Senin, 09 Agustus 2010

Ar Rohiim (Sang Maha Penyayang)

Tidak setiap orang mengetahui, bahwa
jauh di dalam jiwanya, setiap hari bergaung
selaksa doa tanpa kata


"Wahai Sang Maha Penyayang,
jangan sampai hari ini aku tak makan,
jangan sampai tak minum,
jangan sampai patah tangan,
jangan sampai jiwa linglung,
jangan sampai hari berantakan,
jangan sampai napas lepas dari hidung,
jangan sampai kehabisan pakaian,
jangan sampai tidur tidak bangun,
jangan sampai menyerbu banjir bandang,
jangan sampai meledak gunung,
jangan sampai pecah bintang, jangan sampai matahari turun,..."

Dan Allah Maha Mengabulkan
Namun, teramat sedikit yang orang rasa dan pikirkan

Selaksa doa yang diam, selaksa penghargaan bisu
Diucapkan oleh kesunyian:
Allah Maha Meniti dan Mendengarkan
Kasihnya tak terumuskan,
Dimulut-Nya sukma orang-orang bergelantungan

Di malam-malam yang sepi
orang mengucapkan permintaan-permintaan tambahan
Sebab segala telah dijamin Tuhan, terkubur
di tanah bisu kealpaan

"Kenapakah saudaraku -demikian engkau mengatakan-
kenapakah selalu hanya kita yang ingat satu diantara seribu:
yakni anugrah Allah yang tertunda, atau
ia balik warna kejadiannya -sedang dengan itu kita diajari bagaimana membaca rahasia?"

(Emha Ainun Nadjib)

Tidak ada komentar: