Cinta itu adalah
Ketika kita selalu mengingat seseorang,
tapi seseorang itu sama sekali tidak mengingat kita
Kita tetap selalu yakin atas cinta kita
Cinta itu adalah
Ketika kita selalu menjadi yang pertama peduli
selalu menjadi orang terakhir yang menyerah
Meski seseorang tersebut tidak tahu
Kita tetap selalu yakin atas cinta kita
Tidak berkurang walau sejengkal
Cinta itu adalah
ketika kita mengorbankan apapun milik kita
Tanpa berharap seseorang akan membalasnya
Kita tetap bersedia melakukannya
Tidak berkurang rasa cintanya
Cinta itu adalah
Ketika kita selalu lirih menyebut namanya dalam doa
Meski seseorang itu sedang tidur, jauh, bahkan tidak menyadarinya
Kita tetap berharap yang terbaik
Tidak berkurang keyakinan kita
Itulah cinta yang sejati
Tidak perlu jauh-jauh mencarinya
Cinta seperti ini ada pada Ibu kita
Baca ulang sajak ini dari awal, sambil membayangkan Ibu kita
semoga paham hakikat cinta yang baik.
*Tere Lije
Love you mom :*
I hope, someday, I will be a great mother with great love for my family and my children
:)
Jumat, 13 September 2013
Rabu, 11 September 2013
Program Hebat untuk Generasi Hebat di Indonesia
September 4, 2013 at 12:18am
Bulan kemarin, tepatnya tanggal 23-25 September 2013 Badan Bidang Nasional (Banbidnas) ILMPI bertandang ke Solo sebagai tindak lanjut dari program kerja Gemaperak (Gerakan Mahasiswa Peduli Orang Tua dan Anak) yang telah disepakati sebelumnya pada Rakernas ILMPI III, 27-30 Juni 2013 di Semarang. Selain Banbidnas, disana kami pun dibantu oleh kawan-kawan dari Rumah Hebat Indonesia dan ILMPI Wilayah III Jawa Tengah dan Kalimantan.
Tindak lanjut dari program Gemaperak ini adalah berupa RT Ramah Anak yang dilaksanakan di Rejosari RT 03 RW 15, Kelurahan Gilingan, Kota Surakarta. Beberapa pertimbangan dipilihnya wilayah tersebut sebagai tempat berlangsungnya program karena RT 03 merupakan daerah padat penduduk yang terletak di daerah aliran sungai (DAS) Kali Anyar Solo dengan populasi anak-anak lebih banyak daripada RT lain dilingkungan RW 15. Pun , disana telah berdiri Rumah Hebat Indonesia (RHI) yang sudah menjadi bagian dari kehidupan anak-anak disana.


Untuk diketahui, rumah yang digagas oleh kawan-kawan UNS dan ILMPI wilayah III Jawa Tengah dan Kalimantan ini, menyelenggarakan berbagai kegiatan untuk anak-anak, seperti kelas Bahasa Inggris,perkusi, teater, fotografi, tari, film hebat, melukis, dan disana pun terdapat perpustakaan yang cukup lengkap.
Program RT Ramah Anak ini dapat dikatakan memiliki urgensi, karena menurut Data Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mencatat 2.637 kasus kekerasan terhadap anak selama tahun 2012. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.075 kasus diantaranya adalah kekerasan seksual, kekerasan fisik 819 kasus, dan kekerasan psikis sebanyak 743 kasus. Dari data tersebut dapat kita lihat bagaimana generasi-generasi hebat harapan bangsa sedang bertumbuh dilingkungkan yang “kurang aman”. Untuk itulah, kami mulai menggagas sebuah lingkungan yang aman & nyaman untuk perkembangan anak-anak: RT Ramah Anak.
Mengapa RT? Karena cakupannya lebih kecil sehingga efektivitas kontribusi program ini bisa cukup mudah dikontrol maupun dievaluasi. Program ini merupakan program jangka panjang, semua elemen masyarakat di Rejosari dilibatkan dan diberdayakan. Mulai dari pemberdayaan terhadap anak hingga para orang tua disana. Bekerjasama dgn Karang Taruna Rejosari, sehingga diharapkan program ini berkelanjutan & dapat dikelola oleh masyarakat sendiri.



Selama 3 hari di Rejosari kami (Banbidnas) dengan dibantu oleh kawan hebat dari Rumah Hebat Indonesia dan ILMPI Wilayah III Jawa Tengah dan Kalimantan, berkenalan dengan beberapa warga, melakukan wawancara, dan mengobservasi lingkungkan. Dengan ini kami dapat merumuskan program-program apa saja yang cocok untuk dikembangkan di wilayah tersebut, mulai dari program untuk anak-anak hingga para orang tua di sana.
Setelah merumuskan beberapa program, kami berudiensi dengan pihak Kelurahan Gilingan. Diharapkan dengan audiensi ini, dapat mengajak Pemerintah Kota Surakarta untuk ikut bersama-sama mensukseskan program ini. Bahkan kami pun berencana untuk mengajak Kementerian Pemberdayaan Perempuandan Perlindungan Anak.Semoga langkah ini dapat berpengaruh positif untuk generasi-generasi hebat di Indonesia kelak & akan banyak wilayah ramah anak lain di Indonesia. Salam Generasi Hebat!
Written by : Gusti Reza (Badan Bidang Nasional ILMPI 2013-2014)

https://www.facebook.com/notes/dita-permatasari/program-hebat-untuk-generasi-hebat-di-indonesia/3378722682785
Mimpi Kami dari Rejosari untuk Indonesia
September 11, 2013 at 7:27pm
”We are guilty of many errors and faults, but our worstcrime is abandoning our children, neglecting the fountain of life. Many of thethings we need can wait. The child can not. Right now is the time his bones arebeing formed, his blood is being made and his senses are being developed. Tohim we cannot answer “Tomorrow”. His name is “Today”.
(Gabriela Mistral Pemenang Nobel Sastra 1945)
Hampir tak ada yang menyangkal bahwa anak adalah titipan dari Sang Maha Kuasa yang sudah sepatutnya dijaga dan dikasihi. Jumlah anak Indonesia (0-18 tahun) menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2006 mencapai 79,8 juta anak. Ironisnya,kekerasan terhadap anak di Indonesia sepertinya masih menjadi momok yang menghantui mereka. Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mencatat dalam semester I di tahun 2013 atau mulai Januari sampai akhir Juni 2013 ada 1032 kasus kekerasan anak yang terjadi di Indonesia. Dari jumlah itu kekerasan fisik tercatat ada 294 kasus atau 28 persen, kekerasan psikis 203 kasus atau 20 persen dan kekerasan seksual 535 kasus atau 52 persen. Ini adalah fakta yang sangat mengkhawatirkan, terlebih terdata 52 persen 1032 kasus kekerasan itu adalah kekerasan seksual. Padahal Undang-undang perlindungan anak sudah menjadi hal yang tidak asing lagi di telinga kita.
Menurut Karen Horney, tokoh psikoanalisa sosial, rumah yang hangat dan penuh kasih bisa memungkinkan seseorang untuk menghindari kecemasan neurotik dan konflik. Ia juga percaya bahwa aspek tertentu dari masyarakat kita menciptakan konflik yang intens seperti itu dan mereka perlu banyak"istirahat" untuk menghadapi tantangan menjadi orang yang sehat. Dalam hal ini, kekerasan terhadap anak jelas mendekatkan anak pada kecemasan neurotik yang mungkin saja berproses terus menerus secara sporadis hingga membuat masalah kecemasan dasar dan permusuhan dasar semakin menguat. Tak ada alasan untuk menyangkal bahwa penyelamatan anak dari kekerasan mutlak dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat termasuk mahasiswa.
Menurut hasil penelitian UNICEF 2013, anak yang sering dimarahi orang tuanya, apalagi diikuti dengan penyiksaan, cenderung meniru perilaku buruk (coping mechanism) seperti bulimia nervosa (memuntahkan makanan kembali), penyimpangan pola makan, anorexia (takut gemuk), kecanduan alkohol dan obat-obatan, dan memiliki dorongan bunuh diri. Semakin jelaslah bahwa kekerasan pada anak bukanlah tindakan yang tepat yang dilakukan oleh siapapun.
Perlu disadari bahwa kekerasan terhadap anak bukanlah permasalahan yang sederhana. Kemiskinan dan kurangnya pengetahuan tak jarang menjadi faktor lain yang dapat melatarbelakangi terjadinya kekerasan terhadap anak. Oleh karena itu, solusi komprehensif sangat dibutuhkan untuk memecahkan permasalah ini.
Tegakah kita hanya diam dan membiarkan kekerasan terhadap anakterus menerus terjadi?
Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia (selanjutnya disebut ILMPI) bersama Rumah Hebat Indonesia (selanjutnya disebut RHI) telah berupaya mengawali langkah untuk meminimalisir angka kekerasan terhadap anak di Indonesia. Sebuah program jangka panjang bernama RT Ramah Anak diharapkan bisa menjadi salah satu solusi efektif untuk mencapai tujuan yang telah disebutkan sebelumnya.
Bukanlah perjalanan yang singkat hingga program ini tersusun denganbaik. Kami, mahasiswa psikologi Indonesia yang tergabung dalam ILMPI telah melewati tahapan panjang demi mendapatkan formula yang tepat untuk mengatasi permasalahan sosial ini. Mulai dari mengadakan seminar Gerakan Mahasiswa Peduli Orang tua dan Anak (Gemaperak), seminar nasional 'Saving Children for Saving Indonesia' hingga audiensi ke Kementerian Sosial Republik Indonesia. Akhirnya, di tahun 2013 program RT Ramah Anak ini berhasil kami mulai.
Seperti yang disebutkan sebelumnya, permasalahan kekerasan terhadap anak adalah permasalahan yang kompleks. Oleh karena itulah kami bekerjasama dengan Rumah Hebat Indonesiauntuk membersamai program ini.

Dari sekian banyak daerah di Indonesia, di RT 03 Desa Rejosari, KecamatanNgemplak, Kelurahan Gilingan Kota Surakarta inilah program RT Ramah Anak ini akan kami laksanakan. Mengingat banyak kegiatan yang telah dilaksanakan oleh rekan-rekan RHI dan ILMPI di RT ini. Berbagai pendekatan dan pengambilan data pun sudah kami lakukan untuk menyusun program-program pemberdayaan masyarakat yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat RT 03 Rejosari. Selain itu, masyarakat tidakhanya dijadikan sebagai objek pemberdayaan, melainkan sebagai subjek dan mitra dalam pelaksanaan pemberdayaan.
Program ini tidak akan berjalan lancar tanpa kerjasama berbagai pihak, termasuk kerjasama kita sebagai mahasiswa psikologi untuk mengaplikasikan ilmu yang kita miliki. Ini adalah tindakan kecil kami untuk Indonesia. Mohon doa dari teman-teman semua agar pelaksanaan program kerja ini lancar dan mencapai hasil yang diharapkan. Semoga sinkronisasi program dengan pemerintah Kota Surakarta dan audiensi dengan Kementerian Sosial Republik Indonesia yang kesekian kalinya ini bisa membuahkan hasil yang menyenangkan. Amin
Masihkah kau hanya memutuskan untuk diam dan mencaci kegelapan?
Salam Hangat,
Badan Bidang Nasional 2013-2014
Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia
https://www.facebook.com/notes/arrizqiya-aulia/mimpi-kami-dari-rejosari-untuk-indonesia/10151823404269931
Rejosari Untuk Indonesia
April 28, 2013 at 5:24am

Adalah sebuah program pengabdian masyarakat yang diusung Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia dimana bersinergi dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia serta RumahHebat Indonesia dalam GEMAPERAK (Gerakan Mahasiswa Peduli Orang Tua dan Anak).
Melalui proses yang tidak sebentar, saat ini kami sedang memperjuangkan khittah sebagai pemuda dalam langkah nyata untuk masyarakat. Memperjuangkan sebuah keilmuan yang ditakdirkan hidup untuk menghidupi, yaitu Psikologi. Membuktikan bahwa kami tidak hanya sekadar menuntut perubahan, tapi menjadi lakon dan bergabung dalam perubahan tersebut. Perjalanan panjang dari tahun 2011, akhirnya mengalami titik terang. Bermula dari sebuah seminar nasional bertema kesehatan mental anak di Surakarta. Menyadari tentang pentingnya anak demi masa depan Negeri ini. Menggugah hati kami untuk tidak hanya sekedar menjadi penonton dan terbuai pada fenomena sosial yang dialami oleh anak-anak Indonesia di era globalisasi sekarang. Ya, Bersedih dan berempati saja tidak cukup. Perlu sebuah tindakan, dimana tidak hanya dilakukan oleh perseorangan. Namun bersama-sama dan serentak seluruh Indonesia.Berdasarkan pemikiran dan semangat itu, maka muncullah GEMAPERAK (GerakanMahasiswa Peduli Orang Tua dan Anak) yang menjadi salah satu cara untuk mewujudkan mimpi kami bersama, Indonesia Tersenyum.
Berbekal keyakinan atas landasan gerakan yang telah diinisiasi. Kami pun melakukan tahapan demi tahapan hingga tahun 2013. Menularkan semangat dengan berbagai cara, seperti yang dilakukan oleh teman-teman ILMPI Wil II dengan seminar-seminar tema ke-parentingan. Bakti Sosial yang juga akan dilaksanakan oleh rekan ILMPI Wil III dimana mengumpulkan buku bacaan terkait anak dan orang tua untuk pendirian Taman Bacaan Masyarakat, workshop parenting dan lomba keluarga masyarakat Rejosari. Begitu pula, merangkul semua pihak padadiskusi atau audiensi untuk bergerak bersama dalam GEMAPERAK. Kami mendapatkan begitu banyak masukan serta ranahan konsep program dengan berdiskusi kepada beberapa stakeholder yang memiliki kepentingan terhadap anak Indonesia. Diskusi tersebut bermula dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI di tahun 2011, dilanjutkan dengan Komisi Perlidungan Anak Indonesia,Komnas Anak dan Kementerian Sosial pada tahun selanjutnya hingga sekarang.
Tanggal 16 Maret 2013 lalu, Ikatan Lembaga Mahasiswa PsikologiIndonesia kembali menggaungkan GEMAPERAK dengan Seminar Nasional yang bertajuk “Save Our Children for Saving Indonesia” dengan dihadiri oleh semua yangberkepentingan dalam dunia anak Indonesia. Namun, kali ini lebih dahsyat.Karena bersamaan dengan kegiatan besar rutinnya ILMPI (Musyawarah Nasional)sehingga dapat dihadiri oleh 127 perwakilan mahasiswa Psikologi dari seluruhIndonesia. Perbincangan dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan danPerlindungan Anak memunculkan gagasan program Community Development. Misinya memang se-Indonesia, namunpelaksanaanya tidak serta merta dilakukan secara me-Nasional. Perlu adanya langkah-langkah yang berawal dari kecil hingga kemudian menjadi besar dan manfaatnya benar-benar terasa di masyarakat.
Bermula dari satu RT, program community development nantinya tidak hanya diperuntukkan kepada anak-anak saja,tetapi kepada orang tua dan remaja. Artinya, ketika berbicara terkait anak maka tidak bisa lepas dari segala unsur yang ada di masyarakat. Maka dari itu,diperlukan kolaborasi program dimana memiliki keterkaitan satu dengan lainnya.
Kolaborasi program yang telah disebutkan sebelumnya tadi akan dilaksanakan dalam bentuk penyuluhan atau pelatihan atau sosialisasi atau kegiatan tindakan langsung ke masyarakat,salah satu contohnya ialah Program Parentingke Masyarakat yang dilakukan secara konsisten. Ingat, Konsisten dan Berkala. Tentunya kami tidak berjalan sendirian, tetapi bersama dengan Pemerintah daerah setempat dan seluruh elemen masyarakat. Runtutan detailnya begini, pada tahun ini (2013) akan dilakukan Assassment awal terlebih dahulu. Pengukuran tersebut akan menjawab permasalahan serta kebutuhan dari masyarakat. Berdasarkan hasil, kami dapat menyusun program-program yang bersinergi dengan Pemerintah Daerah setempat. Ketika program tersusun maka kami berkesempatan untuk mempresentasikan ke Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Setelah mendapatkan persetujuandari Ibu Menteri, program-program yang disusun akan dimasukkan dalam anggaran dana Pemerintahan daerah setempat untuk tahun 2014. Pada tahun 2014, programdilaksanakan. Dan di akhir tahun 2014 akan dievaluasi dengan konten yang sama secara kuantitatif dan kualitatif sehingga dapat terlihat apakah terdapat pengaruhatau peningkatan atau perubahan dari sebelum maupun setelah diberikan program. Jika terjadi perubahan baik dan masyarakat merasakan manfaatnya maka hasil program yang telah dijalankan akan dipublish dalam tingkatan Nasional dan menjadi contoh wilayah yang lain. Sehingga pada tahun-tahun selanjutnya, wilayah-wilayah lain yang sudah siap secara program dan sumber daya manusia dapat melakukan hal yang sama.
Yap, begitulah kira-kira prosesnya. Panjang ya. Tak apa, mimpi besarharus diperjuangkan dengan cara yang tidak biasa, bukan? InsyaAllah jika semua teramanahkan dengan baik maka program ini akan memberikan manfaat yangbenar-benar nyata di masyarakat.
Lalu, Mengapa Rejosari??
Rejosari adalah daerah yang ditakdirkan untuk bertemu dengan kami.Hehe, memang seperti sedikit melankoli, tapi begitulah faktanya. Bukan untuk meng-unggulkan rejosari dan tidak memberikan kesempatan untuk daerah lain. Karena harapan kami tidak hanya untuk Rejosari tapi Indonesia. Namun, Rejosari memiliki potensi untuk dikembangkan. Melihat kondisi kepadatan rumah yang berdekatan tanpa batas pagar dimana memperlihatkan potensi kerekatan sosial antar warga, keberagaman model masyarakat mulai dari starata sosial hingga tingkat status ekonomi serta penerimaan yang cukup baik terhadap orang lain. Lagi-lagi, Rejosari ditakdirkan menjadi pengawal dari program nyata Gemaperak. Kami sangat yakin, masih banyak daerah lain di penjuru Negeri iniyang memiliki potensi luar biasa untuk diberdayakan.
Kemudian dalam pelaksanaanya, program Community Development atau orang awam biasanya menyebut dengan istilah desa binaan, membutuhkan sebuah tempat untuk menjadi pusat kegiatan yang akan dilakukan secara berkala dan konsisten tersebut. Mengapa kegiatan itu dipusatkan? Agar lebih mudah dalam merangkul masyarakat dan pengontrolannya.Beruntung, daerah Rejosari juga terdapat sebuah rumah pengembangan masyarakat yang diinisiasi dan diperjuangkan oleh sekelompok mahasiswa dimana memilikikesamaan visi dengan program ILMPI. Rumah tersebut bernama Rumah Hebat Indonesia atau disingkat dengan RHI. Rumah Hebat Indonesia bermaksud membersamai Ikatan Lembaga Mahasiswa PsikologiIndonesia khususnya Wilayah III (Jawa Tengah dan Kalimantan )untuk menggalipotensi yang dimiliki oleh masyarakat Rejosari.
Di Rejosari akan ada banyak kolaborasi ..
Kolaborasi harapan dan perjuangan ..
Di Rejosari pula kami menemukan Mimpi ..
Mimpi masyarakat untuk berdaya ..
Mimpi masyarakat mencetak generasi dahsyat ..
Mimpi masyarakat membangun Indonesia Hebat ..
Kedepan, dibutuhkan kontribusi siapapun untuk turut serta berjuang dalam mewujudkan misi dharma bakti ini. Karena kami menyadari. Kami tidak bisa mewujudkan cita mulia ini sendiri.
"Mari kita hebatkan Indonesia.."
"Dimulai dari Rejosari .."
---
Surakarta, 25 April 2013
Anis Diah Ayu Masita
Langganan:
Komentar (Atom)