Rabu, 31 Agustus 2016

Kamu dan Mereka..

Sepertinya aku paham apa yang membuatmu terus menghindari dekat denganku ketika bersama mereka. Karena bagimu dan bagi mereka, selalu aku yang dominan. Selalu aku yang harus diturutin. Selalu aku yang membuat tak nyaman. Meski sesungguhnya aku menunggu (dengan tidak sabar) menunggu kamu yang mendominasi aku, menunggu kamu yang over protektif padaku, menunggu kamu yang nyaman bersamaku dan mereka. 

Tidakkah sering aku memintamu lebih dulu mengajakku solat? Dan aku tidak akan pernah menolak atau bete ketika kamu melakukannya. Namun yang ada sebaliknya, harus aku yang mulai ngajak dan harus selalu kamu jawab "nanti", sedangkan ketika orang lain yang mengajakmu jawabanmu selalu "ayok"

Tidakkah sering aku memintamu memperhatikan aku? Terutama ketika sedang bersama mereka. Dan aku selalu mudah bahagia dengan hal-hal kecil yang membuatku diperhatikan olehmu, meski juga mudah kecewa dengan hal-hal kecil yang membuatku dikesampingkan olehmu. Aku amat bangga ketika kamu lebih dulu memberitahuku mengenai rencana-rencana mengenai apa pun yang akan kita lakukan bersama mereka, dan kadang rencanamu sama seperti yang aku rencanakan. Aku sudah amat bangga dengan kamu bersedia jalan di samping aku ketika bersama mereka, tapi seringnya kamu memilih satu di antara mereka untuk kamu bisa berjalan di sampingnya, sedangkan aku harus mencari orang lain yang mau dan cocok berbincang denganku. Aku sudah bangga hanya dengan kamu mau pamit ketika akan pergi ke suatu tempat meski pamitnya tidak khusus untukku, tapi kecewa ketika yang kamu tatap bukan aku seakan aku tak terlihat di antara mereka. Aku sudah amat bahagia ketika dulu temanku mengatakan "dia nyariin kamu terus tuh" meski kita di tempat yang sama hanya berjarak beberapa meter, juga amat bahagia ketika aku tau bahwa ternyata kamu memperhatikan aku dari luar memastikan ga ada yang iseng sama aku, sayangnya itu hanya satu-dua kali terjadi (atau lebih tepatnya aku ketahui), dan seringnya orang lain yang selalu kamu cari ketika aku bahkan tak terlihat dari tempatmu melihat.

Aku senang ketika kamu mendominasi dengan perhatian kecil kamu tanpa mengesampingkan aku juga dengan kepercayaan kamu. Oke aku sedih ketika kamu marah-marah hanya masalah isi bensin, tapi bukan karena marah kamu yang bikin aku bete tapi karena kamu tidak percaya bahwa bensinnya beneran abis loh, beneran harus beli loh.

Bukannya aku ga inget karena apa kita bertemu, karena apa kita dekat. Tapi aku tidak suka karena tempat yang membuat kita bertemu dan dekat bukan lagi tempat yang membuatku nyaman, bukan lagi tempat yang membuatku merasa aman. Banyak hal yang membuat aku trauma dan terus menjadi sensitif jika sudah berkaitan dengan mereka. Karena bagiku, mereka yang membuatmu menjadi orang yang seharian ga bisa aku jangkau tanpa kabar, juga tanpa kepastian, bersama mereka juga yang membuatmu seakan tak punya waktu istirahat, bersama mereka aku sering terabaikan olehmu, bersama mereka juga aku tidak pernah menjadi prioritasmu.

Aku tidak akan lupakan mereka, tempat yang menyatukan kita, namun aku hanya mencoba sebisa mungkin tidak membuat mereka merasa tidak nyaman dengan keberadaanku yang dari awal tak selalu mereka harapkan, dengan keberadaanku yang sulit dipahami, dari keberadaanku yang sulit diterima, dari keberadaanku yang semakin sensitif bersama mereka. Aku bukan bagian inti dari mereka, dan hanya orang luar yang kadang mereka perlukan saran & masukannya. Kamu boleh terus dan tetap terlibat di tempat yang manyatukan kita, tapi jangan libatkan aku, jangan paksa aku untuk bisa terus terlibat bersama mereka. Aku akan tetap ada untuk semua cerita dan keluh kesah kamu dan mereka, aku akan tetap ada jika bantuanku memang dibutuhkan. Dan aku akan kembali pulang ke tempat itu untuk memberikan bantuanku, bukan untuk meminta pelukan hangat, bukan untuk meminta penerimaan tanpa syarat.

Biarkan aku mencintai mereka dengan caraku. Dan kamu mencintai mereka dengan cara yang kamu mau.


Jakarta, Agustus 2016

Senin, 29 Agustus 2016


"Setelah lulus kuliah dan selama proses mencari kerja itu masa di mana saya merasakan berada pada posisi paling rendah dalam hidup saya" itulah yang dikatakan sepupu sekaligus teman diskusi saya.

Dan dia benar. Kini aku mengalaminya. Mencari kerja tidak semudah yang dibayangkan. Lowongan pekerjaan cukup banyak, tapi yang membutuhkan pekerjaan lebih banyak. Belum lagi subjektivitas rekruiter dalam memilih orang yang tepat untuk posisi yang dibutuhkannya. Ditambah harus mau keluar dari zona nyaman untuk bertemu orang baru di tempat yang tak jarang sangat asing bahkan sangat jauh dari tempat kita tinggal, kemudian harus meyakinkan orang lain bahwa kita juga pilihan yang tepat untuk bekerja bersamanya di perusahaan yang sama.

Sering jiwa ingin menyerah dan pasrah dari perjuangan yang baru berapa langkah jika dibandingkan dengan orang-orang lain yang lebih tabah dan lebih istiqomah dalam perjuangannya mendapat pekerjaan, yang rela harus mondar-mandir Malang-Surabaya-Karawang-Surabaya demi memperjuangkan masa depan lebih baik, yaitu mendapat pekerjaan.

Sering raga iri pada mereka yang baru satu-dua kali melakukan tes & wawancara langsung mendapat pekerjaan. Tak bisa kah hidup selalu semudah itu?

Namun, rezeki dan takdir tiap orang berbeda. Keyakinan itu yang dapat mengurangi iri di hati demi melihat kesuksesan orang lain.

Di saat sulit seperti ini, tak ada yang dapat dijadikan tempat bercerita. Meski hanya sebuah cerita kegundahan hati yang tak kunjung merasa bangga. Apalah daya hati tak sanggup bila orang tua harus tau bahwa langkah kecil anaknya sudah membuatnya merasa berjuang. Tidak lah dapat sebanding dengan perjuangan mereka untuk dapat menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi. Apalah daya sahabat pun punya permasalahan hidup masing-masih, lantas untuk apa bercerita tentang kerikil kecil dalam hidup pribadi. Sedangkan sandaran hidup pun belum tentu selalu ada dan paham yang dirasakan diri ini.

Untunglah masih ada satu orang, setidaknya satu orang dekat yang paham bahwa proses ini tak mudah dan tak mulus. Aku berharap, selalu berharap aku menjadi salah satu orang itu, yang paham dan selalu ada untuk dia bersandar dalam lelah dan dalam kebimbangannya. Semoga,, dan semoga ia mau menyandarkan hidupnya padaku.

Dan masih ada yang meghibur, yaitu masa sekolah dan masa-masa kuliah yang kini kudambakan. Masa di mana yang kupikirkan hanya 'bagaimana mendapat nilai bagus', 'bagaimana mengerjakan tugas A B C..', 'bagaimana menyelesaikan pertengkaran antarsahabat'. Belum tentang 'bagaimana hidupku hari esok, adakah rezeki berupa pekerjaan yang kudambakan menjawab perjuanganku esok hari?'

Maba 2011
Aku kan mencari
Namun hati nelangsa
Lebih baik ku tak mengetahui

Aku kan menanti
Namun raga tersiksa
Lebih baik ku tak mengharap

Pada rasamu..
Pada ragamu..
Pada kasihmu..

Mungkin esok kau kan menghampiri
Mungkin juga tidak sama sekali

Mungkin lusa kau kan kembali
Mungkin juga pergi tuk selamanya