Kamis, 15 Maret 2012

Mencoba Mengenalnya

Sepintas melihat puisi buatannya. Kesepian, kegamangan, tapi disitu terlihat sebuah harapan. Lebih tepatnya angan, mimpi. Tak bisa terwujud. Karena takdir dan ketetapan Allah sudah berbicara sebelum ia sadar akan angan-angan dan mimpinya tentang hidupnya.


Ya, dia seorang anak tunggal dari kedua orang tua yang mapan. Segala kebutuhan materi yang ia butuhkan tercukupi dengan baik. ia dapat sekolah tinggi tanpa harus khawatir orang tua-nya mengalami keberatan beban karena hanya satu anak yang mereka tanggung. Tak perlu berebut makanan kesukaan. Tak perlu berbagi waktu menggunakan kamar mandi. Pun tak perlu berkelahi hanya untuk mendapat perhatian orang tua. Perhatian orang tuanya telah tercurah padanya.

Kesepian. Ya, pasti dia juga merasa kesepian. Iri. Ya, kadang ia iri pada orang lain yang memiliki saudara kandung. Tapi, apakah ia jadi meratap dan mengatakan bahwa Allah Swt. tak adil? Tidak. Ia sadar bahwa ini lah takdirnya.

Bagiku, aku yakin, sebenarnya Ia tahu dan sadar bahwa ada anugerah dan banyak hal baik yang ia alami meski tanpa kehadiran saudara kandung dalam hidupnya. Ia sadar bahwa iri adalah hal yang wajar, tapi ia juga sadar bahwa ia tak dapat merubah keadaan seperti yang ia inginkan, memiliki saudara kandung.

Andai aku dapat mengatakan langsung, akan ku katakan, pasti ada orang yang iri pada keadaan dirimu. Pasti ada orang yang iri padamu yang tidak memiliki saudara kandung. Coba bayangkan orang yang tidak dapat sekolah tinggi karena adik-adiknya butuh biaya untuk sekolah sedangkan orang tuanya tergolong kurang mampu. Sepintas, orang ini akan iri pada dirimu yang sendiri dan orang tuanya pasti dapat menyekolahkannya hingga perguruan tinggi, tapi ia juga percaya pada rahasia Allah Swt. dan dia juga tetap menjalani hidup sepertimu dengan cara yang berbeda. Atau coba kau bayangkan pada seorang kakak yang harus berbagi waktu menggunakan sepatu dengan adiknya karena orang tua mereka tidak mampu membelikan sepatu adiknya yang hilang. Sepintas, ia akan iri padamu yang seorang anak tunggal sehingga orang tuanya tak perlu pusing-pusing mencari tambahan sana-sini lantaran belum dapat membelikan sepatu baru untuk adiknya, tapi lagi-lagi orang ini akan tetap menjalani hidupnya, sepertimu, dgn cara berbeda.

Jika dirimu merasa kesepian, ingat orang tuamu yang kasih sayangnya tak pernah terbagi selain hanya untukmu; ingat teman-temanmu yang selalu ada dan menghiasi hari-harimu di kampus; ingat senior-senior dan adik-adik tingkatmu yang dapat kau anggap mereka sebagai kakak dan adik bagimu; kenang masa kecilmu saat dirimu belum mengerti arti rasa iri atas kesepianmu karena dirimu masih punya teman bermain.

Tidak ada komentar: