa keduanya memang berbeda, bahkan bisa dibilang amat berbeda. Keduanya punya pemimpin (ketua kelas) yang berbeda, keduanya terdiri dari orang-orang yang berbeda sehingga keduanya sudah pasti berbeda. Keduanya memiliki kelebihan yang saling diirikan oleh keduanya. Kelas A selalu iri dengan kelas B yang terlihat menonjol dan sering dibicarakan oleh dosen maupun asdos. Kelas B selalu iri dengan rajinnya kelas A. Dan yang lucu lagi adalah keduanya sama-sama iri mengenai tetangga yang mereka kira lebih kompak.
       Kenapa aku bilang lucu? Ya karena keduanya mengirikan hal yang sama. Kalau begitu, siapakah yang sebenarnya lebih kompak? Who knows!
       Hahaha... intinya, kita ada dan berbeda bukan untuk bertarung, tapi untuk sama-sama berjuang; sama-sama belajar; sama-sama mencari ilmu; dan sama-sama berusaha menjadi lebih baik serta bermanfaat bagi sekitar :)

Rabu, 28 Maret 2012

Kebersamaan yang Tak Pernah Hilang

Nggak terasa dua tahun telah berlalu sejak aku lulus SMA. Meski aku sudah kuliah tahun pertama, tapi rasanya, bayang-bayang masa lalu, masa-masa SMA, masih melekat dalam ingatanku. Kerinduan pada teman-teman SMA sering hadir dalam sepiku.

Padahal, saat SMA aku tidak terlalu merindukan teman-teman SMP-ku. Mungkin inilah mengapa banyak orang yang mengatakan, “masa-masa SMA adalah masa paling indah dan tak terlupakan”. Ya, kuakui memang benar. Banyak yang aku sadari, banyak yang aku pelajari, banyak yang aku lalui di masa SMA. Susah, senang; canda, tawa; tangis bahagia; persahabatan; kekeluargaan; cinta; perselisihan. Semua aku alami di masa SMA. Aku lebih senang menyebutnya, masa-masa yang kompleks dan penuh konflik.

Hahaha.. kadang aku sering bertanya, “wajarkah aku sering merindukan mereka? Rasanya, mereka biasa-biasa saja. Adakah mereka juga merindukan masa-masa itu?” Kadang pula aku berpikir, “adakah sebuah kesalahan tak termaafkan yang pernah kulakukan semasa SMA hingga menimbulkan bekas di hati teman-teman, guru-guru, dan sahabat-sahabatku? Adakah yang terhindarkan dariku sehingga suatu saat nanti dapat menimbulkan penyesalan dalam diriku? Adakah ketidaksengajaan yang kulakukan menimbulkan kesalahpahaman hingga hari ini?”
Entahlah. Pertanyaan-pertanyaan itu sering muncul dalam benakku. Tapi, tentu pula banyak rasa syukur yang aku hanturkan. Aku bersyukur saat aku duduk di kelas X, banyak cerita dan pengalaman yang sempat kuabadikan dalam sebuah catatan harian. Hingga saat kubaca, aku sadar bahwa aku memiliki teman-teman yang begitu luar biasa peduli pada teman-teman sekelasnya. Dan ada pula sebuah kenangan yang luput dari ingatanku, meski sebenarnya sudah bertekad tak akan melupakannya (tapi ingatan tidak juga dapat selalu diandalkan), kenangan yang sayang sekali jika dulu tak pernah kucoba untuk menuliskannya.

Kemudian, aku juga bersyukur memiliki keluarga di Rohis, tapi sayangnya kebersamaanku dengan mereka tak pernah kuabadikan sehingga banyak hal terlupakan. Mungkin hal ini pula yang harus jadi pemicu untuk memulai kembali mencoba mengabadikan hari-hari yang kulalui ke dalam catatan harian. Aku juga jadi yakin, gak akan rugi dan malah bermanfaat jika mau mencoba lagi.

Semangat!! p^^q

Oia, aku ucapkan banyak rasa terima kasih untuk teman-teman SMA-ku, khususnya: BlackList yang udah banyak memberi banyak kenangan, terutama berkat kalian kita banyak kena masalah sama guru :D, kalian juga yang paling senang gangguin aku; Geliga yang udah bareng-bareng bikin film yang bagus (meski susah juga ngumpulin temen-temen buat mulai syuting). Hahaha.. maaf kalo aku gak bisa acting, jadi banyak salah di aku :D; Twitter yang selalu mencoba mengerti satu sama lain karena kita berkumpul pada masa-masa tersulit dan lebih memfokuskan diri pada jenjang selanjutnya sehingga terkesan lebih individualis; Rohis yang sudah menawarkan suatu bentuk persaudaraan, serta kekeluargaan yang begitu luar biasa, tapi sayang aku tidak sempat mengabadikan kebersamaan kita sehingga banyak pula yang terlupakan, maaf.

Yang terakhir, terima kasih atas kebersamaan ini sehingga hari-hariku bersama kalian selalu penuh warna. Awalnya, kupikir, kebersamaan itu telah hilang, tapi ternyata hanya tak terdeteksi dalam ingatan jangka panjangku. Sehingga aku berdoa, semoga rasa kebersamaan itu tak akan pernah hilang ditelan waktu ;)

Rabu, 05 Januari 2011

Bersama dengan Berlalunya Waktu

Saat ini, saat kami semua telah terpisahkan oleh jarak dan waktu, aku baru sadar tentang makna kehadiran mereka dalam hari-hariku.
Ya, aku baru menyadarinya..
Menyadari bahwa ternyata mereka sangat berarti.

Tak ada sedikit pun rasa kesalku pada mereka yang masih tertinggal di hati..

Kebersamaan dengan mereka..
Senyum bahagia mereka..
Perhatian indah mereka..
Bahkan, ledekan iseng mereka pun selalu teringat..

Kenangan itulah yang selalu terpatri dalam ingatanku..
Kenangan itulah yang membuatku merasa kehilangan mereka..

Sahabat..
Walau jarak dan waktu telah memisahkan kita..
Semoga kita dapat selalu bersama..
Bagai buket bunga mawar indah yang tak akan pernah layu ;)


Jakarta, Agustus 2010

Kamis, 29 Juli 2010

Sudah berapa banyak orang yang bilang jaket cokelat-ku jelek banget.. 
entahlah..
aku juga gak suka sama jaket itu..
jahitannya gak bagus, bahannya juga kasar..
kemahalan lagi..
kata om (karyawan bapakku) "ah, jaket kaya gitu mah berani dah om kasih harga 90 ribu"
what?? aku beli itu harganya 110 ribu.. ckckck...
bener-bener bikin kecewa banget..
padahal sebelumnya aku udah bilang sama temen-temen buat pesen jaket di aku aja
tapi aku emang gak mau ngurusin masalah bahan dan harganya, soalnya kan yg punya selera mereka,, nanti kalo pake seleraku gak ada yg mau lagi..
udah gitu mereka protesnya banyak, terutama yg cowok..
kan bikin males.. 
skalinya ngurus,, jatohnya ngecewain banget :(


yah, karena sayang sama uang 110 ribu,, akhirnya tetep aku pake, tapi jarang banget

Kamis, 02 April 2009

Hidayah Itu Datang

Saat ini, aku adalah seorang anak SMU. Saat ini alhamdulillah aku sudah memakai hijab (Jilbab). Awalnya, aku niat tuk berjilbab ketika akan masuk SMU karena ikutan kakak, saat itu aku masih kelas 1 SMP.
Oia, aku adalah seorang murid yang lumayan taat peraturan sekolah. aku jarang ditegur oleh guru karena masalah kerapihan seragam. Nah, sejak aku kelas 5 SD, sekolahku mewajibkan seragam muslim setiap hari jumat. Jadilah tiap jumat aku memakai seragam muslim + kerudung tentunya :)
Itulah kehidupanku dengan pakaian muslim. Hanya pada hari jumat saja atau hari2 besar Islam , seperti Idul Fitri.

Setelah kakakku memakai jilbab, aku jadi semakin tau tentang kewajiban memakainya. Akupun jadi semakin tau bagaimana seharusnya seorang perempuan muslim berperilaku. Meskipun saat itu baru pngetahuan dasarnya yang aku dapat dan belum aku aplikasikan dalam khidupn shari2, tp setidaknya aku sudah mengetahuinya. Oleh karena itulah, aku jadi semakin mantap untuk memakai jilbab saat SMU nanti. Tentunya, masih dengan alasan karena ingin ikutan kakak :D

Hingga pada suatu hari, saat itu hari jumat, aku pulang sekolah seperti biasa. Karena saat itu aku sudah duduk di bangku kelas 2 SMP, maka aku pulangnya siang hari. Aku selalu pulang naik angkot dan disambung dengan berjalan kaki sampai rumah. Saat itu, aku berjalan sambil merenungkan kembali tujuan dan niatku tuk memakai jilbab. Lalu, tiba-tiba terlintas dalam pikiranku rasa malu terhadap Allah. Aku merasa malu karena,, saat ini aku memakai baju muslim, tapi esok?? baju muslim itu sudah tak kupakai lagi. Dan baru akan kupakai lagi saat hari jumat depan. Aku malu pada Allah karena,, sudah tau kewajiban tuk berjilbab, tapi masih juga belum aku jalani; Sudah tau itu wajib, tapi masih nunggu nanti SMU; Sudah tau itu wajib, tapi masih juga punya niat pake karena ikutan kakak.

Dari situlah aku mulai merenungkan pikiran selintasku itu. Hingga akhirnya,, aku memutuskan tuk secepatnya berjilbab. Aku konsultasi sama orang tua. Awalnya ortuku agak ragu sama pilihanku yang mendadak (karena sebelumnya aku bilang mau pake jilbabnya nanti setelah masuk SMU). Mereka juga agak sedikit menentang dan menyarankan tuk memakai jilbab saat SMA saja. Tapi,, alhamdulillah,, akhirnya mereka mengerti dan melihat kesungguhanku. Dan mereka pun meridhoi dan mendukung aku tuk mulai berjilbab :)

akhir kata aku ucapin:
Thank's to Allah karena telah memberikan hidayahNya padaku tuk berjilbab. Bukan karena lagi ikutan kakak :D
Thank's to meine Eltern karena telah mendukungku dalam berhijrah (berjilbab) -Ich liebe Ihnen ^^-
Thank's to my older sister karena,, tanpa dirimu tuk memulai memakai jilbab, maka aku gak tau apakah aku akan/ telah berjilbab saat ini.