Ibu...
kaulah yang pertama
Saat aku tumbuh dalam rahimmu
Kaulah yang pertama merasa bahagia
Kaulah yang pertama membulatkan tekat tuk menjagaku
Saat aku mulai aktif dan sering membuatmu sakit
Kaulah yang pertama bangga mengetahuinya
meskipun sakit, kau tak peduli
Saat aku lahir
Kaulah yang pertama memelukku
Kaulah yang paling merasa bahagia melihatku lahir dengan sehat
Saat aku mulai tumbuh dan belajar segala hal
Kaulah yang pertama tahu
Dan kau lah yang selalu mengamati pertumbuhanku dengan senyum
Meki lelah kau tak peduli
Kau hanya ingin melihatku tumbuh dan berkembang dalam pengawasanmu
Saat aku masuk sekolah
Kaulah yang pertama merelakan harimu tuk menungguku hingga usai sekolah
Kaulah yang pertama kulihat saat aku melihat keluar kelas
Kaulah yang pertama memperhatikan segala kebutuhan-kebutuhanku
Saat aku sakit
Kaulah yang pertama tahu
Kaulah yang pertama yang mencemaskanku
Kaulah yang pertama mencari akal agar aku lekas sembuh
Dan kaulah yang pertama dan yang selalu menjagaku hingga aku sembuh
Saat aku hendak sekolah ke tingkat yang lebih tinggi
Kaulah yang pertama mencarikan sekolah yang terbaik untukku
Kaulah yang pertama mendorongku tuk berusaha mendapatkan yang terbaik itu
Saat aku bingung menentukan cita-citaku
Dan yang lain menuntutku ini-itu
kaulah yang pertama membiarkanku memilih yang aku inginkan
Saat aku akan menempuh ujian
Kaulah yang pertama mendoakanku dalam setiap shalatmu
Kaulah yang pertama menemaniku belajar di malam hari
Saat aku lulus
Kaulah yang pertama merasa bangga
Saat aku gagal
Kaulah yang pertama menguatkanku tuk tegar dan tetap stiqamah
Saat aku menemukan seseorang yang aku cintai
Kaulah yang pertama merasa cemas
Apakah pilihanku baik untuk masa depanku atau tidak
Tapi, Kaulah yang pertama mengerti bahwa dia lah pilihanku
Saat aku hendak menikah
Kaulah yang pertama merepotkan segala keperluanku
Kaulah yang pertama tahu bagaimana perasaanku
Dan kaulah yang poertama tahu betapa bahagianya aku
Saat aku mulai menjalani kehidupan bersama keluarga baruku
Kaulah yang pertama mencemaskanku
Apakah aku menjalaninya dengan baik, atau aku mendapati masalah
Kaulah yang pertama ingin tahu keadaanku dan keluargaku
by: Ilbana
Rabu, 23 Desember 2009
Jumat, 20 November 2009
Cinta datang tanpa pernah kuduga sebelumnya
Ia datang tiba-tiba ke dalam relung hatiku
Menyapaku....
Mengisi hatiku....
Namun ku tak pernah mencoba tuk peduli
Waktu terus berlalu
Hingga akhirnya kusadari
Keberadaan dirinya di lubuk hatiku...
Getaran di hati saat bersamanya.
Tetapi ketika saat itu tiba...
Diri ini sedih...
Mengingat dirinya telah pergi meninggalkanku
Ku mencoba melupakan dirinya
Namun ku tak sanggup....
Akhirnya ku putuskan tuk menjadikannya kenangan indah
Yang kan ku simpan rapi di dalam hati ini
Hingga kau kembali menyapaku....
Mengisi hatiku kembali...
Dan membuka kenangan indah ini
Serta mengisinya kembal i
Ia datang tiba-tiba ke dalam relung hatiku
Menyapaku....
Mengisi hatiku....
Namun ku tak pernah mencoba tuk peduli
Waktu terus berlalu
Hingga akhirnya kusadari
Keberadaan dirinya di lubuk hatiku...
Getaran di hati saat bersamanya.
Tetapi ketika saat itu tiba...
Diri ini sedih...
Mengingat dirinya telah pergi meninggalkanku
Ku mencoba melupakan dirinya
Namun ku tak sanggup....
Akhirnya ku putuskan tuk menjadikannya kenangan indah
Yang kan ku simpan rapi di dalam hati ini
Hingga kau kembali menyapaku....
Mengisi hatiku kembali...
Dan membuka kenangan indah ini
Serta mengisinya kembal i
Kamis, 19 November 2009
Keistimewaan Wanita
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=1330354
20 Keistimewaan Wanita
Berbahagialah wahai wanita shalehah. Sebab Rasulullah SAW bersabda, “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim, Ahmad, dan An-Nasa’i).
Disisi lain berhati-hatilah sebab Beliau SAW juga berpesan tentang fitnah terbesar dari kaum mu, “Tidak ada suatu fitnah (bencana) yang lebih besar bahayanya dan lebih bermaharajalela-selepas wafatku terhadap kaum lelaki selain daripada fitnah yang berpunca daripada kaum wanita.” (H.R. Bukhari, Muslim, Ahmad, at-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah).
1. Do’a wanita lebih makbul daripada lelaki karena sifat penyayang yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah SAW akan hal tersebut, jawab baginda: “Ibu lebih penyayang daripada Bapak dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia.”
2. Wanita yang solehah itu lebih baik daripada 1000 lelaki yang saleh.
3. Barang siapa yang menggembirakan anak perempuannya, derajatnya seperti orang yang senantiasa menangis karena takut Allah SWT dan orang yang takut Allah SWT akan diharamkan api neraka keatas tubuhnya.
4. Barang siapa yang membawa hadiah (barang, makanan dari pasar kerumah) lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedakah.
5. Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak lelaki. Maka barang siapa yang menyukai akan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail A.S
6. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya, akan tinggal bersama aku (Rasulullah SAW) di dalam surga.
7. Barang siapa yang mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua saudara perempuan, lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dengan penuh rasa takwa serta bertanggung jawab, maka baginya adalah surga.
8. Dari Aisyah r.a. “Barang siapa yang diuji dengan sesuatu dari anak-anak perempuannya lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya api neraka.”
9. Surga itu di bawah telapak kaki ibu.
10. Apabila memanggilmu dua orang ibu bapamu maka jawablah panggilan ibumu dahulu.
11. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu surga. Masuklah dari manapun pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.
12. Wanita yang taat pada suaminya, semua ikan-ikan di laut, burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan, semuanya beristighfar baginya selama dia taat kepada suaminya dan rekannya (serta menjaga sholat dan puasanya).
13. Aisyah r.a. berkata, “Aku bertanya pada rasulullah SAW, siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita?” Jawab baginda, “suaminya.” “Siapa pula berhak terhadap lelaki?” jawab Rasulullah SAW, “Ibunya.”
14. Perempuan apabila sholat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya, serta taat pada suaminya, masuklah dia dari pintu surga mana saja yang dia kehendaki.
15. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah SWT memasukkan dia kedalam surga lebih dahulu daripada suaminya (10.000 tahun)
16. Apabila seorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah SWT mencatatkan baginya setiap hari dengan 1000 kebaikan dan menghapuskan darinya 1000 kejahatan.
17. Apabila seorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah SWT mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah SWT
18. Apabila seorang perempuan melahirkan anak, keluarlah ia dari dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkan
19. Apabila telah lahir (anak) lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan dari susunya diberi satu kebajikan
20. Apabila semalaman (ibu) tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah SWT memberinya pahala seperti memerdekakan 70 orang hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah SWT
Dikutip dari arsip UNIC Virtual Komuniti, dengan perubahan seperlunya tanpa mengubah makna.
20 Keistimewaan Wanita
Berbahagialah wahai wanita shalehah. Sebab Rasulullah SAW bersabda, “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim, Ahmad, dan An-Nasa’i).
Disisi lain berhati-hatilah sebab Beliau SAW juga berpesan tentang fitnah terbesar dari kaum mu, “Tidak ada suatu fitnah (bencana) yang lebih besar bahayanya dan lebih bermaharajalela-selepas wafatku terhadap kaum lelaki selain daripada fitnah yang berpunca daripada kaum wanita.” (H.R. Bukhari, Muslim, Ahmad, at-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah).
1. Do’a wanita lebih makbul daripada lelaki karena sifat penyayang yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah SAW akan hal tersebut, jawab baginda: “Ibu lebih penyayang daripada Bapak dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia.”
2. Wanita yang solehah itu lebih baik daripada 1000 lelaki yang saleh.
3. Barang siapa yang menggembirakan anak perempuannya, derajatnya seperti orang yang senantiasa menangis karena takut Allah SWT dan orang yang takut Allah SWT akan diharamkan api neraka keatas tubuhnya.
4. Barang siapa yang membawa hadiah (barang, makanan dari pasar kerumah) lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedakah.
5. Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak lelaki. Maka barang siapa yang menyukai akan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail A.S
6. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya, akan tinggal bersama aku (Rasulullah SAW) di dalam surga.
7. Barang siapa yang mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua saudara perempuan, lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dengan penuh rasa takwa serta bertanggung jawab, maka baginya adalah surga.
8. Dari Aisyah r.a. “Barang siapa yang diuji dengan sesuatu dari anak-anak perempuannya lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya api neraka.”
9. Surga itu di bawah telapak kaki ibu.
10. Apabila memanggilmu dua orang ibu bapamu maka jawablah panggilan ibumu dahulu.
11. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu surga. Masuklah dari manapun pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.
12. Wanita yang taat pada suaminya, semua ikan-ikan di laut, burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan, semuanya beristighfar baginya selama dia taat kepada suaminya dan rekannya (serta menjaga sholat dan puasanya).
13. Aisyah r.a. berkata, “Aku bertanya pada rasulullah SAW, siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita?” Jawab baginda, “suaminya.” “Siapa pula berhak terhadap lelaki?” jawab Rasulullah SAW, “Ibunya.”
14. Perempuan apabila sholat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya, serta taat pada suaminya, masuklah dia dari pintu surga mana saja yang dia kehendaki.
15. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah SWT memasukkan dia kedalam surga lebih dahulu daripada suaminya (10.000 tahun)
16. Apabila seorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah SWT mencatatkan baginya setiap hari dengan 1000 kebaikan dan menghapuskan darinya 1000 kejahatan.
17. Apabila seorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah SWT mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah SWT
18. Apabila seorang perempuan melahirkan anak, keluarlah ia dari dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkan
19. Apabila telah lahir (anak) lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan dari susunya diberi satu kebajikan
20. Apabila semalaman (ibu) tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah SWT memberinya pahala seperti memerdekakan 70 orang hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah SWT
Dikutip dari arsip UNIC Virtual Komuniti, dengan perubahan seperlunya tanpa mengubah makna.
Senin, 02 November 2009
Hari Baik dan Hari Buruk
Adakah hari baik dan hari buruk dalam kehidupan seorang Muslim?
Bukankah Allah menciptakan segala sesuatu dengan kasih sayang-Nya??
"Iih, bad day banget sih nih hari!
Udah uang jajan ketinggalan, pagi-pagi kena omel supir gara-gara bayar ongkos kurang, eh...pulang kena keliling lapangan sepuluh putaran gara-gara nggak bisa jawab drill matematika! Sial banget sih nih hari! Ups, bete banget ya kalau yang kayak gini menimpa kita. Puas banget sepertinya kalau kita sudah berhasil mengeluarkan uneg-uneg yang bikin kita eneg ini. Lega!
Namun, hati-hati sobat, ternyata ada yang tidak berkenan saat perkataan-perkataan seperti ini meluncur bebas dari bibir kita. Siapa sih? Toh yang mengalami segala peristiwa ini kita sendiri. Yang eneg juga kita sendiri, yang rugi juga kita sendiri. Tidak ada yang tersakiti 'kan?
Budaya Jahiliyah
Dalam sebuah hadist Qudsi (hadist yang perkataannya langsung dari Allah Swt tetapi disampaikan melalui Rasulullah Saw) dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Saw. pernah berkata:
"Allah berfirman: 'Manusia menyakiti Aku: dia mencaci-maki masa, padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa. Akulah yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti'." (HR. Bukhari dan Muslim)
Ups, ternyata yang tersakiti adalah Allah Swt. Mengapa Allah tersakiti? Karena Allah lah yang menciptakan segala sesuatu yang ada di langit dan bumi ini dengan kasih sayang-Nya, dengan segenap kebijaksanaan-Nya dan tak ada yang cacat. Termasuk ketika Ia menciptakan hari yang diperuntukkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Allah dengan segala kasih sayang-Nya, tentu tidak akan memberikan hal yang buruk, apalagi menganiaya hamba-Nya.
Nah, selain sama dengan menyalahkan Allah atas semua yang terjadi pada kita, ternyata jika kita terbiasa mengucapkan kalimat seperti itu, maka kita sama dengan orang-orang Arab Jahiliyyah. Wuaduh?! Ibnu Katsir dalam tafsirnya menceritakan, bahwa orang Arab Jahiliyyah saat itu apabila ditimpa musibah, kesulitan atau bencana, mereka berkata, "Wahai waktu yang sial". Lalu mereka akan mencerca waktu dengan semangat '45 dan menumpahkan kemarahannya. Ehm...Insya Allah , kita nggak sama dengan 'kan?
Hukum Mencela Waktu
Lalu bagaimana hukumnya dalam Islam bila kita menjadikan waktu sebagai kambing hitam? As Syaikh Al-Utsaimin ketika ditanya tentang hukum mencela waktu, beliau menjawab sebagai berikut:
Pertama: Diperbolehkan. Asalkan hanya sekedar mengabarkan tanpa bermaksud mencela. Contohnya, "Hari ini panas banget ya, enaknya kita jalan-jalan dulku ke mall , lumayan 'kan sejuknya." Atau dengan kalimat yang senada dengan itu, tanpa niatan lain.
Kedua : Syirik besar. Mencela waktu dengan anggapan bahwa waktulah sebagai sumber kejadian. Seperti perkataan dalam kalimat: "Coba kita nggak berangkat hari ini, pasti tidak akan terjadi musibah ini." Kalimat ini mengandung unsur penyesalan dan berkesan bahwa waktulah yang menentukan urusan tersebut jadi baik atau buruk. Jika demikian, apa bedanya waktu dengan Allah Yang Maha mengatur segala urusan?
Ketiga : Haram. Seperti perkataan dalam kalimat: "Sial banget deh hari ini." Kalimat ini berarti menyalahkan waktu, padahal sudah jelas bahwa Allah yang menciptakan segala sesuatunya sesuai dengan ukurannya masing-masing. Haram hukumnya bagi seseorang yang sudah mengetahui bahwa Allah menciptakan semua hari adalah baik, kemudian menyatakan hari atau waktu tertentu adalah waktu yang buruk.
Yang Mesti Dilakukan
So, setelah tahu bahwa semua hari adalah baik dan sangat fatal akibatnya jika kita masih punya kebiasaan menimpakan kekesalan kita terhadap hari, maka sangat baik bila kita melakukan beberapa hal dibawah ini, agar kita bisa terhindar dari kebiasaan itu di masa datang.
Pertama , kudu sabar kalau sedang tertimpa musibah. Jangan cepat menggerutu dengan mencela waktu. Bukankah sabar itu sikap seorang Muslim? Bila kita tertimpa musibah ucapkan saja, Innalillahi wa innaa ilaihi raajiuun . Pasti hati kita akan lebih tenang. Ini sesuai dengan firman Allah:
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan Innalillahi wa innaa ilaihi raaji'uun." (QS. Al Baqarah: 155-156)
Kedua , berbaik sangkalah kepada Allah. Jangan menduga-duga. Karena Allah yang mengatur semua waktu. Bukankah Allah telah bersumpah atas nama waktu? Hanya saja, kitalah yang terkadang lalai dalam menyiasati waktu. Bisa saja saat musibah datang menimpa kita, itu disebabkan kelalaian kita sendiri. Misalnya, karena nonton Piala Dunia, kita jadi bangun kesiangan, terburu-buru, hingga uang jajan ketinggalan, bete, ditambah lagi berantem dengan supir. Akhirnya, stress! Dan semua hapalan rumus matematika di kepala hilang! Sobat, begitu banyak peristiwa yang buruk seperti ini karena kelalaian kita mengelola waktu. Allah berfirman:
"Dan mereka berkata: 'kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa (waktu)'. Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja." (QS. Jaatsiyah:24)
Ketiga , serahkan setiap masalah hanya kepada Allah dan berusahalah menjadi orang yang bertakwa atas segala kehendak-Nya. Karena dengan takwa, Insya Allah segala permasalahan kita akan selalu ada jalan keluarnya. Allah berfirman:
".....Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar." (QS. At Thalaaq:2)
Yup! Sobat, apabila ketiga langkah tersebut telah kita jalani, Insya Allah semua hari akan kita jalani dengan indah dan semua hari adalah waktu-waktu terbaik yang Allah berikan kepada kita.
Sumber : Selembar kertas yang memberikan banyak manfaat
Bukankah Allah menciptakan segala sesuatu dengan kasih sayang-Nya??
"Iih, bad day banget sih nih hari!
Udah uang jajan ketinggalan, pagi-pagi kena omel supir gara-gara bayar ongkos kurang, eh...pulang kena keliling lapangan sepuluh putaran gara-gara nggak bisa jawab drill matematika! Sial banget sih nih hari! Ups, bete banget ya kalau yang kayak gini menimpa kita. Puas banget sepertinya kalau kita sudah berhasil mengeluarkan uneg-uneg yang bikin kita eneg ini. Lega!
Namun, hati-hati sobat, ternyata ada yang tidak berkenan saat perkataan-perkataan seperti ini meluncur bebas dari bibir kita. Siapa sih? Toh yang mengalami segala peristiwa ini kita sendiri. Yang eneg juga kita sendiri, yang rugi juga kita sendiri. Tidak ada yang tersakiti 'kan?
Budaya Jahiliyah
Dalam sebuah hadist Qudsi (hadist yang perkataannya langsung dari Allah Swt tetapi disampaikan melalui Rasulullah Saw) dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Saw. pernah berkata:
"Allah berfirman: 'Manusia menyakiti Aku: dia mencaci-maki masa, padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa. Akulah yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti'." (HR. Bukhari dan Muslim)
Ups, ternyata yang tersakiti adalah Allah Swt. Mengapa Allah tersakiti? Karena Allah lah yang menciptakan segala sesuatu yang ada di langit dan bumi ini dengan kasih sayang-Nya, dengan segenap kebijaksanaan-Nya dan tak ada yang cacat. Termasuk ketika Ia menciptakan hari yang diperuntukkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Allah dengan segala kasih sayang-Nya, tentu tidak akan memberikan hal yang buruk, apalagi menganiaya hamba-Nya.
Nah, selain sama dengan menyalahkan Allah atas semua yang terjadi pada kita, ternyata jika kita terbiasa mengucapkan kalimat seperti itu, maka kita sama dengan orang-orang Arab Jahiliyyah. Wuaduh?! Ibnu Katsir dalam tafsirnya menceritakan, bahwa orang Arab Jahiliyyah saat itu apabila ditimpa musibah, kesulitan atau bencana, mereka berkata, "Wahai waktu yang sial". Lalu mereka akan mencerca waktu dengan semangat '45 dan menumpahkan kemarahannya. Ehm...Insya Allah , kita nggak sama dengan 'kan?
Hukum Mencela Waktu
Lalu bagaimana hukumnya dalam Islam bila kita menjadikan waktu sebagai kambing hitam? As Syaikh Al-Utsaimin ketika ditanya tentang hukum mencela waktu, beliau menjawab sebagai berikut:
Pertama: Diperbolehkan. Asalkan hanya sekedar mengabarkan tanpa bermaksud mencela. Contohnya, "Hari ini panas banget ya, enaknya kita jalan-jalan dulku ke mall , lumayan 'kan sejuknya." Atau dengan kalimat yang senada dengan itu, tanpa niatan lain.
Kedua : Syirik besar. Mencela waktu dengan anggapan bahwa waktulah sebagai sumber kejadian. Seperti perkataan dalam kalimat: "Coba kita nggak berangkat hari ini, pasti tidak akan terjadi musibah ini." Kalimat ini mengandung unsur penyesalan dan berkesan bahwa waktulah yang menentukan urusan tersebut jadi baik atau buruk. Jika demikian, apa bedanya waktu dengan Allah Yang Maha mengatur segala urusan?
Ketiga : Haram. Seperti perkataan dalam kalimat: "Sial banget deh hari ini." Kalimat ini berarti menyalahkan waktu, padahal sudah jelas bahwa Allah yang menciptakan segala sesuatunya sesuai dengan ukurannya masing-masing. Haram hukumnya bagi seseorang yang sudah mengetahui bahwa Allah menciptakan semua hari adalah baik, kemudian menyatakan hari atau waktu tertentu adalah waktu yang buruk.
Yang Mesti Dilakukan
So, setelah tahu bahwa semua hari adalah baik dan sangat fatal akibatnya jika kita masih punya kebiasaan menimpakan kekesalan kita terhadap hari, maka sangat baik bila kita melakukan beberapa hal dibawah ini, agar kita bisa terhindar dari kebiasaan itu di masa datang.
Pertama , kudu sabar kalau sedang tertimpa musibah. Jangan cepat menggerutu dengan mencela waktu. Bukankah sabar itu sikap seorang Muslim? Bila kita tertimpa musibah ucapkan saja, Innalillahi wa innaa ilaihi raajiuun . Pasti hati kita akan lebih tenang. Ini sesuai dengan firman Allah:
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan Innalillahi wa innaa ilaihi raaji'uun." (QS. Al Baqarah: 155-156)
Kedua , berbaik sangkalah kepada Allah. Jangan menduga-duga. Karena Allah yang mengatur semua waktu. Bukankah Allah telah bersumpah atas nama waktu? Hanya saja, kitalah yang terkadang lalai dalam menyiasati waktu. Bisa saja saat musibah datang menimpa kita, itu disebabkan kelalaian kita sendiri. Misalnya, karena nonton Piala Dunia, kita jadi bangun kesiangan, terburu-buru, hingga uang jajan ketinggalan, bete, ditambah lagi berantem dengan supir. Akhirnya, stress! Dan semua hapalan rumus matematika di kepala hilang! Sobat, begitu banyak peristiwa yang buruk seperti ini karena kelalaian kita mengelola waktu. Allah berfirman:
"Dan mereka berkata: 'kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa (waktu)'. Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja." (QS. Jaatsiyah:24)
Ketiga , serahkan setiap masalah hanya kepada Allah dan berusahalah menjadi orang yang bertakwa atas segala kehendak-Nya. Karena dengan takwa, Insya Allah segala permasalahan kita akan selalu ada jalan keluarnya. Allah berfirman:
".....Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar." (QS. At Thalaaq:2)
Yup! Sobat, apabila ketiga langkah tersebut telah kita jalani, Insya Allah semua hari akan kita jalani dengan indah dan semua hari adalah waktu-waktu terbaik yang Allah berikan kepada kita.
Sumber : Selembar kertas yang memberikan banyak manfaat
Andaikan Dakwah Dapat Tegak Seorang Diri
Andaikan dakwah dapat tegak seorang diri, tak perlu Musa mengajak Harun
Tak perlu pula Rasulullah SAW mengajak Abu Bakar tuk menemani beliau hijrah
Meskipun pengemban dakwah itu seorang Alim, Fiqih, dan memiliki Azzam yang kuat..
Tetap saja ia manusia lemah dan akan selalu embutuhkan saudaranya
meskipun saudaranya itu memiliki banyak keterbatasan
Peliharalah ia dan jangan kau sia2kan saudaramu
Karena ia sangat mahal harganya dan mungkin ialah yang selalu mendoakanmu dalam setiap langkahmu
Tak perlu pula Rasulullah SAW mengajak Abu Bakar tuk menemani beliau hijrah
Meskipun pengemban dakwah itu seorang Alim, Fiqih, dan memiliki Azzam yang kuat..
Tetap saja ia manusia lemah dan akan selalu embutuhkan saudaranya
meskipun saudaranya itu memiliki banyak keterbatasan
Peliharalah ia dan jangan kau sia2kan saudaramu
Karena ia sangat mahal harganya dan mungkin ialah yang selalu mendoakanmu dalam setiap langkahmu
Jumat, 17 Juli 2009
Berbakti Kepada Orang Tua
Kita, sebagai seorang anak memiliki kewajiban berbakti, taat, dan berbuat baik kepada kedua orang tua. Tidak karena keduanya penyebab keberadaan kita atau karena keduanya memberikan banyak hal kepada kita sehingga kita harus membalas budi kepada keduanya. Tetapi, karena Allah SWT mewajibkan taat, menyuruh berbakti, dan berbuat baik kepada keduanya. Kewajiban ini tidaklah gugur bila seseorang telah berkeluarga.
Seperti yang telah dijelaskan dalam firman Allah SWT, "Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang tuanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu" (Luqman: 14).
Namun sangat disayangkan, betapa banyak orang yang sudah berkeluarga lalu mereka meninggalkan kewajiban ini. Bahkan, seorang anak masih mempunyai kewajiban berbakti kepada orang tuanya meskipun keduanya telah meninggal dunia. Seperti sabda Rasulullah saw., "Empat hal yang dapat kalian lakukan untuk orang tua kalian setelah mereka meninggal, yaitu: mendoakan keduanya, memintakan ampunan untuk keduanya, melaksanakan janji keduanya, memuliakan teman-teman keduanya, dan menyambung sanak keluarga di mana engkau tidak mempunyai hubungan kekerabatan kecuali dari jalur keduanya. Itulah bentuk bakti engkau kepada keduanya setelah kematian keduanya." (HR Abu Daud).
Setelah kita mengetahui kewajiban untuk berbakti kepada orang tua, maka kita harus melaksanakan kewajiban tersebut. Adapun bentuk-bentuk berbakti kepada orang tua, yaitu;
Seperti yang telah dijelaskan dalam firman Allah SWT, "Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang tuanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu" (Luqman: 14).
Namun sangat disayangkan, betapa banyak orang yang sudah berkeluarga lalu mereka meninggalkan kewajiban ini. Bahkan, seorang anak masih mempunyai kewajiban berbakti kepada orang tuanya meskipun keduanya telah meninggal dunia. Seperti sabda Rasulullah saw., "Empat hal yang dapat kalian lakukan untuk orang tua kalian setelah mereka meninggal, yaitu: mendoakan keduanya, memintakan ampunan untuk keduanya, melaksanakan janji keduanya, memuliakan teman-teman keduanya, dan menyambung sanak keluarga di mana engkau tidak mempunyai hubungan kekerabatan kecuali dari jalur keduanya. Itulah bentuk bakti engkau kepada keduanya setelah kematian keduanya." (HR Abu Daud).
Setelah kita mengetahui kewajiban untuk berbakti kepada orang tua, maka kita harus melaksanakan kewajiban tersebut. Adapun bentuk-bentuk berbakti kepada orang tua, yaitu;
- Taat kepada kedua orang tua dalam semua perintah dan larangan keduanya, selama di dalamnya tidak terdapat kemaksiatan kepada Allah SWT dan pelanggaran terhadap syariat-Nya. Karena, manusia tidak berkewajiban taat kepada manusia sesamanya dalam bermaksiat kepada Allah, hal ini berdasarkan Firman Allah, "Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik." (Luqman: 15).
- Hormat dan menghargai kepada keduanya, merendahkan suara dan memuliakan keduanya dengan perkataan dan perbuatan yang baik, tidak menghardik dan tidak mengangkat suara di atas suara keduanya, tidak berjalan di depan keduanya, tidak mendahulukan istri dan anak atas keduanya, tidak memanggil keduanya dengan namanya namun memanggil keduanya dengan panggilan, "Ayah, ibu," dan tidak bepergian kecuali dengan izin dan kerelaan keduanya, karena ridha Allah bergantung dari ridho orang tua.
- Berbakti kepada keduanya dengan apa saja yang mampu kita kerjakan, dan sesuai dengan kemampuan kita, seperti memberi makan, pakaian kepada keduanya, mengobati penyakit keduanya, menghilangkan madzarat dari keduanya, dan mengalah untuk kebaikan keduanya. Dan tidak sombong kepada keduanya apabila sudah meraih kesuksesan.
- Menyambung hubungan kekerabatan dimana kita tidak mempunyai hubungan kekerabatan kecuali dari jalur kedua orang tua kita, mendoakan dan memintakan ampunan untuk keduanya, melaksanakan janji (wasiat), dan memuliakan teman keduanya.
Rabu, 10 Juni 2009
Buat Para Cowok
Assalamualaikum...
Tmn2 terutama yg laki-laki...
Coba deh mulai skrg jgn mmbiasakn diri mengumpat atau ngmong kasar atau ngmong yg gak enak didenger. Apalg,, smpe nama2 binatang yg ad dragunan dsbutn bwt ngatain org.
Sekesel apapun,, usahain jaga apa yg kalian ucapkan
Karena,, klo kalian biasa ngomong ky gtu dr skrg,, suatu saat,, saat klian udah brkluarga,, saat klian udah jd kepala kluarga,, dan saat kalian marah,, bisa aj klian ngluarin kta2 itu. Meskipun saat itu klian nyoba tuk mengurangi, itu gak akan berguna karena udah jdi kebiasaan dri remaja. Dan. saat itu, kalian akan ngrasa bahwa mengumpat org dgn kta2 gak baik sangat sulit tuk dihilangkan dan dihindari lagi.
Nb: Ini pndapatku y, trutama buat cowok2 yang gak jaga ucapannya apalagi ke perempuan
Tmn2 terutama yg laki-laki...
Coba deh mulai skrg jgn mmbiasakn diri mengumpat atau ngmong kasar atau ngmong yg gak enak didenger. Apalg,, smpe nama2 binatang yg ad dragunan dsbutn bwt ngatain org.
Sekesel apapun,, usahain jaga apa yg kalian ucapkan
Karena,, klo kalian biasa ngomong ky gtu dr skrg,, suatu saat,, saat klian udah brkluarga,, saat klian udah jd kepala kluarga,, dan saat kalian marah,, bisa aj klian ngluarin kta2 itu. Meskipun saat itu klian nyoba tuk mengurangi, itu gak akan berguna karena udah jdi kebiasaan dri remaja. Dan. saat itu, kalian akan ngrasa bahwa mengumpat org dgn kta2 gak baik sangat sulit tuk dihilangkan dan dihindari lagi.
Nb: Ini pndapatku y, trutama buat cowok2 yang gak jaga ucapannya apalagi ke perempuan
Anak Kecil yang Jadi Korban Mode
Hmm..
Ada sebuah pemandangan yg membuat aku jadi kasihan sama anak kecil zaman sekarang. Bayangin aja, seorang anak kecil (yah,, skitar usia 4-6 thn) udah pake baju yang bagian punggungnya kebuka. padahal orang tuanya (ibunya) aja pake kerudung. MasyaAllah.. anak kecil itu udah dijadiin korban mode sama orang tuanya. Gimana kalo tuh anak sampe sakit atau masuk angin gara2 slalu pake baju yang terbuka??
Yang repot pasti si orang tuanya kan?? Trus,, knp mreka masih tetep tega beliin baju kayak gitu buat anaknya yg notabene masih kecil???
Gak mungkin kan si ank yg minta d beliin baju kayak gitu?? Kalopun yang minta anaknya,, toh orang tua gak harus mengiyakan semua kemauan anak kan??
Selama itu buat kebaikan si anak,, kenapa gak menolak kemauannya dan ngasih pngertian kalo hal itu gak baik bwt kesehatan maupun scra agama?
Itulah guna orang-tua. Mendidik dan memberitahukan mana yang baik dan mana yg buruk; mana yg benar, mana yg salah.
Jadi.. buat ibu2 ato calon ibu.. coba kita instropeksi diri. Udah bner ato blm cara yg digunakan dlm mndidik ank2 (bagi yg udah pnya anak) dan bagi yg blm pnya ank,, cobalah dipikirkan akn memakai cara sprti apa dlm mndidik mreka. Apakah dgn slalu mngikuti smua kmauan mreka atau mnunjukkan mana yg baik dan mana yg buruk sesuai dgn sprti ap peran org tua dlm khidupan ank (memberi cntoh yg baik; menunjukkan mana yg benar, mana yg salah; menunjukkan mana yg baik, mana yg buruk; mana yg primer mana yg sekunder; mana yg sesuai dgn nilai agama, mana yg tdk sesuai dgn nilai agma maupun budaya Indonesia) =)
Senin, 04 Mei 2009
Karena Engkau Perempuan
Wanita tidak boleh merendahkan pria dan anjuran itu benar adanya. Sama benarnya dengan anjuran bahwa pria pun sama sekali tidak berhak untuk merendahkan wanita. Allah memerintahkan para istri untuk taat pada suami, bukan karana dia laki-laki, tapi karena Allah memang memerintahkan demikian. Selain itu, tidak pernah Allah memerintahkan perempuan untuk taat pada laki-laki, tidak pernah pula ada anjuran bagi wanita untuk mengalah pada pria. Tidak ada larangan bagi perempuan untuk tegas dan mandiri, selain itu tidak pula ada larangan bagi perempuan untuk mengambil keputusan.
Perempuan dinilai hanya dari penampilannya, bukan kapabilitas dan kontribusinya. Pada dasarnya tak ada beda antara laki-laki dan perempuan. Keduanya adalah makhluk Allah yang setara, berhak mendapat pahala untuk amal baiknya dan sebaliknya, hukuman untuk kesalahannya. Ketika Allah menciptakan perbedaan, adalah agar menjadi partner dalam memelihara kehidupan. Seorang perempuan –sama dengan laki-laki- diberi potensi oleh Allah, juga diberi kesempatan untuk mencapai derajat dan martabat hidupnya sendiri.
Bekerja bagi perempuan sering menjadi perdebatan. Seorang yang ‘bekerja’ dianggap lebih berharga daripada yang ‘tidak bekerja’. Semestinya semua orang berhak disebut bekerja saat dia berbuat baik. Amal baik tidak tergantung apa status yang disandang oleh seseorang, melainkan apa yang diperbuat dan untuk siapa perbuatan itu dilaksanakan. Jadi, siapa saja yang berbuat kebaikan, dibayar atau tidak, bergengsi atau tidak, dia telah bekerja.
Yang menentukan kemuliaan seorang perempuan bukanlah jabatan, pujian ataupun kecantikan semata. Kontribusi seorang perempuan terhadap keluarga, masyarakat, dan peradaban itulah yang lebih menentukan tingkat kemuliaan seorang perempuan. Hanya Islam yang lantang memberikan penghargaan kepada seorang muslimah saat ia menjadi ibu. Imbalan tertingginya pun surga. Hanya Islam yang mengakui pentingnya peran seorang ibu bagi perkembangan putra-putrinya. Karena itu, kita diwajibkan untuk menghormati ibu tiga kali sebelum menghormati ayah.
Menjadi perempuan adalah peran dari langit yang berhias sejuta mahkota. Bersama laki-laki, perempuan menjadi pelukis dunia. Demikian adil Allah menciptakan desain yang sempurna bagi pasangan yang saling melengkapi dan mencintai.
Sumber: Karena Engkau Perempuan (FLP Yogyakarta)
Perempuan dinilai hanya dari penampilannya, bukan kapabilitas dan kontribusinya. Pada dasarnya tak ada beda antara laki-laki dan perempuan. Keduanya adalah makhluk Allah yang setara, berhak mendapat pahala untuk amal baiknya dan sebaliknya, hukuman untuk kesalahannya. Ketika Allah menciptakan perbedaan, adalah agar menjadi partner dalam memelihara kehidupan. Seorang perempuan –sama dengan laki-laki- diberi potensi oleh Allah, juga diberi kesempatan untuk mencapai derajat dan martabat hidupnya sendiri.
Bekerja bagi perempuan sering menjadi perdebatan. Seorang yang ‘bekerja’ dianggap lebih berharga daripada yang ‘tidak bekerja’. Semestinya semua orang berhak disebut bekerja saat dia berbuat baik. Amal baik tidak tergantung apa status yang disandang oleh seseorang, melainkan apa yang diperbuat dan untuk siapa perbuatan itu dilaksanakan. Jadi, siapa saja yang berbuat kebaikan, dibayar atau tidak, bergengsi atau tidak, dia telah bekerja.
Yang menentukan kemuliaan seorang perempuan bukanlah jabatan, pujian ataupun kecantikan semata. Kontribusi seorang perempuan terhadap keluarga, masyarakat, dan peradaban itulah yang lebih menentukan tingkat kemuliaan seorang perempuan. Hanya Islam yang lantang memberikan penghargaan kepada seorang muslimah saat ia menjadi ibu. Imbalan tertingginya pun surga. Hanya Islam yang mengakui pentingnya peran seorang ibu bagi perkembangan putra-putrinya. Karena itu, kita diwajibkan untuk menghormati ibu tiga kali sebelum menghormati ayah.
Menjadi perempuan adalah peran dari langit yang berhias sejuta mahkota. Bersama laki-laki, perempuan menjadi pelukis dunia. Demikian adil Allah menciptakan desain yang sempurna bagi pasangan yang saling melengkapi dan mencintai.
Sumber: Karena Engkau Perempuan (FLP Yogyakarta)
Kamis, 02 April 2009
Hidayah Itu Datang
Saat ini, aku adalah seorang anak SMU. Saat ini alhamdulillah aku sudah memakai hijab (Jilbab). Awalnya, aku niat tuk berjilbab ketika akan masuk SMU karena ikutan kakak, saat itu aku masih kelas 1 SMP.
Oia, aku adalah seorang murid yang lumayan taat peraturan sekolah. aku jarang ditegur oleh guru karena masalah kerapihan seragam. Nah, sejak aku kelas 5 SD, sekolahku mewajibkan seragam muslim setiap hari jumat. Jadilah tiap jumat aku memakai seragam muslim + kerudung tentunya :)
Itulah kehidupanku dengan pakaian muslim. Hanya pada hari jumat saja atau hari2 besar Islam , seperti Idul Fitri.
Setelah kakakku memakai jilbab, aku jadi semakin tau tentang kewajiban memakainya. Akupun jadi semakin tau bagaimana seharusnya seorang perempuan muslim berperilaku. Meskipun saat itu baru pngetahuan dasarnya yang aku dapat dan belum aku aplikasikan dalam khidupn shari2, tp setidaknya aku sudah mengetahuinya. Oleh karena itulah, aku jadi semakin mantap untuk memakai jilbab saat SMU nanti. Tentunya, masih dengan alasan karena ingin ikutan kakak :D
Hingga pada suatu hari, saat itu hari jumat, aku pulang sekolah seperti biasa. Karena saat itu aku sudah duduk di bangku kelas 2 SMP, maka aku pulangnya siang hari. Aku selalu pulang naik angkot dan disambung dengan berjalan kaki sampai rumah. Saat itu, aku berjalan sambil merenungkan kembali tujuan dan niatku tuk memakai jilbab. Lalu, tiba-tiba terlintas dalam pikiranku rasa malu terhadap Allah. Aku merasa malu karena,, saat ini aku memakai baju muslim, tapi esok?? baju muslim itu sudah tak kupakai lagi. Dan baru akan kupakai lagi saat hari jumat depan. Aku malu pada Allah karena,, sudah tau kewajiban tuk berjilbab, tapi masih juga belum aku jalani; Sudah tau itu wajib, tapi masih nunggu nanti SMU; Sudah tau itu wajib, tapi masih juga punya niat pake karena ikutan kakak.
Dari situlah aku mulai merenungkan pikiran selintasku itu. Hingga akhirnya,, aku memutuskan tuk secepatnya berjilbab. Aku konsultasi sama orang tua. Awalnya ortuku agak ragu sama pilihanku yang mendadak (karena sebelumnya aku bilang mau pake jilbabnya nanti setelah masuk SMU). Mereka juga agak sedikit menentang dan menyarankan tuk memakai jilbab saat SMA saja. Tapi,, alhamdulillah,, akhirnya mereka mengerti dan melihat kesungguhanku. Dan mereka pun meridhoi dan mendukung aku tuk mulai berjilbab :)
akhir kata aku ucapin:
Thank's to Allah karena telah memberikan hidayahNya padaku tuk berjilbab. Bukan karena lagi ikutan kakak :D
Thank's to meine Eltern karena telah mendukungku dalam berhijrah (berjilbab) -Ich liebe Ihnen ^^-
Thank's to my older sister karena,, tanpa dirimu tuk memulai memakai jilbab, maka aku gak tau apakah aku akan/ telah berjilbab saat ini.
Oia, aku adalah seorang murid yang lumayan taat peraturan sekolah. aku jarang ditegur oleh guru karena masalah kerapihan seragam. Nah, sejak aku kelas 5 SD, sekolahku mewajibkan seragam muslim setiap hari jumat. Jadilah tiap jumat aku memakai seragam muslim + kerudung tentunya :)
Itulah kehidupanku dengan pakaian muslim. Hanya pada hari jumat saja atau hari2 besar Islam , seperti Idul Fitri.
Setelah kakakku memakai jilbab, aku jadi semakin tau tentang kewajiban memakainya. Akupun jadi semakin tau bagaimana seharusnya seorang perempuan muslim berperilaku. Meskipun saat itu baru pngetahuan dasarnya yang aku dapat dan belum aku aplikasikan dalam khidupn shari2, tp setidaknya aku sudah mengetahuinya. Oleh karena itulah, aku jadi semakin mantap untuk memakai jilbab saat SMU nanti. Tentunya, masih dengan alasan karena ingin ikutan kakak :D
Hingga pada suatu hari, saat itu hari jumat, aku pulang sekolah seperti biasa. Karena saat itu aku sudah duduk di bangku kelas 2 SMP, maka aku pulangnya siang hari. Aku selalu pulang naik angkot dan disambung dengan berjalan kaki sampai rumah. Saat itu, aku berjalan sambil merenungkan kembali tujuan dan niatku tuk memakai jilbab. Lalu, tiba-tiba terlintas dalam pikiranku rasa malu terhadap Allah. Aku merasa malu karena,, saat ini aku memakai baju muslim, tapi esok?? baju muslim itu sudah tak kupakai lagi. Dan baru akan kupakai lagi saat hari jumat depan. Aku malu pada Allah karena,, sudah tau kewajiban tuk berjilbab, tapi masih juga belum aku jalani; Sudah tau itu wajib, tapi masih nunggu nanti SMU; Sudah tau itu wajib, tapi masih juga punya niat pake karena ikutan kakak.
Dari situlah aku mulai merenungkan pikiran selintasku itu. Hingga akhirnya,, aku memutuskan tuk secepatnya berjilbab. Aku konsultasi sama orang tua. Awalnya ortuku agak ragu sama pilihanku yang mendadak (karena sebelumnya aku bilang mau pake jilbabnya nanti setelah masuk SMU). Mereka juga agak sedikit menentang dan menyarankan tuk memakai jilbab saat SMA saja. Tapi,, alhamdulillah,, akhirnya mereka mengerti dan melihat kesungguhanku. Dan mereka pun meridhoi dan mendukung aku tuk mulai berjilbab :)
akhir kata aku ucapin:
Thank's to Allah karena telah memberikan hidayahNya padaku tuk berjilbab. Bukan karena lagi ikutan kakak :D
Thank's to meine Eltern karena telah mendukungku dalam berhijrah (berjilbab) -Ich liebe Ihnen ^^-
Thank's to my older sister karena,, tanpa dirimu tuk memulai memakai jilbab, maka aku gak tau apakah aku akan/ telah berjilbab saat ini.
Langganan:
Komentar (Atom)