Adakah hari baik dan hari buruk dalam kehidupan seorang Muslim?
Bukankah Allah menciptakan segala sesuatu dengan kasih sayang-Nya??
"Iih, bad day banget sih nih hari!
Udah uang jajan ketinggalan, pagi-pagi kena omel supir gara-gara bayar ongkos kurang, eh...pulang kena keliling lapangan sepuluh putaran gara-gara nggak bisa jawab drill matematika! Sial banget sih nih hari! Ups, bete banget ya kalau yang kayak gini menimpa kita. Puas banget sepertinya kalau kita sudah berhasil mengeluarkan uneg-uneg yang bikin kita eneg ini. Lega!
Namun, hati-hati sobat, ternyata ada yang tidak berkenan saat perkataan-perkataan seperti ini meluncur bebas dari bibir kita. Siapa sih? Toh yang mengalami segala peristiwa ini kita sendiri. Yang eneg juga kita sendiri, yang rugi juga kita sendiri. Tidak ada yang tersakiti 'kan?
Budaya Jahiliyah
Dalam sebuah hadist Qudsi (hadist yang perkataannya langsung dari Allah Swt tetapi disampaikan melalui Rasulullah Saw) dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Saw. pernah berkata:
"Allah berfirman: 'Manusia menyakiti Aku: dia mencaci-maki masa, padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa. Akulah yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti'." (HR. Bukhari dan Muslim)
Ups, ternyata yang tersakiti adalah Allah Swt. Mengapa Allah tersakiti? Karena Allah lah yang menciptakan segala sesuatu yang ada di langit dan bumi ini dengan kasih sayang-Nya, dengan segenap kebijaksanaan-Nya dan tak ada yang cacat. Termasuk ketika Ia menciptakan hari yang diperuntukkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Allah dengan segala kasih sayang-Nya, tentu tidak akan memberikan hal yang buruk, apalagi menganiaya hamba-Nya.
Nah, selain sama dengan menyalahkan Allah atas semua yang terjadi pada kita, ternyata jika kita terbiasa mengucapkan kalimat seperti itu, maka kita sama dengan orang-orang Arab Jahiliyyah. Wuaduh?! Ibnu Katsir dalam tafsirnya menceritakan, bahwa orang Arab Jahiliyyah saat itu apabila ditimpa musibah, kesulitan atau bencana, mereka berkata, "Wahai waktu yang sial". Lalu mereka akan mencerca waktu dengan semangat '45 dan menumpahkan kemarahannya. Ehm...Insya Allah , kita nggak sama dengan 'kan?
Hukum Mencela Waktu
Lalu bagaimana hukumnya dalam Islam bila kita menjadikan waktu sebagai kambing hitam? As Syaikh Al-Utsaimin ketika ditanya tentang hukum mencela waktu, beliau menjawab sebagai berikut:
Pertama: Diperbolehkan. Asalkan hanya sekedar mengabarkan tanpa bermaksud mencela. Contohnya, "Hari ini panas banget ya, enaknya kita jalan-jalan dulku ke mall , lumayan 'kan sejuknya." Atau dengan kalimat yang senada dengan itu, tanpa niatan lain.
Kedua : Syirik besar. Mencela waktu dengan anggapan bahwa waktulah sebagai sumber kejadian. Seperti perkataan dalam kalimat: "Coba kita nggak berangkat hari ini, pasti tidak akan terjadi musibah ini." Kalimat ini mengandung unsur penyesalan dan berkesan bahwa waktulah yang menentukan urusan tersebut jadi baik atau buruk. Jika demikian, apa bedanya waktu dengan Allah Yang Maha mengatur segala urusan?
Ketiga : Haram. Seperti perkataan dalam kalimat: "Sial banget deh hari ini." Kalimat ini berarti menyalahkan waktu, padahal sudah jelas bahwa Allah yang menciptakan segala sesuatunya sesuai dengan ukurannya masing-masing. Haram hukumnya bagi seseorang yang sudah mengetahui bahwa Allah menciptakan semua hari adalah baik, kemudian menyatakan hari atau waktu tertentu adalah waktu yang buruk.
Yang Mesti Dilakukan
So, setelah tahu bahwa semua hari adalah baik dan sangat fatal akibatnya jika kita masih punya kebiasaan menimpakan kekesalan kita terhadap hari, maka sangat baik bila kita melakukan beberapa hal dibawah ini, agar kita bisa terhindar dari kebiasaan itu di masa datang.
Pertama , kudu sabar kalau sedang tertimpa musibah. Jangan cepat menggerutu dengan mencela waktu. Bukankah sabar itu sikap seorang Muslim? Bila kita tertimpa musibah ucapkan saja, Innalillahi wa innaa ilaihi raajiuun . Pasti hati kita akan lebih tenang. Ini sesuai dengan firman Allah:
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan Innalillahi wa innaa ilaihi raaji'uun." (QS. Al Baqarah: 155-156)
Kedua , berbaik sangkalah kepada Allah. Jangan menduga-duga. Karena Allah yang mengatur semua waktu. Bukankah Allah telah bersumpah atas nama waktu? Hanya saja, kitalah yang terkadang lalai dalam menyiasati waktu. Bisa saja saat musibah datang menimpa kita, itu disebabkan kelalaian kita sendiri. Misalnya, karena nonton Piala Dunia, kita jadi bangun kesiangan, terburu-buru, hingga uang jajan ketinggalan, bete, ditambah lagi berantem dengan supir. Akhirnya, stress! Dan semua hapalan rumus matematika di kepala hilang! Sobat, begitu banyak peristiwa yang buruk seperti ini karena kelalaian kita mengelola waktu. Allah berfirman:
"Dan mereka berkata: 'kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa (waktu)'. Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja." (QS. Jaatsiyah:24)
Ketiga , serahkan setiap masalah hanya kepada Allah dan berusahalah menjadi orang yang bertakwa atas segala kehendak-Nya. Karena dengan takwa, Insya Allah segala permasalahan kita akan selalu ada jalan keluarnya. Allah berfirman:
".....Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar." (QS. At Thalaaq:2)
Yup! Sobat, apabila ketiga langkah tersebut telah kita jalani, Insya Allah semua hari akan kita jalani dengan indah dan semua hari adalah waktu-waktu terbaik yang Allah berikan kepada kita.
Sumber : Selembar kertas yang memberikan banyak manfaat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar