Minggu, 19 September 2010

Al Hakiim (Yang Maha Menghakimi)



Siapakah Engkau ini, Tuhanku?
Sepanjang siang terus bergelombang pendaman rasaku pada-Mu
Jika tiba malam, bagai terpanggang tubuhku oleh api rahasianyang berpijar di pusat jiwaku


Siapakah Engkau ini, Gustiku?
Begitu erat di dadaku
Namun, harus bergerak terus aku mendekati-Mu
Seakan-akan seluruh langkah kaki petualanganku tak akan pernah sampai ke sisi-Mu


Siapakah Engkau ini, Allahku?
Tidak sedetik pun aku pernah berpisah dari-Mu
Namun, bara kerinduankuseakan meratapi sesuatu yang amat jauh dariku


Siapakah Engkau ini, Kekasihku?
Yang berbisik amat karib di telingaku
Yang membelai lembut ubun-ubunku
Namun, tatkala terhenyak aku dari mabukku
Terasa Engkau seperti tinggal di pulau yang nun tak kutahu


Siapakah Engkau ini, Raja Dirajaku?
Yang meletakkan cahaya dikegelapan,
Serta kegelapan di cahaya
Yang menaruh derita dalam bahagia,
Serta bahagia dalam derita
yang mengisikan ada dalam tiada,
serta tiada dalam ada?

Siapakah Engkau, Dzu Hikmah?
Namun, tidak..
Tidak..
Tak akan aku memikirkan-Mu
Tak akan aku merumuskan-Mu

Aku hanya ingin tenggelam
Tenggelam..
di-Mu



(Emha Ainun Nadjib)

Al Haadii (Sang Maha Penguak Hidayah)



Para pengusaha cemas akan bisa kehabisan kemampuan berproduksi
Para seniman resah akan kering ilham untuk bikin lukisan dan puisi
Para orang dan calon-calon orang gelisah akan bis buntu jalan menuju esok hari
petunjuk Allah, sementara itu,
Memancar lebih dari cahaya seribu matahari
Menghampar seribu kali sel udara di segala penjuru bumi
Menabur bagai gemeracak hujan sepanjang zaman
Berjumlah seperti taburan bintang-bintang yang diganti setiap malam


Di dalam Tuhan tidak ada kemelaratan:
Seolah-olah saja engkau dirudung kemiskinan
Namun, itu adalah ujud awal dari kekayaan yang sengaja Ia samarkan


Di dala tuhantidak ada kesempitan,
karena yang sejenak terasa seperti
kesempatan itu adalah tanah subur untuk menanam keluasan

Di dalan Tuhan tidak ada bakat alam,
Karena alam tidak punya apa-apa untuk diberikan,
Karena jika pun masing-masing kita ini dijadikan seribu orang,
Tak bakal cukup juga untuk menampung ilham yang selalu Ia pertunjukkan



(Emha Ainun Nadjib)

Sabtu, 18 September 2010

Mungkin nanti kita akan terpisahkan oleh jarak dan waktu
Tapi..
Berjanjilah untuk menjaga persaudaraan ini
Berjanjilah untuk tidak saling melupakan
Berjanjilah untuk selalumenjadikan hari-hari yang telah kita lalui…
Kan selalu menjadi kenangan yang berharga
Berjanjilah tuk tetap saling mengingatkan dalam kebaikan
Berjanjilah tuk setia memegang prinsip yang saat ini telah kita bangun


Berjanjilah bukan atas nama rohis
Tapi berjanjilah atas nama islam dan persaudaraan kita
(Jakarta, awal tahun 2010)

Kamis, 16 September 2010

Melembutkan Hati

Rabu, 08/09/2010 06:44 WIB
Oleh Rien Hanafiah

Sebulan yang lalu, lelaki itu mungkin tidak akan pernah menyangka, hari-harinya akan begitu pilu. Ia mungkin tidak pernah mengira, ketika Ramadhan tiba, kehangatan yang selalu ada, akan terenggut. Ia mungkin tak pernah membayangkan, kelak, selesai tarawih, jama’ah mulai meninggalkan tempat satu persatu, bahkan telah hampir kosong, tapi ia, lelaki itu, hanya dapat memandangi putri bungsunya, tertidur lelap di lantai masjid yang dingin.


Sebulan lalu, ia, lelaki itu, baru saja kehilangan istrinya. Istri yang selama ini begitu dicintainya. Ibu dari ketiga anaknya, yang sangat ia percaya mampu mendidik mereka, walau sang istri masih bisa berkarir di luar rumah. Istri yang sangat sabar menghadapi tingkah polah ketiga anaknya. Hanya diam dan tersenyum, ketika rengekan anak-anaknya kerap terdengar di antara warga yang menghadiri pengajian. Ibunya tetap memberi keleluasaan pada anak-anaknya, walau kadang dirasa berlebihan oleh orang lain.


Terakhir bertemu, sekitar bulan Februari. Ketika itu ada pengajian rutin yang diadakan oleh warga komplek. Seperti biasa, ia, lelaki itu datang, bersama istri dan ketiga anaknya. Agak terlambat, hingga istrinya duduk di barisan belakang. Tidak banyak bicara, dan sesekali berbisik, mencoba menegur salah satu anaknya yang aktif kesana kemari. Di antara para ibu-ibu, sang istri pun hanya tersenyum, dan menjawab teguran dengan kalimat-kalimat pendek. Pemalu atau pendiam, saya tidak tahu persis. Karena sang istri jarang terlihat, karena kesibukkannya sebagai karyawan perusahaan. Tapi hanya satu yang saya dengar dan lihat, sang istri sabar sekali menghadapi anak-anaknya. Bagi saya, luar biasa.

Hingga menjelang Ramadhan, kabar itu datang, di sela-sela suka cita menyambut bulan suci itu. Kabar pedih bagi lelaki itu. Juga bagi para teman dan tetangga yang mengenalnya dengan baik, ataupun sekadarnya. Sang istri tak pernah menampakkan sakit yang parah. Ia, sang istri, hanya mengeluh pusing. Lalu beberapa saat kemudian koma, dan pergi beberapa hari kemudian.

Sungguh, kala itu yang terpikir pada masing-masing kami yang mendengar, adalah tak mengira sang istri pergi begitu cepat tanpa sebab yang terlihat oleh kasat mata. Terlihat baik-baik saja, tanpa gejala yang mengkhawatirkan. Tapi siapa nyana? Bukankah ini salah satu rahasia yang tak pernah mampu kita perkirakan? Kapan pun itu, bukankah kita harus siap? Yang ditinggal maupun yang ditinggalkan harus siap? Kemudian semua menjadi terhenyak dan merasakan perih sembilu milik lelaki beserta ketiga anak-anaknya itu. Betapa dekatnya sebuah hubungan, tetap saja akan ada batas yang menjauhkannya.

Maka selalu terlintas dalam benak, ketika melewati rumahnya yang memang sepi, lalu membayangkan, kesepian itu semakin sempurna dengan tidak adanya istri bagi lelaki itu, dan ibu bagi ketiga buah hati mereka. Melihat ketiga bocah itu bermain di pekarangan, namun tak ada senyum manis yang menyambut dan menemani mereka. Tak ada kesibukkannya mempersiapkan berbuka puasa, karena kepergiannya justru merupakan saat dimana kebersamaan sangat begitu bisa dirasakan. Saat-saat yang pastinya selalu dinanti, selalu akan dikenang.

Dan, ia, perempuan itu, memang telah memberi kenangan yang tak akan pernah dilupakan oleh lelaki dan ketiga buah hati mereka.

Menjelang dan selama Ramadhan kali ini, pikiran saya sibuk melanglang, termenung, membayangkan seperti apa rasanya jika posisi lelaki itu terjadi pada salah satu diantara kami. Atau mungkin posisi perempuan itu yang akhirnya menuntaskan segalanya. Pikiran saya mencari-cari, harus seperti apakah menghadapinya? Harus seperti apakah menampilkan diri setelah ditinggal oleh seseorang yang setia mendampingi selama ini? Atau, apakah yang tengah dialami seseorang yang telah pergi itu? Harus seperti apakah makhluk yang telah menemukan jalan akhirnya? Apa yang ia alami, di dimensi yang lain? Atau, sungguh, betapa tak kuasanya manusia berpaling dari ajal, walau bulan penuh cinta ini telah tampak untuk disongsong.

Pikiran-pikiran yang mengganggu. Namun mau tak mau, menuntun jiwa ke dalam sebuah ruangan yang kosong. Hingga terus berpikir, apa saja yang akan menjadi isi dari ruangan itu, agar penghuninya dapat tinggal nyaman.

Hingga menjelang berakhirnya Ramadhan, terasalah, mengapa tidak hanya lelaki itu yang merasakan kehilangan. Mungkin –bahkan pasti ada lelaki-lelaki lain, atau perempuan-perempuan lain, dengan usia dan bentuk kehilangan yang beragam. Menjelang berakhirnya Ramadhan, segala kegelisahan terjawab. Menghadapkan kita pada kematian, adalah cara Tuhan untuk membuat hati kita yang telah keras dan berkarat, menjadi lembut.

Hati yang dengan mudahnya bisa Ia bolak-balik. Hati yang banyak kita lalaikan untuk dijaga. Hati yang semakin hari semakin berkurang kadar sensitivitasnya. Hati yang kita abaikan walau hanya untuk merasakan, bahwa ada takdir di setiap tarikan nafas yang telah diberikan-Nya. Hati yang tidak kita sematkan pada ruangan penuh kasih, pada hal-hal yang menjadi bekal kita kelak ketika kematian itu bukan kita dengar lagi, tapi justru kita alami.

Dan, benarlah! Cara Tuhan untuk melembutkan hati hamba-Nya, jika bukan sebagai peringatan, tentunya sebagai cinta kasih-Nya yang masih mau kita datangi, walau kuantitas serta kualitasnya bukan sebagai hamba yang taat.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Dan… Wahai Sang Pemilik hatiku
Jika saja, Kau tak berkenan untuk selalu memberikan cara padaku
Bagaimana merawat dan memperlakukan milik-Mu ini
Maka, hancurlah diri yang fana ini sejak dulu
Dan… wahai Sang Pemilik hatiku
Jika saja, Kau tak berkenan untuk selalu kutemui
Menyebut nama-Mu di setiap keindahan pada pelupuk mataku
Maka, sungguh… siapa lagi yang akan kutemui kelak?
Dan… wahai Pemilik hatiku,
Maka, sungguh…aku tak tahu jalan pulang
Selain pada diri-Mu


http://rhandry.multiply.com

Allah Selalu Memberikan Jodoh yang Terbaik

Senin, 13/09/2010 15:35
Oleh Lhinblue


Ya! Allah selalu memberikan yang terbaik dan aku baru tersadar saat ini, belakangan ini. Dalam setiap pilihan-pilihan, Allah selalu mengarahkan pada takdirku, Allah selalu memberikan pilihan yang terbaik untuk mencapai jodohku. Ini mengenai jodohku dengan penelitianku. Setidaknya, hingga saat ini aku masih menganggap bahwa bidang penelitianku inilah yang memang diperuntukkan bagiku, dimana Allah telah mempersiapkan diriku untuk menyambutnya. Terbukti dari kemudahan-kemudahan proses yang mengantarkanku menuju bidang penelitianku kini.

Dulu, aku tak habis pikir, kenapa aku selalu mengulang mata kuliah Kimia Organik (KO), nilai-nilaiku selalu gak OK alias KO (sesuai dengan namanya) dimata kuliah ini. Mulai dari KO1, KO2, KO3 hingga stereokimia. Ya, aku akui aku gak terlalu suka dengan mata kuliah ini karena menurutku mata kuliah ini sangat menghapal sekali, menghapal banyak reaksi organic. Untuk menguasai mata kuliah ini memang harus menghapal banyak reaksi organic. Itu yang gak terlalu kusuka. Tapi, entah kenapa saat semester 8 kemarin aku berani mengambil Mata Kuliah Pilihan (MKP) Kapita Selekta Kimia Organik III (KSKO III). Tentunya bukan karena aku jadi suka dengan Kimia Organik. Alasannya adalah masalah waktu kuliah. Aku memilih untuk tidak ada kuliah yang terlalu sore dan mengatur jadwal sedemikian rupa gimana supaya ga ada jadwal yang terlalu kosong alias beda jam kuliah pertama dengan kuliah berikutnya dalam satu hari, terlalu lama. Dan akhirnya setelah dilihat jadwalnya, KSKO III lah yang memenuhi syarat itu, lagipula gak bentrok dengan mata kuliah lain. Pilihanku pun jatuh pada KSKO III. Di kuliah ini, aku benar-benar mengerti apa yang dijelaskan dosen, makin pahamlah aku tentang Kimia Organik. Aahh, rupanya inilah hikmah dari Al-Baqoroh 216: "…Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui."

Ternyata kini bidang penelitianku berkaitan sekali dengan Kimia Organik. Ya, peminatanku pada dasarnya adalah Kimia Fisik dan penelitianku kini adalah Fisik-Organik. Rupanya inilah hikmahnya. Allah memberiku kesempatan dua kali untuk mendalami mata kuliah Kimia Organik. Ya, senang rasanya karena setelah mendalami Kimia Organik selama 2 kali dan mengambil MKP KSKO III, aku menjadi lebih mengerti tentang Kimia Organik. Ya Allah, memang Kau lah yang paling tahu segalanya yang terbaik untuk hamba-hamba-MU.

Tak hanya dari mengulangnya aku di Kimia Organik saja yang Allah pilihkan yang terbaik untukku. Di saat semester 8, saat2nya aku mengambil banyak mata kuliah pilihan (MKP), Allah pun turut andil dalam keputusanku. Di saat aku bingung harus memilih MKP apa saja. Tentunya MKP berbau Kimia Fisik sudah aku ambil lebih dulu karena memang aku berminat sekali pada Kimia Fisik. Namun yang jadi pilihan berikutnya adalah MKP apalagi yang harus kuambil sementara aku ga tau apa2 mengenai MKP-MKP itu. Setelah tanya sana sini, akhirnya diputuskan salah satu MKP yang kuambil adalah senyawa alumina silica. Teringat betul bahwa alasan temanku yang menganjurkan supaya mengambil MKP ini adalah nilainya gampang karena yang mengajar adalah dosen yang gampang memberi nilai. Yowislah, aku turuti sarannya.

Dan ternyata ketika MKP itu dimulai rupanya bukan sang dosen yang dikira sebelumnya yang mengajar melainkan dosen lain yang lebih dikenal ‘pelit’ nilai. Walaupun begitu, aku gak menyesal mengikuti MKP ini. Karena apa? Ketika mengikuti kuliah ini, aku cukup tertarik dengan zeolit, bentonit, dan senyawa silica yang banyak pori lainnya. Dan saat itu aku sempat berpikir untuk mengambil bidang penelitian:Fisik-Anorganik karena pada saat MKP ini, aku mendalami jurnal penelitian tentang SMZ (Surfactant Modified Zeolite). Memang sebelumnya saat semester 6, aku mengambil MKP Kimia Permukaan yang membahas tentang surfaktan karena dari sinilah aku mulai tertarik untuk mengambil penelitian Kimia Fisik. Dan kini, bidang penelitianku juga menggunakan silica dengan konsep Kimia Permukaan dimana katalis yang dimodifiksi pada silica akan lebih efektif karena luas permukaannya menjadi lebih besar.

Ada satu lagi MKP yang aku pilih karena ingin mendapatkan nilai yang gampang biar bisa mendongkrak IPK-ku, yaitu Kimia Lingkungan. Aha, rupanya walaupun niatnya ingin mendapatkan nilai yang gampang, Allah mengirimku ke MKP ini untuk belajar banyak hal karena dari MKP inilah aku mendapatkan pengetahuan yang luar biasa mengenai lingkungan. Di saat akhir perkuliahan, dosen membagi bahan presentasi masing-masing mahasiwa satu topic. Aku mendapatkan topic green chemistry in industry. Di salah satu poin green chemistry yang aku bahas atau kimia hijau dalam industri adalah pemakaian pelarut hijau (green solvent) yang baru dikembangkan saat2 ini. Tahukah kamu? Bahwa rupanya bidang penelitianku kini adalah menggunakan pelarut hijau itu berupa ionic liquids. Ya, ionic liquids memang termasuk baru dalam bidang green chemistry dan mungkin itu menjadi alasan mengapa riset ini menjadi salah satu hibah riset dari UI, dimana riset ini mendapat kucuran dana dari pihak UI.

Tak kalah pentingnya juga pada saat proses melamar calon pembimbing skripsiku. Awalnya aku berkeras hati untuk mengambil topic surfaktan dengan calon pembimbing dosen Kimia Fisik yang mengajarku MKP Kimia Permukaan. Namun ternyata, Allah menghendaki yang lain. Aku mendengar info dari teman bahwa ada dosen Kimia Fisik (bukan dosen yang mau kulamar sebelumnya sebagai dosen pembimbingku), yang sedang kebingungan mencari mahasiwa untuk melanjutkan risetnya. Aha, entah mendapat bisikan darimana, aku mencoba menemui sang dosen yang sedang membutuhkan mahasiswa untuk melanjutkan risetnya itu. Dari sanalah aku bertekad menjadi penerus risetnya, apalagi riset ini mendapat kucuran dana hibah riset UI. Mungkin banyak mahasiswa yang tidak mau meneruskan riset dosen itu karena riset ini tergolong riset baru dan awalan. Peluang ini tak boleh disia2kan. Peluang hibah riset ini tentunya akan semakin memudahkanku menggapai gelar sarjanaku karena masalah financial penelitian akan ditanggung dari dana hibah riset itu. Baru diakhirlah aku mengetahui secara detail mengenai penelitianku kini yang ternyata sangat berkaitan dengan MKP2 yang aku ambil. Tak lain tak bukan berkaitan dengan senyawa silica, kimia permukaan, ionic liquids dan tentunya kimia organic.

Ya! Allah memang akan mengantarkan kita pada jodoh terbaik kita dengan berbagai kondisi. Mungkin pada awalnya kita tak pernah tau apa atau siapa jodoh kita, namun pada kenyataannya Allah akan mengantarkan kita pada jodoh kita dengan ikhtiar yang kita lakukan. Hingga akhirnya kita dapat menarik benang merah atas segala ikhtiar yang kita lakukan.

Ya Alah semoga penelitianku ini bukan sekadar memenuhi persyaratan menuju gelar sarjana namun juga berguna di bidang industri kimia dalam menggunakan green solvent. Semoga ini menjadi awalan mewujudkan green chemistry dalam industri kimia.

Ok. Aku pun siap menyambut tahun 2011 sebagai Tahun Kimia Internasional!


perempuanlangitbiru.multiply.com/

Rabu, 15 September 2010


"sabar yang tinggi, ikhlas yang mendalam, dan hati yang bersih, semuanya dilakukan hanya untuk Allah...Allah akan menjamin kehidupanmu dan akan menjaga islam, iman, ihsan, dan ikhlas yang bersemayam di dalam hati dan jiwamu.. :)"

"semua kasus permasalahan konflik agama khususnya islam dengan kristen di indonesia, pertikaian, pergesekan dan kerusuhan aats nama SARA tidaak akn pernah terjadi selama kita mau membicarakannya dengan hati yang lembut dan pemikiran yang jernih, bukankah Nabi Muhammad SAW mengajarkan dmikian?" (Muhammad Irsandhi Ikhsan Ramadhan)

"Sebaik-baik insan adalah mereka yg berupaya menyembunyikan ibadahnya dari mata manusia, namun berhasil menampakkan bekasnya berupa akhlaq mulia pada sesama. Seburuk-buruknya adalah dia yg mengunjukkan 'amalnya di hadapan orang, tapi tak terasa dari dirinya kecuali akhlaq tercela." (Amalia Sekar Wulan)

 

Siapa Pastor Terry Jones, Dan Mengapa Ia Berencana Membakar Al Quran

Selasa, 14/09/2010 08:02 WIB (eramuslim.com)

Jika ada orang Amerika yang merasa sangat tidak nyaman saat ini, bisa dipastikan itu adalah Terry Jones.


Seorang pria berumur 58 tahun, rambutnya sudah beruban, dan selalu menenteng sebuah pistol kaliber 40 di pinggulnya. Jones adalah kepala jemaat yang kecil—mungkin tidak lebih dari 50 orang—di Gainesville, Florida. The Dove World Outreach Center, dikenal sebagai gereja, sebenarnya adalah gereja lokal yang penuh semangat, gereja bergaya Pentakosta yang banyak ditemukan di kota-kota dan daerah pedesaan di seluruh Amerika, dan telah ada sejak hari-hari awal Republik.


Coba pikirkan Robert Duvall dalam "The Apostle," film nominasi Oscar tahun 1997 tentang kejatuhan dan penebusan dosa menteri Texas.


Terry Jones memberitakan pesan yang jauh berbeda dari pendeta di film Hollywood itu. Dan itulah sebabnya misi Jones membakar al-Quran untuk menandai peringatan 9 / 11 Sabtu kemarin telah berhasil mendominasi berita, dan politik global. Ia telah menutup semua berita tentang kecurigaan (palsu) bahwa Presiden Obama adalah seorang Muslim dan pembangunan sebuah masjid gi ground zero.

Dua hari sebelum 11 September 2010, pada hari Kamis, Jones kembali mengejutkan media dengan berita bahwa ia membatalkan acara bakar Quran itu. Dia mengatakan ia telah mencapai kesepakatan dengan pejabat Islam di New York City untuk memindahkan pusat Islam yang direncanakan di ground zero.

Namun para pejabat Islam segera mengatakan bahwa mereka tidak mencapai kesepakatan tersebut. Dalam beberapa jam setelah itu, Jones berdiri di luar gereja dan mengatakan kepada wartawan ia telah "dibohongi" dan mengatakan ia acara pembakaran Quran hanya "ditunda"—bukan dibatalkan.

Jones berpendapat bahwa Islam adalah agama "palsu" yang berasal" dari setan" dan karenanya harus dilenyapkan. Ia juga percaya bahwa Islam akan mengambil alih Amerika Serikat. Dengan dua pemikiran yang terang saja sangat kampungan dan idiot itu, ia merencanakan untuk membakar-Quran: "Kita harus mengirim pesan yang jelas pada unsur radikal Islam," kata Jones. "Kami tidak akan lagi dikontrol dan didominasi oleh ketakutan dan ancaman. Sudah saatnya Amerika kembali menjadi Amerika."

Jenderal David Petraeus, komandan perang AS dan NATO di Afghanistan, mengatakan rencana oleh Dove World Outreach Center untuk membakar hingga 200 al-Quran itu dapat membahayakan pasukan AS di negara Amerika dan di seluruh dunia. Menteri Luar Negeri Hillary Clinton, dalam sebuah jamuan buka puasa Ramadhan, menyebut pembakaran buku itu sebagai sesuatu "yang tidak sopan dan memalukan." Dan Jaksa Agung Eric Holder menyebut rencana Jones '"bodoh dan berbahaya."

Bahkan Angelina Jolie—betul, artis Hollywood kenamaan itu!—mengatakan, "Saya tidak punya kata-kata untuk seseorang yang akan membakar sebuah kita suci agama orang lain." Jolie mengatakannya di Islamabad setelah mengunjungi kamp pengungsi di Pakistan yang dilanda banjir. Jolie adalah duta untuk badan pengungsi PBB.

Sebuah patung Jones, terbungkus dalam bendera Amerika, dibakar di Afghanistan, dan Muslim di Indonesia berkumpul di luar kedutaan besar AS mengancam kekerasan jika ada Qur'an yang dibakar.

Juga, semakin banyak pemimpin Kristen angkat suara terhadap rencana Jones. "Tolong jangan hakimi semua orang Kristen oleh perilaku satu ekstremis saja," kata Presiden National Association of Evangelicals, Leith Anderson. Dan kantor antaragama Vatikan pada hari Rabu mengecam "Hari Bakar Quran" sebagai rencana yang "memalukan dan mengubur (diri sendiri)."

"Saya cuma membakar buku, bukan membunuh," kata Jones, enteng. Ancaman pembunuhan, yang menyebabkan dia dikawal polisi beberapa hari belakangan, juga tidak dihiraukannya.

Jones, oh Jones.... (sa/berbagaisumber)

Haniyya : 40.000 Penghafal Qur'an, Menjawab Pembakaran Qur'an

Senin, 13/09/2010 10:25 WIB (eramuslim.com)

Di Gaza segala telah berubah. Kehidupan ikut berubah. Sejak Hamas mengambil alih kekuasaan di Gaza tahun 2007, yang sebelum di pegang oleh Otoritas Palestina (PA) yang dipimpin Presiden Mahmud Abbas.


Kehidupan nampak lebih Islami, dan segala berjalan dengan tertib. Blokade Israel dan Barat terasa pahit. Tetapi, tidak membuat Hamas menyerah dan mengakui Israel. Hamas tetap menegaskan bahwa Israel sebagai penjajah dan illegal.


Selama kekuasaan di bawah Otoritas Palestina (PA), kehidupan sangat sekuler, dan jauh dari pengaruh agama. Berbagai kekerasan diantara penduduk Gaza berlangsung, khususnya tindakan sewenang-wenang dari aparat keamanan Otoritas Palestina (PA), sampai seluruh Gaza di ambil alih oleh Hamas.


Perubahan yang paling mendasar kehidupan sehari-hari dikalangan rakyat Gaza, yang mulai nampak terlihat nilai-nilai Islam dalam segala kehidupan. Perlahan-lahan mereka dapat mengurai krisis akibat blokade Israel dan sekutunya. Mereka dapat mencukupkan kebutuhan mereka tanpa harus bergantung terhadap Israel.

Tentu, yang paling menarik, bagaimana pemerintahan Hamas membangun masa depan kehidupan rakyat Gaza, yang lebih bersumber dari nilai-nilai Islam, di mana anak-anak sejak dini sudah dididik untuk dapat membaca Al-Qur'an, memahaminya, dan menghafalnya. Setiap tahun pemerintah Hamas mewisuda anak-anak yang sudah selesai menghafal Al-Qur'an. "Kami akan menjadi Al-Qur'an sebagai hidu kami", ucap Ismail Haniyya. Perlahan-lahan dan sangat nyata, anak-anak di Gaza mereka telah menjadi penghafal Al-Qur'an yang baik.

Selama Ramadhan rumah-rumah dan masjid-masjid di seluruh Gaza menjadi tempat, yang paling ramai, suara orang membaca Al-Qur'an. Ini buah dari apa yang dilakukan oleh pemerintahan Hamas, yang mempunyai perhatian yang demikian besar terhadap anak-anak untuk dapat menghafal Al-Qur'an. Setiap sekolah hampir dapat meluluskan lebih dari 200 anak yang hafal Al-Qur'an.

Maka, Perdana Menteri Palestina di Gaza, Ismail Haneyya, selain mengutuk Pastor Terry Jones, yang menyerukan membakar Quran di Negara Bagian Florida, Amerika. Tetapi, Haniyya memberikan respon dengan mempersiapkan 40.000 penghafal Quran setiap tahunnya. Haniyya telah menjadikan kebijakan pemerintahannya untuk menghafal Al-Qur'an.

Selanjutnya, Haniyya mengatakan dalam khotbah Idul Fitri-nya bahwa proyek Zionis terus mengalami kemunduran, dan kemenangan rakyat Palestina semakin dekat daripada yang mereka pikirkan.

Haniyya menambahkan bahwa Otoritas Palestina di Ramallah telah melakukan tiga dosa selama bulan Ramadhan. Pertama, negosiasi langsung dengan penjajah Israel, dan a negosiasi itu ditolak dan tidak mendapatkan amanat dari rakyat Palestina sama sekali untuk bernegosiasi atas nama Yahudi.

Hanniya menyebutkan dosa kedua Otoritas Palestina adalah perang mereka terhadap agama dan masjid-masjid yang dianggap telah menjadi alat perlawanan terhadap penjajah Israel. Haniyya menegaskan kebijakan lyang memerangi masjid-masjid dan agama merupakan kebijakan seperti itu secara luas ditolak oleh rakyat Palestina.

Dosa yang ketiga, Haniyya mengatakan, adalah Otoritas Palestina (PA) yang bekerjasama dengan Israel telah memburu para pejuang di Tepi Barat. Tindkan ini bertentangan dengan keinginan rakyat Palestina, dan Haniyya menolak kebijakan tersebut dan bahwa pemerintahnya menolak koordinasi keamanan antara Otoritas Palestina dan penjajah Israel.

Dalam kesempatan ini, Hanniya mengucapkan selamat Idul Fitri kepada orang-orang Arab dan umat Islam umumnya. "Salam khusus kepada keluarga syuhada, tawanan dan mereka terluka, serta mereka yang rumahnya hancur oleh Israel."

Haniyya menyerukan kunjungan ke keluarga syuhada, tawanan yang terluka karena itu akan meningkatkan solidaritas dan memperkuat ketabahan keluarga-keluarga tersebut.

Haniyya menyerukan agar menghadapi kampanye Pendeta Terry Jones itu, hanya dengna memperbanyak kaum muslimin menghafal Al-Qur'an, yang akan menjadi perisai menghadapi Yahudi dan Nashrani, yang sangat memusuhi umat Islam.

Kamis, 02 September 2010

Rela dan Syukur

Rabu, 25/08/2010
Oleh Titikmilasari




Tidak banyak yang kami obrolkan ketika pertemuan pertama di angkutan umum saat itu, yach sekedar untuk mencairkan suasana. Esoknya ketika dalam perjalanan pulang menuju ke rumah, diangkutan yang sama aku bertemu lagi dengan akhwat tersebut, dan duduk satu kursi. Kami pun larut dalam perbincangan. Disela-sela perbincangan dia bertanya “lagi hamil anak keberapa mba?” (karena kebetulan memang saat itu aku sedang hamil besar). Aku menjawab anak ke-4. Lalu akupun balik bertanya “mba sudah berapa putranya?”, karena setahuku diapun sudah berkeluarga. Dia terdiam sejenak, lalu menjawab “belum”. Akupun meminta maaf, lalu berusaha mengalihkan pembicaraan ke hal lain.


Kamipun dipertemukan kembali di suatu acara kajian. Kajian ini bertemakan “Bahagia”. Dimana seluruh pesertanya wanita dan pengisinya seorang Trainer dan Motivator. Untuk memancing antusias para peserta serta agar suasana tidak kaku, sang motivator mengisi acara dengan role play-role play. Sang Trainer bertanya “coba saudari-saudari sebutkan hal-hal apa saja yang pernah membuat anda bahagia?” Satu persatu peserta angkat tangan, lalu menyebutkan hal-hal yang membuat bahagia. Macam-macam deh jawabannya. Ada yang menjawab jika anak-anak sehat, jika do’a terkabul, rezeki lancar, suami sayang dll. Aku pikir, samalah jawaban aku dengan yang lainnya, sudah terwakili, aku menikmati saja hihi...


Tapi ada satu jawaban dari salah satu peserta yang membuat aku kagum. Yaitu dari seorang akhwat yang aku temui diangkutan umum sebelumnya. Dia menjawab “Kebahagiaan-kebahagiaan yang disebutkan tadi adalah kebahagiaan seorang ibu pada umumnya, saya pribadi merasa sangat bahagia karena saya sudah menikah, dan saya sangat bahagia karena saya dapat membahagiakan ibu saya.” Subhanallah...


Mungkin jika saya tidak mengenal dia sebelumnya, jawaban dia saya anggap biasa saja, tapi karena saya sudah mengenal dia sebelumnya, saya merasa jawaban dia luar biasa. Berapa banyak orang yang usianya di atas dia belum menikah? Dan berapa banyak pula orang yang sudah menikah bisa membahagiakan ibunya? Bukankah harapan orang tua pada umumnya selain memiliki anak yang sholeh/sholehah, pun berharap anaknya juga memiliki kehidupan yang layak, kemandirian serta mampu memberikan perhatian disela-sela kesibukannya mengurus rumah tangga.


Kehidupan terus berjalan dengan segala kekurangan dan ketidaksempurnaannya. Ada yang sakit, ada yang rezekinya sedikit, jodoh yang terlambat, anak yang tak kunjung didapat. Semua adalah ketetapan Allah. Tetapi akhwat ini mampu menghadirkan ketetapan Allah lainnya yang jauh lebih menyenangkan, ketimbang terfokus kepada ketetapan Allah yang tidak menyenangkan untuk dirinya. Yang tujuannya adalah memunculkan perasaan rela dan syukur kepada Allah azza wa jalla. Bukanlah hal yang mudah, jika dia tidak memiliki “kedekatan” yang baik kepada Allah.


***

Bersikap rela terhadap ketetapan Allah bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika yang terjadi tidak seperti yang kita harapkan. Taqdir Allah tak sama dengan keinginan.
Keputusan Allah berbeda dengan rencana. Inilah ujian berat. Dengan rela kita yakin dibalik ujian pasti ada kasih sayang Allah, dibalik kesulitan pasti ada rahmat Allah, dibalik seberapapun yang dibagi Allah pasti ada rahasia yang terbaik untuk kita. Umar bin Khatab pernah berkata “Semua kebaikan itu berkumpul dalam kerelaan. Jika engkau sanggup maka hendaklah engkau rela. Jika tidak, maka bersabarlah”. Ali ra pun pernah berkata “Rela dengan keputusan Allah yang tidak menyenangkan, itulah keyakinan yang paling tinggi.”


Hikmah yang dapat dirasakan dengan bersikap rela terhadap ketetapan Allah adalah mendatangkan ketenangan, memberikan kekuatan untuk menghadapi berbagai macam kesulitan, dan menciptakan perasaan syukur.


Sebagaimana dikisahkan ada seorang sahabat Rosulullah saw yang bernama Saad bin Abi Waqash ra yang mengalami kebutaan, sedang mengunjungi kota Mekkah. Beliau terkenal dengan do’anya yang makbul. Lalu orang-orang berduyun-duyun menemuinya untuk meminta di do’akan. Abdullah bin Saib yang masih kanak-kanak bertanya “Engkau berdo’a untuk kebaikan orang lain, kenapa engkau tidak berdo’a untuk dirimu sendiri agar Allah mengembalikan penglihatanmu?” Saad bin Abi Waqash ra tersenyum dan berkata “Anakku, ketetapan Allah swt atas diriku lebih baik bagiku dari penglihatanku.”

Semoga Allah senantiasa menanamkan perasaan rela atas segala ketetapan-Nya dan melimpahkan keberkahan di dalamnya.

Wallahu a’lam bishowab.


titik.duktek@gmail.com