Taylor (1986)
menjelaskan empat jalur yang berbeda:
1.
Jalur
Langsung
ð Rangsangan
Berlebih Kronis
Rangsangan berlebih kronis yang
disebabkan oleh stressor kronis dapat menyebabkan timbulnya penyakit jantung
kororner (CHD) à penyempitan pembuluh darah pada
otot-otot jantung, sehingga menghambat pengiriman oksigen dan zat makanan ke
jantung. Oksigen ke jantung yang terhambat menyebabkan infark miokardium (suatu
serangan jantung)
Terdapat kontribusi genetik untuk penyakit
jantung koroner: orang dengan riwayat penyakit jantung koroner dalam
keluarganya berisiko lebih tinggi mengalami penyakit jantung koroner pula. Penyakit
jantung koroner juga berkaitan dengan tekanan darah tinggi, kadar kolesterol
yang tinggi, diabetes, merokok, dan obesitas.
Hasil suatu penelitian menunjukkan bahwa
pria maupun wanita dalam pekerjaaan yang meminta tuntutan tinggi tapi disertai
kendali rendah memiliki risiko penyakit jantung koroner 1,5 kali lebih tinggi
dibandingkan pekerjaan lain (Karasek, dkk., 1981; Kkarasek, dkk., 1982)
Wanita bekerja, pada umumnya, dibandingkan
ibu rumah tangga, tidak lebih tinggi berisiko terkena penyakit jantung koroner.
Tetapi, ibu yang bekerja lebih besar kemungkinannya mengalami penyakit jantung.
Kemungkinan penyakit meningkat bersamaan dengan bertambahnya jumlah anak untuk
wanita yang bekerja, tapi tidak untuk ibu rumah tangga (Heynes & Feinleib,
1980).
Penelitian eksperimental dengan hewan
menunjukkan bahwa gangguan lingkungan social dapat menimbulkan patologi yang
mirip dengan penyakit arteri koroner (Manuck, Kaplan, & Matthews, 1986;
Sapolsky, 1990)
ð System
Kekebalan
Bidang riset baru dalam kedokteran
perilaku adalah psikoimunologi, yaitu penelitian mengenai bagaimana system
kekebalan tubuh dipengaruhi oleh stress dan variable psikologis lain.
Tidak ada parameter tunggal tentang
kualitas fungsi imun individual atau imunokompetensi. System imun adalah system
yang kompleks dengan banyak komponen yang saling berinteraksi. Sejumlah bidang
menyatakan bahwa stress mempengaruhi kemampuan system imun untuk melindungi
tubuh.
Penelitian terakhir menunjukkan bahwa system imun dan system
syaraf memiliki banyak hubungan anatomis dan fisiologis. Contohnya, peneliti
telah menemukan bahwa limfosit memiliki reseptor untuk sejumlah
neurotransmitter yang berbeda. Jadi, sel system imun tersebut mampu menangkap
pesan dari system saraf yang dapat mengubah kemampuan mereka. Salah satu
alasan adanya kaitan antara neurotransmitter dengan system saraf yang penting
adalah keadaan emosional negative (sebagai contohnya, kecemasan atau depresi)
dapat mempengaruhi tingkat neurotransmitter. Jadi, situasi stress dapat
mempengaruhi fungsi system imun hanya jika situasi tersebut menimbulkan keadaan
emosional yang negative.
2.
Jalur
Interaktif
Terdapat cukup banyak bukti bahwa hanya
jika situasi stress dan kepribadian berinteraksi satu sama lain, atau dengan
kerentanan biologis yang telah ada sebelumnya terdapat penyakit, penyakit akan
muncul (Cohen & Williamson, 1991). Tipe model interaktif ini sering
dinamakan sebagai model kerentanan stress, atau model diathesis stress
(diathesis adalah kerentanan atau predisposisi terhadap penyakit). Kerentanan
menjadikan individu peka terhadap gangguan tertentu, tetapi hanya terjadi jika
ia menemukan stress sehingga gangguan benar-benar berkembang.
Kerentanan biologis, seperti kerentanan
hipertensi atau diabetes, ditentukan secara genetic. Bagi sebagian orang,
kerentanan ini mungkin menyebabkan perkembangan penyakit jika individu itu
berhadapan dengan situasi stress kronis. Demikian pula stress mungkin tidak
benar-benar menyebabkan pertumbuhan kanker pada awalnya, tetapi penelitian
tumor pada tikus menyatakan bahwa stress dapat membantu perkembangan tumor yang
telah ada. Terakhir, penyakit mental
stelah suatu stressor mungkin lebih sering terjadi jika individu memiliki
kerentanan terhadap gangguan itu.
3.
Jalur
Perilaku Sehat
Jika kita merasa stress, kita sering
tidak memperhatikan diri kita sendiri secara baik. mungkin, kita cenderung lupa
makan dan mengudap junk-food; menjadi
sedikit makan atau bahkan tidak makan sama sekali. Orang yang stress mungkin
tidak melakukan kebiasaan olahraga normalnya dan menjadi sedentarik.
Jadi, stress dapat, secara tidak
langsung, memengaruhi kesehatan dengan menurunkan perilaku kesehatan positif
dan meningkatkan perilaku kesehatan negative.
4.
Jalur
Perilaku Sakit
Stressor menyebabkan sejumlah gejala
yang tidak menyenangkan: gelisah, depresi, lelah, gangguan tidur, gangguan
lambung. Sebagian orang menginterpretasikan gejala tersebut sebagai gejala
penyakit, dan mencari bantuan medis. Selanjutnya, perhatian yang mereka
dapatkan dari professional medis dapat memperkuat perilaku tersebut, artinya:
menjadikan mereka lebih sering untuk mencari perhatian medis saat gejala stress
muncul lagi di kemudian hari
Penelitian menyatakan bahwa orang dalam kedaan
stress lebih sering menggunakan pelayanan kesehatan dibandingkan orang yang
tidak dalam kedaan stress, walaupun mungkin mereka tidak dalam kedaan yang
lebih sakit (Cohen & Williamson, 1991; Gortmaker, Eckenrode, & Gore,
1982; Watson & Pannebaker, 1989)