Senin, 29 Agustus 2016


"Setelah lulus kuliah dan selama proses mencari kerja itu masa di mana saya merasakan berada pada posisi paling rendah dalam hidup saya" itulah yang dikatakan sepupu sekaligus teman diskusi saya.

Dan dia benar. Kini aku mengalaminya. Mencari kerja tidak semudah yang dibayangkan. Lowongan pekerjaan cukup banyak, tapi yang membutuhkan pekerjaan lebih banyak. Belum lagi subjektivitas rekruiter dalam memilih orang yang tepat untuk posisi yang dibutuhkannya. Ditambah harus mau keluar dari zona nyaman untuk bertemu orang baru di tempat yang tak jarang sangat asing bahkan sangat jauh dari tempat kita tinggal, kemudian harus meyakinkan orang lain bahwa kita juga pilihan yang tepat untuk bekerja bersamanya di perusahaan yang sama.

Sering jiwa ingin menyerah dan pasrah dari perjuangan yang baru berapa langkah jika dibandingkan dengan orang-orang lain yang lebih tabah dan lebih istiqomah dalam perjuangannya mendapat pekerjaan, yang rela harus mondar-mandir Malang-Surabaya-Karawang-Surabaya demi memperjuangkan masa depan lebih baik, yaitu mendapat pekerjaan.

Sering raga iri pada mereka yang baru satu-dua kali melakukan tes & wawancara langsung mendapat pekerjaan. Tak bisa kah hidup selalu semudah itu?

Namun, rezeki dan takdir tiap orang berbeda. Keyakinan itu yang dapat mengurangi iri di hati demi melihat kesuksesan orang lain.

Di saat sulit seperti ini, tak ada yang dapat dijadikan tempat bercerita. Meski hanya sebuah cerita kegundahan hati yang tak kunjung merasa bangga. Apalah daya hati tak sanggup bila orang tua harus tau bahwa langkah kecil anaknya sudah membuatnya merasa berjuang. Tidak lah dapat sebanding dengan perjuangan mereka untuk dapat menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi. Apalah daya sahabat pun punya permasalahan hidup masing-masih, lantas untuk apa bercerita tentang kerikil kecil dalam hidup pribadi. Sedangkan sandaran hidup pun belum tentu selalu ada dan paham yang dirasakan diri ini.

Untunglah masih ada satu orang, setidaknya satu orang dekat yang paham bahwa proses ini tak mudah dan tak mulus. Aku berharap, selalu berharap aku menjadi salah satu orang itu, yang paham dan selalu ada untuk dia bersandar dalam lelah dan dalam kebimbangannya. Semoga,, dan semoga ia mau menyandarkan hidupnya padaku.

Dan masih ada yang meghibur, yaitu masa sekolah dan masa-masa kuliah yang kini kudambakan. Masa di mana yang kupikirkan hanya 'bagaimana mendapat nilai bagus', 'bagaimana mengerjakan tugas A B C..', 'bagaimana menyelesaikan pertengkaran antarsahabat'. Belum tentang 'bagaimana hidupku hari esok, adakah rezeki berupa pekerjaan yang kudambakan menjawab perjuanganku esok hari?'

Maba 2011

Tidak ada komentar: