Senin, 30 Agustus 2010
Bangsa Berbudaya dan Budaya ‘Ngaret’
Bangsa kita adalah bangsa yang berbudaya. Ya. Budaya kesenian tradisional banyak sekali berasal dari berbagai suku di negara kita. Tapi, ada sebuah budaya yang tidak berasal dari suku apa-apa, yang berasal dari diri kita sendiri yaitu: budaya terlambat, alias ngaret.
Mari dipikirkan lebih jauh lagi.
Apakah ngaret adalah suatu budaya yang bisa kita banggakan dan apa akibatnya jika kebiasaan ini dipelihara? Apakah budaya terlambat sebuah bangsa menentukan cepat/lambatnya kesuksesan sebuah bangsa? Apakah keterlembatan seseorang mempengaruhi cepat/lambatnya kesuksesan seseorang? Lalu apakah budaya ngaret ini berkaitan dengan bagaimana seseorang menghargai hidupnya? Apakah budaya ngaret ini juga berkaitan dengan bagaimana seseorang menghargai waktu orang lain? Dan apakah budaya ngaret ini berkaitan dengan bagaimana cara berpikir seseorang memandang dan menjalani seluruh aspek hidupnya?
Silahkan Anda pikirkan sendiri.
Istilah ‘ngaret’ tampak sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Namun kenyataannya hal tersebut tetap merugikan kita semua. Herannya masih ada saja di antara kita yang punya hobby ngaret. Dari berbagai level sosial, ekonomi dan pendidikan, ngaret sudah menjadi sebuah penyakit yang tampak disukai namun juga dibenci.
Apa sih yang menyebabkan seseorang itu terlambat alias ‘ngaret’?
1. Rumah jauh dari lokasi yang dituju
2. Macet
3. Kendaraan rusak
4. Kondisi darurat yang mendadak dari pihak keluarga/teman
5. Sakit
6. Antrian di POM bensin panjang dan lama
7. Tugas yang mustinya sudah terpenuhi tapi belum selesai
8. Ada perbaikan jalan
9. Di tengah jalan ada yang tabrakan
10. Ada pohon tumbang
11. Begadang, bangun kesiangan
12. Lupa pasang weker
13. Ada pejabat lewat
14. Hujan dan banjir
15. Kendaraan umum yang ditumpangi mogok, rusak, jalannya lambat
16. Janji sebelumnya terlambat jadi kita ikut terlambat
17. .... silakan isi sendiri.
Luar biasa banyak yang bisa kita persalahkan. Daftar di atas akan berkelanjutan, sampai pada akhirnya kita menyalahkan pemerintah atas kurangnya jumlah jalanan. OK. Kalau itu sudah di luar kuasa kita. Banyak hal di luar kuasa kita. Namun BANYAK hal juga terjadi atas kuasa kita. Pada dasarnya dalam kehidupan akan selalu ada 2 kemungkinan: hal yang di luar kuasa kita dan hal yang merupakan kuasa kita. Semakin jauh seseorang meningkatkan kualitas dalam dirinya, semakin banyak kemampuannya untuk bertindak dalam menghadapi suatu keadaan. Mari kita bahas, APA sih aspek yang harus kita mengerti terlebih dahulu supaya kita BISA melakukan tindakan untuk mencegah hobby terlambat atau ngaret dalam memenuhi sebuah janji ?
1. Mempunyai kemauan untuk mengetahui apa yang menyebabkan diri kita terlambat
Hey jangan-jangan selama ini memang kita cuek-cuek saja dan memang tidak ada kemauan untuk mengetahui apa yang menyebabkan diri kita terlambat. Kalau sudah tidak ada kesadaran dan kemauan untuk bisa memenuhi janji tepat waktu ya gak heran kalau kita memang gak punya kemauan untuk mengetahui apa yang membuat diri kita terlambat.
Tapi, jika diri kita memang ada kemauan untuk tepat waktu, dan ada kemauan untuk mengetahui apa yang menyebabkan diri kita terlambat atau ngaret, kita bisa mulai melakukan tindakan, dengan evaluasi dan introspeksi.
2. Meningkatkan kesadaran tentang rentang waktu dan kemampuan mengatur waktu
Pernah ketemu orang yang bilang akan sampai di tempat Anda 5 menit lagi tapi baru sampai 20 menit kemudian? Atau pernahkah Anda janji ke sahabat Anda akan bertemu 5 menit lagi tapi ternyata baru bertemu 25 menit kemudian? Jangan-jangan, ternyata Anda memang tidak sadar bedanya 5 menit dan 25 menit! Atau jangan-jangan orang yang pernah janji ketemu Anda dalam waktu 5 menit, tidak bisa membedakan antara 5 menit dan 25 menit.
Kadang kita punya hobi menyangkal. Yang ada di kepala kita, kita BERHARAP bahwa hal tersebut bisa dilakukan dalam 5 menit. Harapan tersebut begitu besarnya hingga kita tidak merasakan yang kita sebut 5 menit itu ternyata 25 menit. Sounds familiar? Ini terjadi seringkali kepada siapapun.
Percobaan 1: Coba tanyakan kepada diri Anda, berapa lama Anda mandi di pagi hari. Catat di sebuah kertas. Misalnya 5 menit. Lalu saat Anda mau mandi lihat jam Anda, ingatlah jam berapa Anda mulai mandi. Lalu saat Anda selesai mandi, lihat jam Anda, dan hitung jarak waktu dari mulai saat Anda mulai mandi hingga selesai. Lihatlah kembali kertas yang tadi Anda tulis, apakah lama waktunya yang Anda perkirakan sama dengan lama waktu mandi yang Anda baru lakukan?
Mulai sekarang, latihlah kesadaran akan lamanya waktu seperti contoh di atas, dan kenalilah detail dari apa yang Anda kerjakan. Dengan SADAR akan berapa lamanya waktu berjalan, ini akan memperkuat kemampuan Anda untuk mengatur jadwal Anda. Manajemen waktu.
3. Meningkatkan pengetahuan tentang aktivitas yang dijalankan
Seringkali kita ternyata terlalu menyederhanakan proses kegiatan. Misalnya dari rumah ke kantor. Kita suka berpikir dari rumah masuk mobil lalu seperti naik mesin waktu tiba-tiba kita sudah ke kantor. Padahal sebetulnya ada urutannya secara kronologis
- Mempersiapkan barang yang akan dibawa ke kantor
- Sarapan
- Memakai sepatu
- Menuju garasi, memanaskan mobil
- Keluar pagar harus menutup pagar terlebih dahulu
- Di jalan harus beli bensin dulu
- Masuk pagar gedung kantor harus mencari parkir terlebih dahulu
- Dari parkiran harus jalan menuju lift
- Di depan lift harus menunggu dahulu
Nah, kita sering melupakan detail-detail seperti ini. Kan kita gak sekonyong-konyongnya dari mobil di garasi lalu sudah tiba-tiba duduk di ruang kantor kita kan?
Begitu pula dengan semua aktivitas kita lainnya, pada semua perkerjaan kita, pada dasarnya semua terjadi dari rangkaian beberapa kegiatan . Semakin kita mengenal detail dari kegiatan yang diperlukan untuk menuju suatu titik kegiatan lainnya, semakin cerdas kita bisa mengatur waktu untuk tepat waktu memenuhi sebuah jadwal.
4. Mengerti skala prioritas
Keterampilan dalam menyusun prioritas kegiatan atau tugas-tugas kita sangat mempengaruhi seseorang dalam mengatur waktunya. Butuh pengertian dan kesadaran tentang seberapa besar pentingnya dan seperti apa situasi dari setiap tugas atau kegiatan kita, dalam mengetahui dalam urutan prioritas nomor berapa kita meletakan sebuah kegiatan atau tugas.
5. Mempunyai rencana alternatif atau cadangan
Mempunyai rencana alternatif atau cadangan bisa menyelamatkan diri kita dari keterlambatan. Misalnya kita ada jadwal meeting sementara waktu sudah mepet, namun di jalan kita berencana mengisi bensin. Saat mendekati POM bensin, ternyata antriannya panjang. Jalan alternatif yang bisa dilakukan adalah dengan mengisi bensin setelah meeting saat kembali ke kantor. Jadi kita tetap hadir meeting tepat waktu, namun tetap bisa memenuhi kebutuhan isi bensin kita setelahnya.
Hal ini adalah contoh sederhana. Point yang ingin disampaikan disini adalah kemampuan kita mengolah dan memproses berbagai solusi alternatif dalam menghadapi sebuah situasi, membuat kemampuan kita untuk mengatur waktu semakin kuat.
6. Kemampuan menghargai diri sendiri dan orang lain
Kembali lagi yang menjadi dasar yaitu kesadaran kita dalam menghargai diri sendiri. Bagaimana kita memperlakukan waktu berkaitan dengan bagaimana kita menyikapi diri sendiri. Demikian juga bagaimana kita menyikapi diri sendiri akan memberikan impact terhadap bagaimana kita menyikapi orang lain. Bagaimana kita menghargai waktu orang lain, jadi berkaitan dengan bagaimana kita menghargai waktu diri kita. Kita tentu tidak suka jika seseorang ngaret dengan janjinya terhadap kita, demikian juga orang lain tidak suka jika kita ngaret saat berjanji dengan kita. Pengertian bahwa jika satu hal terlambat bisa berkelanjutan kepada keterlambatan-keterlambatan lainnya, itu berlaku pada diri kita maupun kepada orang lain.
Kemampuan kita untuk mengerti tentang kehidupan berkaitan erat dengan konsep kita memandang waktu. Kemampuan bangsa kita untuk maju, berkaitan dengan konsep masyarakat dalam memberlakukan waktu.
Keterlambatan mencegah terjadinya kesuksesan. Keterlambatan mencegah pertumbuhan. Keterlambatan bisa membuat kita kehilangan kesempatan untuk maju. Keterlambatan, bisa merugikan sejumlah investasi, kerja, dan tenaga yang sudah dikeluarkan untuk sebuah proyek atau sebuah tugas, sekecil apapun itu.
Waktu itu berharga. Seberapa berharga waktu bagi seseorang, bergantung dari bagaimana seseorang menghargai kehidupan.
Apakah kita sudah menjadi bangsa yang berbudaya menghargai waktu?
Bagaimana seseorang menyikapi waktu adalah bagaimana seseorang menyikapi dirinya dan hidupnya. Bagaimana masyarakat menyikapi waktu adalah bagaimana masyarakat menyikapi diri serta kehidupan masyarakat tersebut. Bagaimana sebuah bangsa menyikapi waktu adalah bagaimana bangsa tersebut menyikapi kehidupan dalam bangsa tersebut.
Minggu, 29 Agustus 2010
Dilarang Puasa di Italia
"By Republika
Saat masyarakat menjalankan ibadah puasa dengan tenang, pekerja muslim di Italia justru dilarang berpuasa selama Ramadan. Larangan tersebut dikeluarkan Komite Keselamatan Kegiatan Pertanian Italia. Mereka mengharuskan pekerja di ladang, termasuk Muslim, untuk tetap makan dan minum selama Ramadhan dengan alasan kesehatan. Jika tak patuh, mereka akan dipecat.
Peraturan itu dikeluarkan di Kota Mantufa, Italia Utara. Serikat Buruh Pusat di negeri tersebut pun menyepakati peraturan tersebut. Mereka beralasan, peraturan berdasarkan rancangan perundangan yang mengharuskan pekerja pada siang hari untuk banyak minum.
Jika mengonsumsi sedikit air di musim panas, maka dapat berisiko terkena bahaya sengatan matahari atau bahaya kekeringan serta mengakibatkan hal-hal yang membahayakan kehidupan. Itu karena cuaca panas yang sangat terik di negeri itu saat Ramadhan, lebih dari 30 derajat Celcius. Mereka menganggap dengan waktu puasa yang lebih dari 16 jam, pekerja akan tidak bertenaga.
"Para buruh yang menolak minum selama Ramadhan menciptakan persoalan yang perlu diperhatikan. Ini untuk kesehatan mereka, karena cuaca lebih dari 30 derajat celcius," ujar Komite Keselamatan Kegiatan Pertanian Italia, Roberto Cagliari, seperti dikutip Muslimdaily.com. Peraturan ini sangat tidak masuk akal, terlebih dikeluarkan menjelang Ramadan, bulan di mana umat muslim sedang dalam ghirah tertinggi untuk mengumpulkan pahala melalui ibadah wajib dan sunnah.
Peraturan itu adalah salah satu tantangan muslim di Italia saat menjalankan ibadah puasa di negeri yang mayoritas Katolik. Muslim di negeri itu adalah minoritas, dan tidak ada pengakuan negara terhadap Islam sebagai agama yang berdaulat. Pemerintah Italia pun tidak mengizinkan muslim membuat stasiun televisi atau radio yang khusus menyiarkan program-program dan acara-acara islami. Pemerintah Italia juga melarang muslim di sana menguburkan jenazah secara Islam, kecuali di kota Roma.
Dr. Abdul Wali As-Syamiri, seorang imigran Yaman di Roma, seperti dikutip dari situs KMM Mesir, mengatakan, selama di Italia dia tidak merasakan suasana Ramadan yang khas seperti di negerinya. Rasa rindu akan keluarga kerap menghampirinya, yaitu saat kebersamaan berbuka puasa.
Syamiri harus menjalankan puasa seadanya di Roma. Tanpa keluarga, tanpa makanan spesial Ramadan, dan tanpa lantunan azan atau acara religi di televisi. Meski demikian, dia masih bisa melaksanakan segala ibadah ritual Ramadan. "Kami bisa rutin melakukan salat lima waktu, tarawih, serta salat jamaah lainnya di Masjid Agung Roma," paparnya.
Pada bulan suci ini, biasanya orang Muslim di Roma, yang kebanyakan imigran, masih dapat menghidupkan malam-malam Ramadhan. Mereka bertilawah, salat malam dan iktikaf di Masjid Agung Roma.
Mesjid ini merupakan satu-satunya tempat yang bisa diandalkan untuk berbagai ibadah dan kegiatan muslim Italia. Lokasinya pun jauh dari permukiman muslim. Kebanyakan jamaah berasal dari luar kota, hanya sebagian kecil yang berasal dari sekitar masjid.
Sayangnya, suasana ini hanya dapat dirasakan oleh Muslim yang berada di Kota Roma, terutama di sekitar Masjid Agung. Sedangkan yang di tempat lain sangatlah sulit, apalagi masjid sangat minim di sana. Kalaupun ada masjid atau mushala di daerah lain, tidak semuanya mendapatkan izin resmi yang membolehkan iktikaf.
Seandainya ada yang melakukan iktikaf di masjid atau mushala yang tidak punya izin resmi, maka itu dianggap tindakan kriminal. Akibatnya, mereka hanya sekadar shalat fardu dan tarawih di masjid tersebut. Sebagian besar masjid di sana juga tidak dibolehkan memakai pengeras suara ke luar masjid. Jadi, kalau azan berkumandang, misalnya, hanya bisa didengar oleh orang-orang yang berada di dalam masjid."
- * * * -
Hal itu membuat saya berpikir:
Seharusnya kita bersyukur dan malu..
Mereka, saudara muslim kita, di belahan bumi yang berbeda harus berjuang ekstra untuk dapat beribadah di bulan Ramadhan. Banyak yang menghalangi mereka untuk beribadah. Untuk menikmati indahnya berpuasa di bulan penuh rahmat ini pun mereka tidak bisa karena larangan yang dibuat oleh pemerintah dengan alasan yang mereka buat karena ketidak tahuan mereka akan kasih sayang Allah SWT. Bahkan untuk menikmati salat berjamaah di masjid pun mereka tidak bisa.
Sangat berbeda dengan keadaan kita yang sangat didukung oleh pemerintah dan masyarakat. Kita bebas berpuasa, pemerintah pun memberi banyak keringanan saat di bulan Ramadhan, saperti lamanya kegiatan belajar-mengajar yang dikurangi, pelarangan rumah makan yang aktif tanpa penutup (supaya orang-orang yang melewati warung/ rumah makan itu tak ada yang dapat melihat hidangan atau oarang yang makan di dalamnya).. Untuk salat berjamaah di masjid pun kita tidak perlu susah, banyak masjid dan musola yg menyediakan tempat dan imam untuk salat berjamaah, bahkan sebagian besar masjid menyediakan ta'jil untuk buka puasa bersama di masjid yang diberikan secara gratis..
Namun, mengapa banyak dari umat islam di Indonesia yang tidak menjalankan ibadah puasa?? Mengapa masih banyak yang malas untuk sekedar salat tarawih berjamaah di masjid/ musola??
Semoga ini bisa menjadi renungan untuk kita semua, untuk saya..
Senin, 09 Agustus 2010
Ar Rohiim (Sang Maha Penyayang)
Tidak setiap orang mengetahui, bahwa
jauh di dalam jiwanya, setiap hari bergaung
selaksa doa tanpa kata
"Wahai Sang Maha Penyayang,
jangan sampai hari ini aku tak makan,
jangan sampai tak minum,
jangan sampai patah tangan,
jangan sampai jiwa linglung,
jangan sampai hari berantakan,
jangan sampai napas lepas dari hidung,
jangan sampai kehabisan pakaian,
jangan sampai tidur tidak bangun,
jangan sampai menyerbu banjir bandang,
jangan sampai meledak gunung,
jangan sampai pecah bintang, jangan sampai matahari turun,..."
Dan Allah Maha Mengabulkan
Namun, teramat sedikit yang orang rasa dan pikirkan
Selaksa doa yang diam, selaksa penghargaan bisu
Diucapkan oleh kesunyian:
Allah Maha Meniti dan Mendengarkan
Kasihnya tak terumuskan,
Dimulut-Nya sukma orang-orang bergelantungan
Di malam-malam yang sepi
orang mengucapkan permintaan-permintaan tambahan
Sebab segala telah dijamin Tuhan, terkubur
di tanah bisu kealpaan
"Kenapakah saudaraku -demikian engkau mengatakan-
kenapakah selalu hanya kita yang ingat satu diantara seribu:
yakni anugrah Allah yang tertunda, atau
ia balik warna kejadiannya -sedang dengan itu kita diajari bagaimana membaca rahasia?"
(Emha Ainun Nadjib)
jauh di dalam jiwanya, setiap hari bergaung
selaksa doa tanpa kata
"Wahai Sang Maha Penyayang,
jangan sampai hari ini aku tak makan,
jangan sampai tak minum,
jangan sampai patah tangan,
jangan sampai jiwa linglung,
jangan sampai hari berantakan,
jangan sampai napas lepas dari hidung,
jangan sampai kehabisan pakaian,
jangan sampai tidur tidak bangun,
jangan sampai menyerbu banjir bandang,
jangan sampai meledak gunung,
jangan sampai pecah bintang, jangan sampai matahari turun,..."
Dan Allah Maha Mengabulkan
Namun, teramat sedikit yang orang rasa dan pikirkan
Selaksa doa yang diam, selaksa penghargaan bisu
Diucapkan oleh kesunyian:
Allah Maha Meniti dan Mendengarkan
Kasihnya tak terumuskan,
Dimulut-Nya sukma orang-orang bergelantungan
Di malam-malam yang sepi
orang mengucapkan permintaan-permintaan tambahan
Sebab segala telah dijamin Tuhan, terkubur
di tanah bisu kealpaan
"Kenapakah saudaraku -demikian engkau mengatakan-
kenapakah selalu hanya kita yang ingat satu diantara seribu:
yakni anugrah Allah yang tertunda, atau
ia balik warna kejadiannya -sedang dengan itu kita diajari bagaimana membaca rahasia?"
(Emha Ainun Nadjib)
Senin, 02 Agustus 2010
Kesadaran dan Keikhlasan Menjalankan Peran
Jumat, 30/07/2010 07:55 WIB
Oleh Endang TS Amir
Baru-baru ini aku berkenalan dengan seorang ibu (ibunya teman sekolah anakku). Awalnya, karena baru kenal, obrolan kami hanya seputar hal-hal yang umum saja. Keesokkan harinya, kami berbincang tentang perkembangan anak-anak. Keesokkan harinya lagi , obrolan kami masih seputar perkembangan anak-anak.
Tapi anehnya, dalam setiap bahasan ia selalu mengatakan “Saya kan S2, jadi bla, bla, bla.” Jadi entah sudah berapa kali dalam obrolan kami hari itu ia menyebut “Saya kan S2.” Pada saat itu, kupikir ia hanya berusaha memperlihatkan bahwa ia adalah wanita terdidik. Ia berusaha memberitahu bahwa ia bukan orang “sembarangan”.
Keesokkan harinya, kami berkesempatan untuk bertemu lagi. Ia masih memakai gaya bahasa yang sama seperti kemarin, mengawali pembahasan sesuatu dengan “Saya kan S2”. Mungkin ia takut aku lupa, jadi perlu diulang-ulang. Aku jadi merasa tidak nyaman. Apa pentingnya kita menyebut diri kita lulusan S2 hanya karena kita memasukkan anak kita ke SDIT? Apa pentingnya menyebut diri kita lulusan S2 hanya karena semua anak-anaknya diikutkan kursus Matematika dan Bahasa Inggris sejak TK. Selain nggak penting juga nggak nyambung. Lama-lama aku berpikir, jangan-jangan Ibu ini “Stress”.
Suatu hari, tanpa disangka-sangka, ibu ini menghampiriku, katanya, “Saya perlu bicara, bisa?” sedikit bingung, aku mengiyakan.
Ternyata benar, ibu ini dalam keadaan tertekan. Depresi berat, sampai-sampai ia mengaku pernah berfikir untuk bunuh diri. Masya Allah. Akhirnya, aku undang ibu tersebut untuk silaturahmi ke rumahku, agar ia dapat lebih bebas mengeluarkan isi hatinya.
……
Ia mengawali kisahnya dengan mengatakan bahwa ia adalah anak orang tidak punya, dengan kemauan keras dan dukungan orang tuanya, ia dapat menyelesaikan studi S2-nya. Ia kemudian bekerja dan menjadi tulang punggung keluarga. Ia masih bekerja setelah menikah. Namun setelah memiliki anak, ia berhenti bekerja.
Dengan memiliki anak, tentu saja ada pergeseran prioritas dan penambahan tanggung jawab. Sang suami kurang setuju jika ia tetap bekerja. Terlebih, secara materi suami mampu mencukupi. Demi menghargai, menghormati dan mentaati suaminya, iapun berhenti bekerja, sehingga beralih perannya menjadi fulltime mother.
Menjalankan peran sebagai Ibu Rumah Tangga, bagi sebagian perempuan, adalah hal yang biasa, tapi bagi sebagian perempuan lain, merupakan hal yang berat dan memerlukan pengorbanan yang besar. Terlebih, jika perempuan tersebut berpendidikan tinggi dan memiliki jabatan yang lumayan . Seperti contoh kasus diatas.
Konflik batin. Itulah yang mendera hatinya. Di satu sisi, ia menyadari demikian besar hak suami atas dirinya. Karena tidak ada kewajiban yang lebih utama bagi seorang istri setelah ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya, melainkan ketaatan kepada suaminya. Di sisi lain, ada keinginan besar untuk membantu orangtua karena sangat besar pengorbanan orangtuanya sehingga ia dapat meraih gelar S2nya, pun ia adalah tulang punggung keluarga. Setelah tidak bekerja, tentu saja ia tidak memiliki kebebasan financial. Selain itu, ia merasa jerih payahnya menyelesaikan studi S2-nya menjadi sia-sia.
…..
Menikah adalah “kontrak kerjasama” antara laki-laki dan perempuan untuk membangun sebuah keluarga. Dalam “kontrak kerjasama” tersebut tentu saja tertuang mengenai hak dan kewajiban masing-masing pihak. Tersirat mengenai beberapa kesepakatan dan kesefahaman.
Dalam “kontrak kerjasama” itu ada hal-hal yang sudah baku dan tertuang secara eksplisit. Yaitu, masing-masing pihak mengetahui dan menyetujui untuk melakukan aturan-aturan dalam pernikahan. Suami berkewajiban mencari nafkah, istri berkewajiban mengurus anak dan hal-hal yang berbau kerumahtanggaan.
Ada pula yang tertuang secara implicit. Biasanya, masing-masing pihak tidak membicarakan atau membahasnya, tetapi saling memahami. Seperti kalau genteng bocor, maka tugas suami untuk mengurusnya, halaman rumah berantakan, maka istri yang bertugas membereskan. Dll.
Nah, selain hal-hal diatas, ada lagi yang namanya “hidden agenda” atau agenda tersembunyi. Keinginan dari salah satu pihak yang ditutupi, kemudian diutarakan setelah pernikahan. Contoh yang extreme adalah suami tidak ingin punya anak misalnya. Sedang contoh yang paling banyak adalah, suami melarang istrinya bekerja, padahal sebelum menikah istrinya adalah wanita pekerja.
Kondisi ini rentan menimbulkan konflik, jika tidak dibicarakan pada saat proses ta’aruf atau di awal-awal pernikahan. Setidaknya Suami menyampaikan harapan bahwa yang ia dambankan adalah seorang istri yang akan selalu ada di rumah ketika ia pulang dari bekerja. Sehingga sang istri dapat memprepare dirinya agar siap menjadi Ibu Rumah Tangga.
Pada kasus teman baru ku ini, suami tidak membicarakan dari awal tentang keinginannya agar sang istri menjadi full time mother. Sedangkan mind set istrinya adalah menjadi wanita karir, karenanya ia berjuang hingga meraih gelar S2nya. Maka, kendati peran sebagai full time mother ia lakukan, ia menjalankannya tidak dengan kesadaranpenuh. Ia jalankan perannya setengah hati. Sehingga yang timbul pada dirinya adalah rasa tidak bahagia menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga.
Inilah yang menjadi problem awal dari kehidupan rumah tangganya yang kemudian menjalar ke mana-mana. Setelah sekian tahun berjalan, ia merasa jenuh dan lelah. Ia merasa bodoh, tidak keren dan tidak berdaya. Akhirnya, timbul kecurigaan-kecurigaan berlebih terhadap suaminya. Yang memperparah keadaan adalah suami tidak sensitive terhadap “masalah” yang dialami istrinya.
Prasangka-prasangkanya terus berkembang. Sehingga masalah-masalah sepele menjadi besar. Melihat suaminya bercanda dengan anaknya yang kebetulan sedang diasuh pembantunya, ia cemburu. Suaminya pergi dinas luar kota, ia panic. Hingga di titik tertentu, ia pernah merasa jelek, tua dan tidak menarik. Ia merasa pilihan menjadi ibu rumah tangga adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Membangun cintra diri yang positif sebagai Ibu Rumah Tangga bukan hal yang mudah. Banyak kaum wanita yang tidak “bangga” dengan perannya sebagai Ibu. Karenanya ketika ditanya apa kegiatan sehari-harinya, banyak kaum ibu yang manjawab,”Saya CUMA Ibu Rumah Tangga.” Padahal, peran sebagai Ibu adalah peran yang sangat mulia untuk melahirkan dan menumbuhkan generasi penerus. Betapa seorang ibu adalah guru pertama dan utama bagi seorang manusia. Bahwa keberadaannya di rumah untuk mengurus rumah tangga, suami dan anak-anak akan dicatat sebagai ibadah kepada Allah Swt.
Tanpa pengelolaan konsep diri yang positif, seorang ibu akan sulit menjalankan perannya dengan penuh cinta dan kebahagiaan. Tak heran jika lama-kelamaan ibu menjadi stress berat. Bayangkan, pekerjaan rumah yang bertumpuk-tumpuk, seakan-akan tidak pernah selesai. Selesai tugas yang satu, telah menunggu tugas yang lain. Dari mulai mencuci baju, menyetrika, mencuci piring, membereskan rumah, memasak, mengurus anak dll. Padahal kunci untuk dapat menikmati apa yang kita lakukan adalah ketika kita mencintai apa yang kita lakukan. Jika kita mencintai peran kita sebagai ibu, maka kita akan dapat menghargai dan memaksimalkan peran kita tanpa merasa terbebani.
Karenanya, menjadi Ibu haruslah dilakoni penuh kesadaran dan keikhlasan. Tanpanya, kita tidak dapat menikmati peran keibuan kita. Tanpanya, apa-apa yang kita lakukan dalam pemenuhan kewajiban kita sebagai ibu menjadi sia-sia. Jadi, bangun citra diri positif sebagai Ibu dan berbanggalah dengan menjadi Ibu.
Wallahu’alam
Ummuali.wordpress.com
Langganan:
Komentar (Atom)