Sore ini mendapat surat cinta berbalu semangat dari seorang teteh yang luar biasa dari Bandung. Ia seorang aktivis yang penuh semangat berbagi dan bermanfaat yang sedang menyelesaikan skripsinya. Namun, ia masih menyempatkan berbagi semangat kepada adik-adiknya. Beginilah caranya membagi semangat itu:
Mau agak sedikit ngeluarin uneg-uneg. Maaf sebelumnya jika ada kata2 yg sedikit (atau banyak) menusuk hati teman-teman.
Agak sedih rasanya menulis hasil notulensi rapat sebulan yang lalu. Sedih karena SELAMA BERBULAN-BULAN TIDAK ADA GERAKAN YANG BERARTI YANG TELAH KITA LAKUKAN SEBAGAI PENGURUS NASIONAL. saya bicara sambil ngaca, maksudnya kata-kata ini juga saya tujukan kepada diri saya sendiri.
Kalo kita mau flashback, coba jawab masing-masing pertanyaan-pertanyaan ini:
1. Siapa yg mengajukan diri jadi pengurus nasional?
2. Siapa yang sok-sok-an menyanggupi menjabat ditengah tumpukan kewajiban sebagai mahasiswa psikologi (yang terkenal sibuknya)?
3. Siapa orang-orang yang diawal penuh semangat mewujudkan psikologi membumi di Indonesia?
saya rasa jawabannya "SAYA", bukan "DIA" dan bukan "MEREKA" tapi KITA
Dari sekian banyak pendaftar, kita yang terpilih menjadi pengurus nasional. Dari sekian banyak orang-orang penuh semangat, kita yang terpilih menjadi pengemban amanah yang mempunyai konsekuensi menurunnya kesempatan untuk menghirup nafas lega tanpa tanggung jawab yang bertubi-tubi. Dari sekian banyak orang, kita yang memiliki kesempatan mulia bekerja untuk orang lain walau kadang tidak dihargai, didebat sesuka hati bahkan tidak dianggap ada. Jadi, rasanya tidak ada alasan untuk tetap abai pada tanggungjawab kita.
Saya, kamu, kita, punya kepentingan dan kesibukan yang berbeda-beda. Kuliah, organisasi lain, skripsi, tugas, pekerjaan, dll. Tapi perlu diingat, teman-teman non-pengurus tidak pernah mau tahu kesibukan apa yg kita hadapi. TIDAK AKAN ADA 'PENGERTIAN' KARENA ALASAN-ALASAN : SIBUK KULIAH, TUGAS, DSB DSB.
SIAPA SURUH MAU JADI PENGURUS NASIONAL?
Yuk semangat lagi. Jangan berkutat dengan kata-kata PUSING dan BINGUNG. Teman-teman itu orang-orang hebat yang bisa berorientasi kepada jalan keluar bukan pada emosi. Pada belajar kan coping stress dari Lazarus? Yuk belajar bersama.
Maaf bila ada kata-kata yg menyakitkan, ini sy sampaikan hanya karena saya sayang kalian.
Dita, Reza, Banna dan Baidui, kita semua orang terpilih, mari buktikan kita pantas dan layak dipilih. Terimakasih :)
Yaa, kami memang menurun semangatnya. Bagiku, semester ini memang amat menjemukan. Aku rasa, ini fase dimana diriku dan banyak teman yang lain merasa amat jenuh dengan rutinitas. Terutama aku. Banyak waktu dimana aku enggan melaksanakan amanah dengan serius dan sungguh-sungguh (Astaghfirullah~)
Dan aku sadar sesadar-sadarnya, memang jalan ini adalah pilihan kita. Pertanyaannya, kenapa aku ngga lagi semangat? *mari temukan jawabannya ...
Terima kasih Allah Swt. telah memberikan kakak yang luar biasa yang masih mau saling mengingatkan disela-sela kegiatannya yang padat. Terima kasih banyak teteh atas kesediaannya untuk mengingatkan :)
Jumat, 15 November 2013
Senin, 11 November 2013
Bila Psikolog Menjadi Seorang Istri ...
Nemuin tulisan yang menarik dari seorang mahasiswi Psikologi UGM dalam blognya masgun (http://kurniawangunadi.tumblr.com) dan karena aku juga mahasiswi psikologi yang memiliki harapan yang hampir sama ketika aku menjadi seorang istri, kelak. Sekaligus sebagai pengingat jika aku lupa akan harapan2 ini ketika aku masih menjadi mahasiwa psikologi :)
CeritaJika #8 : Jika Istrimu Seorang Psikolog
Suatu hari jika kamu menemukanku sebagai istrimu, satu hal yang pertama kali ingin aku sampaikan. Satu hal yang aku ingin agar kamu tahu, paham, dan selalu ingat. Bahwa aku, tidak bisa membaca pikiranmu. Aku bisa memahamimu hanya jika kamu menunjukkan kepadaku apa yang harus aku pahami. Kita berdua dahulunya orang yang saling tidak mengenal bukan? Jika suatu hari aku belum paham tentang jalan pikiranmu, perasaanmu, persepsimu terhadap sesuatu, keinginanmu. Tolong bersabar, pemahaman butuh waktu. Jika kau bersabar, aku akan setia belajar.
Suatu hari jika kamu menemukanku sebagai isterimu, satu hal yang aku minta kepadamu. Support, dukungan, motivasi, sudut pandang positif, afeksi. Apapun itu istilahnya. Yang aku inginkan bahwa kamu paham, aku juga manusia biasa yang kadang lemah, kadang murung, bad mood, down, kecewa, putus asa, kadang bisa kesal dan marah. Dan jika itu terjadi, aku ingin kau selalu hadir disisiku. Nyata ataupun maya. Membantu memperbaiki moodku, meluruskan niatku, memotivasi jiwaku, meredakan amarahku, menerangi kebingunganku. Sekecil apapun itu, aku akan sangat berterima kasih.
Jika suatu hari nanti kamu menemukanku sebagai isterimu, jangan pernah mengatakan ‘kamu kan psikolog!, harusnya…”. Aku tahu tentang perkembangan manusia, perkembangan yang berakibat baik dan buruk. Jika perkembangan itu dimulai dari masa dewasa, masa ketika aku kuliah Psikologi. Maka aku yakin aku bisa menjadi manusia yang sempurna untukmu. Tetapi sayang, perkembangan manusia itu dimulai dari sejak kita bayi. Tentu aku mengalami masa-masa buruk, masa-masa yang tidak terlalu mendukung perkembanganku. Masa-masa yang kadang traumatis dan menyedihkan. Masa-masa yang menyisakan unfinish business dan memberi bekas padaku hingga saat ini. Jangan pernah katakan ya?
Jika suatu hari kau menemukanku sebagai isterimu. Maukah kau mendengarkan konsep-konsep kehidupan berumah tangga yang aku pelajari dan aku pahami? Mendengarkan saja dulu. Tentang komunikasi yang akan kita terapkan, tentang fungsi dan peran masing-masing diri dalam rumah tangga, tentang aturan-aturan yang harus kita jaga dan patuhi. Dan yang paling utama adalah bagaimana kita mengkonsep dalam mendidik anak. Tentu aku punya pertimbangan secara psikologis dalam semua hal itu. Untuk itu aku membutuhkanmu untuk mendengarkan. Karena aku paham, yang menjalani rumah tangga ini bukan aku, tapi kita. Pun ketika kamu memiliki konsep konsep yang lain, aku sangat mau untuk mendengarkannya.
Jika suatu hari kau menemukanku sebagai isterimu nanti. Tolong jangan terganggu dengan orang-orang yang senang curhat kepadaku. Mereka yang menelpon tengah malam, yang tiba-tiba datang kerumah. Diantara mereka ada yang mungkin klien yang tidak aku kenal. Namun, diantara mereka mungkin juga teman-temanku sendiri. Diantara mereka, ada yang perempuan juga ada laki-laki. Untuk kau tahu, jika dalam dunia psikologi ada kode etik yang tidak boleh mencampurkan urusan pribadi dengan masalah klien, tetapi jika klien itu teman sendiri? Atau teman sendiri yang tidak mendaftar resmi sebagai klien tetapi meminta nasihat sebagai teman yang kebetulan psikolog? Maka tolong bersabar, jangan terganggu. Aku ingin kamu selalu ada disitu, untuk selalu mengingatkanku.
Jika suatu hari kamu menemukanku sebagai isterimu. Bolehkah aku tinggal dirumah saja? Mendirikan biro konsultasi dengan klien yang sangat terbatas sebagai janji profesiku, karena Aku ingin selalu hadir dalam setiap perkembangan anak-anak kita. Aku ingin selalu ikut campur dalam mengajari moral, emosi, sosial dan intelektual.
Yap, sampai sini, aku suka penjabaran harapannya (buat lengkapnya, silakan baca sendiri dari sumbernya langsung ^_^). Memang benar, psikolog atau calon psikolog tidak bisa membaca pikiran atau memahami seseorang begitu saja dalam waktu beberapa detik pertemuan. Kami hanya berusaha selalu memahami kode-kode yang ditunjukkan seseorang.
Pandai merasa. Yaa, berusaha pandai merasa. Itu yang kami lakukan. Dan kami pun memang manusia biasa yang terkadang merasa kurang percaya diri; merasa kurang mampu; merasa butuh dukungan fisik dan psikis dari orang-orang terdekat yang menyayangi kami.
Psikolog. Sebuah profesi yang tidak sederhana. Banyak tuntutan untuk "harusnya lebih paham", "harusnya lebih memahami", "harusnya lebih mengerti", "harusnya lebih tau apa yang dirasakannya" Gelar-gelar "harusnya..." ini lah yang membuat profesi psikolog menjadi rumit. Jadi, apa yang akan terjadi jika suami pun mengatakan hal yang sama? "harusnya kamu lebih memahamiku!" atau "harusnya kamu lebih paham tentang anak kita daripada aku" Tolong, jauhkan tuntutan "harusnya ..." dari seorang pasangan kita yang psikolog atau yang pernah belajar psikologi. Kami hanya belajar lebih banyak tentang jiwa manusia, tapi bukan berarti kami selalu mengetahui tentang kejiwaan setiap orang. Bahkan, kami pun butuh waktu lama untuk memahami kejiwaan kami pribadi.
Manusia berkembang sejak ia lahir. Kami belajar bahwa mendidik anak tidaklah mudah dan tidak bisa disepelekan. Dan kami paham bahwa mendidik anak bukan hanya peran seorang ibu, tapi juga amat butuh peran seorang ayah, juga butuh konsep. Mendidik anak dengan memberi teladan, sehingga butuh aturan-aturan yang harus dijaga oleh kedua orang tua.
Sama seperti seorang dokter yang harus siap 24 jam jika mendapat panggilan darurat dari pasien. Begitu pula dengan seorang psikolog, harus siap 24 jam jika mendapat panggilan dari klien, karena masalah kejiwaan sama pentingnya dengan masalah pasien darurat. Harus ditangani dengan profesional, tanpa ada campuran masalah psibadi. Oleh karena itu, psikolog butuh suami yang sabar dan memahami hal ini.
Bagi saya, buat apa bisa selalu ada bagi klien, tapi tidak bagi anak-anak dan keluarga? Dan mendirikan biro konsultasi di rumah merupakan salah satu jawaban agar perkembangan anak-anak tetap terpantau dengan baik dan terarah.
Semoga saya bisa jadi istri dan ibu yang luar biasa, yang mampu memahami suami dn anak-anak serta mampu membersamai suami dalam mendidik anak-anak menjadi generasi yang taat pada Allah Swt., dan memiliki karakter baik yang kuat. Aamiin ^_^
Jumat, 13 September 2013
Cinta Itu Adalah...
Cinta itu adalah
Ketika kita selalu mengingat seseorang,
tapi seseorang itu sama sekali tidak mengingat kita
Kita tetap selalu yakin atas cinta kita
Cinta itu adalah
Ketika kita selalu menjadi yang pertama peduli
selalu menjadi orang terakhir yang menyerah
Meski seseorang tersebut tidak tahu
Kita tetap selalu yakin atas cinta kita
Tidak berkurang walau sejengkal
Cinta itu adalah
ketika kita mengorbankan apapun milik kita
Tanpa berharap seseorang akan membalasnya
Kita tetap bersedia melakukannya
Tidak berkurang rasa cintanya
Cinta itu adalah
Ketika kita selalu lirih menyebut namanya dalam doa
Meski seseorang itu sedang tidur, jauh, bahkan tidak menyadarinya
Kita tetap berharap yang terbaik
Tidak berkurang keyakinan kita
Itulah cinta yang sejati
Tidak perlu jauh-jauh mencarinya
Cinta seperti ini ada pada Ibu kita
Baca ulang sajak ini dari awal, sambil membayangkan Ibu kita
semoga paham hakikat cinta yang baik.
*Tere Lije
Love you mom :*
I hope, someday, I will be a great mother with great love for my family and my children
:)
Ketika kita selalu mengingat seseorang,
tapi seseorang itu sama sekali tidak mengingat kita
Kita tetap selalu yakin atas cinta kita
Cinta itu adalah
Ketika kita selalu menjadi yang pertama peduli
selalu menjadi orang terakhir yang menyerah
Meski seseorang tersebut tidak tahu
Kita tetap selalu yakin atas cinta kita
Tidak berkurang walau sejengkal
Cinta itu adalah
ketika kita mengorbankan apapun milik kita
Tanpa berharap seseorang akan membalasnya
Kita tetap bersedia melakukannya
Tidak berkurang rasa cintanya
Cinta itu adalah
Ketika kita selalu lirih menyebut namanya dalam doa
Meski seseorang itu sedang tidur, jauh, bahkan tidak menyadarinya
Kita tetap berharap yang terbaik
Tidak berkurang keyakinan kita
Itulah cinta yang sejati
Tidak perlu jauh-jauh mencarinya
Cinta seperti ini ada pada Ibu kita
Baca ulang sajak ini dari awal, sambil membayangkan Ibu kita
semoga paham hakikat cinta yang baik.
*Tere Lije
Love you mom :*
I hope, someday, I will be a great mother with great love for my family and my children
:)
Rabu, 11 September 2013
Program Hebat untuk Generasi Hebat di Indonesia
September 4, 2013 at 12:18am
Bulan kemarin, tepatnya tanggal 23-25 September 2013 Badan Bidang Nasional (Banbidnas) ILMPI bertandang ke Solo sebagai tindak lanjut dari program kerja Gemaperak (Gerakan Mahasiswa Peduli Orang Tua dan Anak) yang telah disepakati sebelumnya pada Rakernas ILMPI III, 27-30 Juni 2013 di Semarang. Selain Banbidnas, disana kami pun dibantu oleh kawan-kawan dari Rumah Hebat Indonesia dan ILMPI Wilayah III Jawa Tengah dan Kalimantan.
Tindak lanjut dari program Gemaperak ini adalah berupa RT Ramah Anak yang dilaksanakan di Rejosari RT 03 RW 15, Kelurahan Gilingan, Kota Surakarta. Beberapa pertimbangan dipilihnya wilayah tersebut sebagai tempat berlangsungnya program karena RT 03 merupakan daerah padat penduduk yang terletak di daerah aliran sungai (DAS) Kali Anyar Solo dengan populasi anak-anak lebih banyak daripada RT lain dilingkungan RW 15. Pun , disana telah berdiri Rumah Hebat Indonesia (RHI) yang sudah menjadi bagian dari kehidupan anak-anak disana.


Untuk diketahui, rumah yang digagas oleh kawan-kawan UNS dan ILMPI wilayah III Jawa Tengah dan Kalimantan ini, menyelenggarakan berbagai kegiatan untuk anak-anak, seperti kelas Bahasa Inggris,perkusi, teater, fotografi, tari, film hebat, melukis, dan disana pun terdapat perpustakaan yang cukup lengkap.
Program RT Ramah Anak ini dapat dikatakan memiliki urgensi, karena menurut Data Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mencatat 2.637 kasus kekerasan terhadap anak selama tahun 2012. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.075 kasus diantaranya adalah kekerasan seksual, kekerasan fisik 819 kasus, dan kekerasan psikis sebanyak 743 kasus. Dari data tersebut dapat kita lihat bagaimana generasi-generasi hebat harapan bangsa sedang bertumbuh dilingkungkan yang “kurang aman”. Untuk itulah, kami mulai menggagas sebuah lingkungan yang aman & nyaman untuk perkembangan anak-anak: RT Ramah Anak.
Mengapa RT? Karena cakupannya lebih kecil sehingga efektivitas kontribusi program ini bisa cukup mudah dikontrol maupun dievaluasi. Program ini merupakan program jangka panjang, semua elemen masyarakat di Rejosari dilibatkan dan diberdayakan. Mulai dari pemberdayaan terhadap anak hingga para orang tua disana. Bekerjasama dgn Karang Taruna Rejosari, sehingga diharapkan program ini berkelanjutan & dapat dikelola oleh masyarakat sendiri.



Selama 3 hari di Rejosari kami (Banbidnas) dengan dibantu oleh kawan hebat dari Rumah Hebat Indonesia dan ILMPI Wilayah III Jawa Tengah dan Kalimantan, berkenalan dengan beberapa warga, melakukan wawancara, dan mengobservasi lingkungkan. Dengan ini kami dapat merumuskan program-program apa saja yang cocok untuk dikembangkan di wilayah tersebut, mulai dari program untuk anak-anak hingga para orang tua di sana.
Setelah merumuskan beberapa program, kami berudiensi dengan pihak Kelurahan Gilingan. Diharapkan dengan audiensi ini, dapat mengajak Pemerintah Kota Surakarta untuk ikut bersama-sama mensukseskan program ini. Bahkan kami pun berencana untuk mengajak Kementerian Pemberdayaan Perempuandan Perlindungan Anak.Semoga langkah ini dapat berpengaruh positif untuk generasi-generasi hebat di Indonesia kelak & akan banyak wilayah ramah anak lain di Indonesia. Salam Generasi Hebat!
Written by : Gusti Reza (Badan Bidang Nasional ILMPI 2013-2014)

https://www.facebook.com/notes/dita-permatasari/program-hebat-untuk-generasi-hebat-di-indonesia/3378722682785
Mimpi Kami dari Rejosari untuk Indonesia
September 11, 2013 at 7:27pm
”We are guilty of many errors and faults, but our worstcrime is abandoning our children, neglecting the fountain of life. Many of thethings we need can wait. The child can not. Right now is the time his bones arebeing formed, his blood is being made and his senses are being developed. Tohim we cannot answer “Tomorrow”. His name is “Today”.
(Gabriela Mistral Pemenang Nobel Sastra 1945)
Hampir tak ada yang menyangkal bahwa anak adalah titipan dari Sang Maha Kuasa yang sudah sepatutnya dijaga dan dikasihi. Jumlah anak Indonesia (0-18 tahun) menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2006 mencapai 79,8 juta anak. Ironisnya,kekerasan terhadap anak di Indonesia sepertinya masih menjadi momok yang menghantui mereka. Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mencatat dalam semester I di tahun 2013 atau mulai Januari sampai akhir Juni 2013 ada 1032 kasus kekerasan anak yang terjadi di Indonesia. Dari jumlah itu kekerasan fisik tercatat ada 294 kasus atau 28 persen, kekerasan psikis 203 kasus atau 20 persen dan kekerasan seksual 535 kasus atau 52 persen. Ini adalah fakta yang sangat mengkhawatirkan, terlebih terdata 52 persen 1032 kasus kekerasan itu adalah kekerasan seksual. Padahal Undang-undang perlindungan anak sudah menjadi hal yang tidak asing lagi di telinga kita.
Menurut Karen Horney, tokoh psikoanalisa sosial, rumah yang hangat dan penuh kasih bisa memungkinkan seseorang untuk menghindari kecemasan neurotik dan konflik. Ia juga percaya bahwa aspek tertentu dari masyarakat kita menciptakan konflik yang intens seperti itu dan mereka perlu banyak"istirahat" untuk menghadapi tantangan menjadi orang yang sehat. Dalam hal ini, kekerasan terhadap anak jelas mendekatkan anak pada kecemasan neurotik yang mungkin saja berproses terus menerus secara sporadis hingga membuat masalah kecemasan dasar dan permusuhan dasar semakin menguat. Tak ada alasan untuk menyangkal bahwa penyelamatan anak dari kekerasan mutlak dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat termasuk mahasiswa.
Menurut hasil penelitian UNICEF 2013, anak yang sering dimarahi orang tuanya, apalagi diikuti dengan penyiksaan, cenderung meniru perilaku buruk (coping mechanism) seperti bulimia nervosa (memuntahkan makanan kembali), penyimpangan pola makan, anorexia (takut gemuk), kecanduan alkohol dan obat-obatan, dan memiliki dorongan bunuh diri. Semakin jelaslah bahwa kekerasan pada anak bukanlah tindakan yang tepat yang dilakukan oleh siapapun.
Perlu disadari bahwa kekerasan terhadap anak bukanlah permasalahan yang sederhana. Kemiskinan dan kurangnya pengetahuan tak jarang menjadi faktor lain yang dapat melatarbelakangi terjadinya kekerasan terhadap anak. Oleh karena itu, solusi komprehensif sangat dibutuhkan untuk memecahkan permasalah ini.
Tegakah kita hanya diam dan membiarkan kekerasan terhadap anakterus menerus terjadi?
Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia (selanjutnya disebut ILMPI) bersama Rumah Hebat Indonesia (selanjutnya disebut RHI) telah berupaya mengawali langkah untuk meminimalisir angka kekerasan terhadap anak di Indonesia. Sebuah program jangka panjang bernama RT Ramah Anak diharapkan bisa menjadi salah satu solusi efektif untuk mencapai tujuan yang telah disebutkan sebelumnya.
Bukanlah perjalanan yang singkat hingga program ini tersusun denganbaik. Kami, mahasiswa psikologi Indonesia yang tergabung dalam ILMPI telah melewati tahapan panjang demi mendapatkan formula yang tepat untuk mengatasi permasalahan sosial ini. Mulai dari mengadakan seminar Gerakan Mahasiswa Peduli Orang tua dan Anak (Gemaperak), seminar nasional 'Saving Children for Saving Indonesia' hingga audiensi ke Kementerian Sosial Republik Indonesia. Akhirnya, di tahun 2013 program RT Ramah Anak ini berhasil kami mulai.
Seperti yang disebutkan sebelumnya, permasalahan kekerasan terhadap anak adalah permasalahan yang kompleks. Oleh karena itulah kami bekerjasama dengan Rumah Hebat Indonesiauntuk membersamai program ini.

Dari sekian banyak daerah di Indonesia, di RT 03 Desa Rejosari, KecamatanNgemplak, Kelurahan Gilingan Kota Surakarta inilah program RT Ramah Anak ini akan kami laksanakan. Mengingat banyak kegiatan yang telah dilaksanakan oleh rekan-rekan RHI dan ILMPI di RT ini. Berbagai pendekatan dan pengambilan data pun sudah kami lakukan untuk menyusun program-program pemberdayaan masyarakat yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat RT 03 Rejosari. Selain itu, masyarakat tidakhanya dijadikan sebagai objek pemberdayaan, melainkan sebagai subjek dan mitra dalam pelaksanaan pemberdayaan.
Program ini tidak akan berjalan lancar tanpa kerjasama berbagai pihak, termasuk kerjasama kita sebagai mahasiswa psikologi untuk mengaplikasikan ilmu yang kita miliki. Ini adalah tindakan kecil kami untuk Indonesia. Mohon doa dari teman-teman semua agar pelaksanaan program kerja ini lancar dan mencapai hasil yang diharapkan. Semoga sinkronisasi program dengan pemerintah Kota Surakarta dan audiensi dengan Kementerian Sosial Republik Indonesia yang kesekian kalinya ini bisa membuahkan hasil yang menyenangkan. Amin
Masihkah kau hanya memutuskan untuk diam dan mencaci kegelapan?
Salam Hangat,
Badan Bidang Nasional 2013-2014
Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia
https://www.facebook.com/notes/arrizqiya-aulia/mimpi-kami-dari-rejosari-untuk-indonesia/10151823404269931
Rejosari Untuk Indonesia
April 28, 2013 at 5:24am

Adalah sebuah program pengabdian masyarakat yang diusung Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia dimana bersinergi dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia serta RumahHebat Indonesia dalam GEMAPERAK (Gerakan Mahasiswa Peduli Orang Tua dan Anak).
Melalui proses yang tidak sebentar, saat ini kami sedang memperjuangkan khittah sebagai pemuda dalam langkah nyata untuk masyarakat. Memperjuangkan sebuah keilmuan yang ditakdirkan hidup untuk menghidupi, yaitu Psikologi. Membuktikan bahwa kami tidak hanya sekadar menuntut perubahan, tapi menjadi lakon dan bergabung dalam perubahan tersebut. Perjalanan panjang dari tahun 2011, akhirnya mengalami titik terang. Bermula dari sebuah seminar nasional bertema kesehatan mental anak di Surakarta. Menyadari tentang pentingnya anak demi masa depan Negeri ini. Menggugah hati kami untuk tidak hanya sekedar menjadi penonton dan terbuai pada fenomena sosial yang dialami oleh anak-anak Indonesia di era globalisasi sekarang. Ya, Bersedih dan berempati saja tidak cukup. Perlu sebuah tindakan, dimana tidak hanya dilakukan oleh perseorangan. Namun bersama-sama dan serentak seluruh Indonesia.Berdasarkan pemikiran dan semangat itu, maka muncullah GEMAPERAK (GerakanMahasiswa Peduli Orang Tua dan Anak) yang menjadi salah satu cara untuk mewujudkan mimpi kami bersama, Indonesia Tersenyum.
Berbekal keyakinan atas landasan gerakan yang telah diinisiasi. Kami pun melakukan tahapan demi tahapan hingga tahun 2013. Menularkan semangat dengan berbagai cara, seperti yang dilakukan oleh teman-teman ILMPI Wil II dengan seminar-seminar tema ke-parentingan. Bakti Sosial yang juga akan dilaksanakan oleh rekan ILMPI Wil III dimana mengumpulkan buku bacaan terkait anak dan orang tua untuk pendirian Taman Bacaan Masyarakat, workshop parenting dan lomba keluarga masyarakat Rejosari. Begitu pula, merangkul semua pihak padadiskusi atau audiensi untuk bergerak bersama dalam GEMAPERAK. Kami mendapatkan begitu banyak masukan serta ranahan konsep program dengan berdiskusi kepada beberapa stakeholder yang memiliki kepentingan terhadap anak Indonesia. Diskusi tersebut bermula dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI di tahun 2011, dilanjutkan dengan Komisi Perlidungan Anak Indonesia,Komnas Anak dan Kementerian Sosial pada tahun selanjutnya hingga sekarang.
Tanggal 16 Maret 2013 lalu, Ikatan Lembaga Mahasiswa PsikologiIndonesia kembali menggaungkan GEMAPERAK dengan Seminar Nasional yang bertajuk “Save Our Children for Saving Indonesia” dengan dihadiri oleh semua yangberkepentingan dalam dunia anak Indonesia. Namun, kali ini lebih dahsyat.Karena bersamaan dengan kegiatan besar rutinnya ILMPI (Musyawarah Nasional)sehingga dapat dihadiri oleh 127 perwakilan mahasiswa Psikologi dari seluruhIndonesia. Perbincangan dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan danPerlindungan Anak memunculkan gagasan program Community Development. Misinya memang se-Indonesia, namunpelaksanaanya tidak serta merta dilakukan secara me-Nasional. Perlu adanya langkah-langkah yang berawal dari kecil hingga kemudian menjadi besar dan manfaatnya benar-benar terasa di masyarakat.
Bermula dari satu RT, program community development nantinya tidak hanya diperuntukkan kepada anak-anak saja,tetapi kepada orang tua dan remaja. Artinya, ketika berbicara terkait anak maka tidak bisa lepas dari segala unsur yang ada di masyarakat. Maka dari itu,diperlukan kolaborasi program dimana memiliki keterkaitan satu dengan lainnya.
Kolaborasi program yang telah disebutkan sebelumnya tadi akan dilaksanakan dalam bentuk penyuluhan atau pelatihan atau sosialisasi atau kegiatan tindakan langsung ke masyarakat,salah satu contohnya ialah Program Parentingke Masyarakat yang dilakukan secara konsisten. Ingat, Konsisten dan Berkala. Tentunya kami tidak berjalan sendirian, tetapi bersama dengan Pemerintah daerah setempat dan seluruh elemen masyarakat. Runtutan detailnya begini, pada tahun ini (2013) akan dilakukan Assassment awal terlebih dahulu. Pengukuran tersebut akan menjawab permasalahan serta kebutuhan dari masyarakat. Berdasarkan hasil, kami dapat menyusun program-program yang bersinergi dengan Pemerintah Daerah setempat. Ketika program tersusun maka kami berkesempatan untuk mempresentasikan ke Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Setelah mendapatkan persetujuandari Ibu Menteri, program-program yang disusun akan dimasukkan dalam anggaran dana Pemerintahan daerah setempat untuk tahun 2014. Pada tahun 2014, programdilaksanakan. Dan di akhir tahun 2014 akan dievaluasi dengan konten yang sama secara kuantitatif dan kualitatif sehingga dapat terlihat apakah terdapat pengaruhatau peningkatan atau perubahan dari sebelum maupun setelah diberikan program. Jika terjadi perubahan baik dan masyarakat merasakan manfaatnya maka hasil program yang telah dijalankan akan dipublish dalam tingkatan Nasional dan menjadi contoh wilayah yang lain. Sehingga pada tahun-tahun selanjutnya, wilayah-wilayah lain yang sudah siap secara program dan sumber daya manusia dapat melakukan hal yang sama.
Yap, begitulah kira-kira prosesnya. Panjang ya. Tak apa, mimpi besarharus diperjuangkan dengan cara yang tidak biasa, bukan? InsyaAllah jika semua teramanahkan dengan baik maka program ini akan memberikan manfaat yangbenar-benar nyata di masyarakat.
Lalu, Mengapa Rejosari??
Rejosari adalah daerah yang ditakdirkan untuk bertemu dengan kami.Hehe, memang seperti sedikit melankoli, tapi begitulah faktanya. Bukan untuk meng-unggulkan rejosari dan tidak memberikan kesempatan untuk daerah lain. Karena harapan kami tidak hanya untuk Rejosari tapi Indonesia. Namun, Rejosari memiliki potensi untuk dikembangkan. Melihat kondisi kepadatan rumah yang berdekatan tanpa batas pagar dimana memperlihatkan potensi kerekatan sosial antar warga, keberagaman model masyarakat mulai dari starata sosial hingga tingkat status ekonomi serta penerimaan yang cukup baik terhadap orang lain. Lagi-lagi, Rejosari ditakdirkan menjadi pengawal dari program nyata Gemaperak. Kami sangat yakin, masih banyak daerah lain di penjuru Negeri iniyang memiliki potensi luar biasa untuk diberdayakan.
Kemudian dalam pelaksanaanya, program Community Development atau orang awam biasanya menyebut dengan istilah desa binaan, membutuhkan sebuah tempat untuk menjadi pusat kegiatan yang akan dilakukan secara berkala dan konsisten tersebut. Mengapa kegiatan itu dipusatkan? Agar lebih mudah dalam merangkul masyarakat dan pengontrolannya.Beruntung, daerah Rejosari juga terdapat sebuah rumah pengembangan masyarakat yang diinisiasi dan diperjuangkan oleh sekelompok mahasiswa dimana memilikikesamaan visi dengan program ILMPI. Rumah tersebut bernama Rumah Hebat Indonesia atau disingkat dengan RHI. Rumah Hebat Indonesia bermaksud membersamai Ikatan Lembaga Mahasiswa PsikologiIndonesia khususnya Wilayah III (Jawa Tengah dan Kalimantan )untuk menggalipotensi yang dimiliki oleh masyarakat Rejosari.
Di Rejosari akan ada banyak kolaborasi ..
Kolaborasi harapan dan perjuangan ..
Di Rejosari pula kami menemukan Mimpi ..
Mimpi masyarakat untuk berdaya ..
Mimpi masyarakat mencetak generasi dahsyat ..
Mimpi masyarakat membangun Indonesia Hebat ..
Kedepan, dibutuhkan kontribusi siapapun untuk turut serta berjuang dalam mewujudkan misi dharma bakti ini. Karena kami menyadari. Kami tidak bisa mewujudkan cita mulia ini sendiri.
"Mari kita hebatkan Indonesia.."
"Dimulai dari Rejosari .."
---
Surakarta, 25 April 2013
Anis Diah Ayu Masita
Jumat, 19 Juli 2013
Orang yang Menyayangimu Itu Pasti Ada Di Sekitarmu
Yaa, orang yang menyayangimu pasti ada di sekitarmu. Hanya saja, seringnya, kita terlalu sibuk dengan diri sendiri hingaga tidak menyadari kehadirannya dengan segala kasih sayangnya untuk kita.
Itu juga lah yang beberapa kali aku rasakan. Beberapa tahun yang lalu, ketika aku masih berada di bangku kelas 3 SMA (kelas XII), aku baru sadar bahwa teman baikku benar-benar menyayangiku. Sayangnya, hal itu aku ketahui justru ketika aku mengecewakan mereka. Pertengkaran itu terjadi, perang dingin. Aku terlalu sibuk dengan hal lain dan tidak mau mencoba untuk introspeksi diri mengenai penyebab perang dingin tersebut. Begitupun mereka, segan untuk berbicara jujur, males duluan lebih tepatnya. Hal itu terus berlanjut, hingga akhirnya teman-teman yang mencoba netral mencarikan pihak ketiga untuk menjadi penengah dan fasilitator untuk mencapai keharmonisan kembali.
Saat itu lah kemudian aku terpukul dengan kalimatnya diantara kalimat perdebatan yang saling membela diri, "aku sayang kamu. kita sayang kamu"
Dan kemudian, sampai saat ini, aku menyesal harus mendengarnya diwaktu aku menyakiti hati mereka. Aku menyesal, kenapa tidak dari awal menyadari dan memperhatikan keberadaan mereka dengan segala kasih sayang mereka padaku.
Kemudian, ketidakpekaanku terulang. Beberapa bulan lalu aku berkenalan dengan seorang teman dengan segala kebaikan hati dan semangatnya untuk berbagi. Kami jadi sering bertemu karena takdir, berada dalam satu lembaga yang sama. Awalnya, aku merasa tak ada yang spesial darinya selain ia yang menunjukkan ketertarikan padaku di tiga hari pertama pertemuan kami, yaa dengan gaya khas anak zaman sekarang yang suka TP (tebar pesona) dan sok perhatian.
Tapi, seiring berjalannya waktu, aku memperhatikan dia. Yaa, ternyata dia memang orang yang perhatian, bahkan hampir ke semua orang yang berada dalam lembaga yang sama dengannya. Dan yang paling membuatku sadar bahwa dia menyayangiku adalah dia memperhatiakn setiap perubahan yang terjadi pada ekspresiku, juga ketidakrelaannya ketika aku dijodoh2kan (meski cuma bercanda) pada orang yang dianggapnya kurang baik. Hahaha.. thank's :)
Begitu juga dengan teman-teman di psikologi UNS. Mereka benar-benar menunjukkan rasa saling sayang itu. Mereka memang orang-orang luar biasa. Dari mereka, aku belajar banyak hal, bahwa rasa sayang itu memang sebaiknya ditunjukkan dengan cara masing-masing. Hingga akhirnya, aku tak pernah merasa sendiri di psikologi UNS, selalu ada saja yang menyapa, memuji, menegur, mengkritik, mengajak, bahkan ada pula yang selalu menyemangati. Big hug for my family, psikologi UNS :)
Rabu, 19 Juni 2013
Keluarga Kedua Itu Bernama Psikologi UNS
Subhanalloh, alhamdulillah aku punya teman-teman yang luar biasa. Mereka tetap memberi semangat padaku di saat mereka juga mengalami lelah dan jenuh dengan tugas kuliah yang sama dan aktivitas lain yang banyak. Seperti tadi, saat aku sudah amat jenuh dengan tugas (kelompok) laporan eksperimen yang tak kunjung tuntas, mereka mengingatkanku untuk sabar dan tetap semangat. Padahal, Lulu Deddy dan April pun baru saja menyelesaikan tugas (kelompok) psikologi kesehatan, membuat poster. Erik baru aja selesai melakukan tugas (kelompok) kesehatan mental, penyuluhan. Yaa, padahal, mereka juga sama lelahnya denganku, dan mungkin mereka juga sama jenuhnya denganku. Tetapi, dengan sabar, mereka mengingatkanku untuk sabar dan tetap semangat.
Dan lagi, waktu kepanitiaan Seminar Nasional Psikologi Islam beberapa hari lalu (acaranya berlangsung), banyak orang menyampaikan simpatinya sama aku. Erik juga nawarin banyak bantuan. Banyak semangat diberikan oleh teman2 senior2 dan juga dosen. Juga banyak permintaan maaf aku terima dari koor sie di kepanitiaan karena masalah internal kepanitiaan, menyalahkan diri sendiri atas kesalahan orang lain. Aku terharu, tapi juga ngga enak hati. Dibandingkan aku, para koor sie lebih berat lagi bebannya.
Oleh karena itu, aku selalu menjadi orang yang menunjukkan ketegaran dan menawarkan bantuan pada mereka. Meski akhirnya aku tak banyak membantu tugas teknis mereka, tapi setidaknya aku selalu berusaha meyakinkan mereka bahwa mereka sudah memberikan yang terbaik buatku, buat diri mereka, dan buat orang lain.
Tak ada air mata yang aku tunjukkan ketika mereka merasa sedih dan hopeless. Aku berusaha tak menunjukkan lelahku ketika mereka terlihat lelah dengan perjuangan mereka. Aku berusaha tidak menyalahkan diriku atau pun mereka ketika ada hal-hal di luar prediksi terjadi, tapi mengajak mereka berevaluasi bersama. Meski diri ini, nyatanya, menyalahkan diri sendiri atas kelalaian sehingga tidak memprediksi hal terburuk, tidak berani menyatakan keraguan atas optimisme yang dibangun.
Hingga akhirnya, air mata ini luruh saat SC menyatakan permohonan maaf dan memberi semangat. Cukup sudah aku menahan diri untuk menguatkan orang-orang yang merasa dirinya bersalah. Cukup sudah aku mendengar banyak orang menyatakan diri bersalah. Padahal, sejatinya, kesalahan itu paling banyak berada di tangan ini, yang dengan semena-menanya menyatakan optimisme, yang dengan semena-menanya menyatakan idealisme pribadinya bahwa semua akan baik-baik saja, yang dengan semena-mena bersombong dengan kesuksesan yang selama ini di raih.
Akan tetapi, tak ada yang dapat disampaikan dengan kata-kata. Biarlah air mata ini yang berbicara bahwa aku juga manusia, bukan tempat dimohonkan maaf. Aku juga manusia yang sepatutnya di kritik atas kinerjaku sebagai ketua panitia. Dan lagi, jika aku bersuara, maka acara hari itu tak akan berakhir dengan evalusi dan komitmen bersama.
Terima kasih teman, aku banyak belajar karena kalian menyertaiku dan melangkah bersamaku menapaki jalan kehidupan yang belum terlihat ujungnya ini kawan.
Tetap semangat, dan saling menyemangatai. Jangan pula pernah lelah untuk belajar dan menebar kebaikan :)
Senin, 11 Februari 2013
Anis Diah Ayu Masita
Puisi Entreprenuer. Jamil Azzaini.
Ketika orang lain MASIH terlelap, aku sudah berkeringat
Ketika orang lain SUDAH terlelap, aku masih bersemangat
Apakah aku lelah? Tidak, karena kulakukan dengan penuh HASRAT
Ketika orang bahagia menerima gaji, aku bahagia karena bisa MEMBAYAR GAJI
Ketika orang lain sibuk menyalahkan orang lain karena bisnis tak sesuai rencana, aku SIBUK BELAJAR agar bisnisku terus bersinar
Ketika orang lain melihat MASALAH, aku melihatnya di situ ada PELUANG
Ketika orang lain melihat SAMPAH, aku melihatnya itu bisa menjadi UANG
Ketika orang lain sibuk menjaga GENGSI, aku sibuk menyiapkan produk atau jasa yang meningkatkan gengsi. Namun, ketika orang lain sibuk ditagih KARTU KREDIT aku justeru ditawari banyak kredit dari berbagai lembaga keuangan
Ketika istri orang lain sibuk mengatur KEUANGAN , istriku justeru membanyak belanja untuk menambah barang DAGANGAN. Ketika orang lain sibuk mencari LEMBUR-an, aku sibuk mencari tempat untuk LIBUR-an
Ketika orang lain takut saat usia PENSIUN, saat itu justru aku sedang amat BAHAGIA karena bisnisku telah menggurita. Saat usia sudah senja orang lain masih sibuk dengan urusan DUNIA, aku sudah amat sibuk menggapai cinta dari SANG MAHA.
Kelak, aku ingin bersanding dengan para saudagar sahabat NABI, di kehidupan yang ABADI. Akupun ingin mengajak Anda yang membaca tulisan ini, bermain-main di taman SURGAWI. Mau?
Salam SuksesMulia!
Ingiiiiin banget deh punya semangat seperti ini
Semangat wirausaha yang menggebu, yang menuntun kaki ini untuk terus melangkah tanpa henti; yang menuntun hati ini terus bertahan tanpa putus asa; yang menuntun raga ini terus berjuang tanpa kenal lelah
Puisi Entreprenuer. Jamil Azzaini.
Ketika orang lain MASIH terlelap, aku sudah berkeringat
Ketika orang lain SUDAH terlelap, aku masih bersemangat
Apakah aku lelah? Tidak, karena kulakukan dengan penuh HASRAT
Ketika orang bahagia menerima gaji, aku bahagia karena bisa MEMBAYAR GAJI
Ketika orang lain sibuk menyalahkan orang lain karena bisnis tak sesuai rencana, aku SIBUK BELAJAR agar bisnisku terus bersinar
Ketika orang lain melihat MASALAH, aku melihatnya di situ ada PELUANG
Ketika orang lain melihat SAMPAH, aku melihatnya itu bisa menjadi UANG
Ketika orang lain sibuk menjaga GENGSI, aku sibuk menyiapkan produk atau jasa yang meningkatkan gengsi. Namun, ketika orang lain sibuk ditagih KARTU KREDIT aku justeru ditawari banyak kredit dari berbagai lembaga keuangan
Ketika istri orang lain sibuk mengatur KEUANGAN , istriku justeru membanyak belanja untuk menambah barang DAGANGAN. Ketika orang lain sibuk mencari LEMBUR-an, aku sibuk mencari tempat untuk LIBUR-an
Ketika orang lain takut saat usia PENSIUN, saat itu justru aku sedang amat BAHAGIA karena bisnisku telah menggurita. Saat usia sudah senja orang lain masih sibuk dengan urusan DUNIA, aku sudah amat sibuk menggapai cinta dari SANG MAHA.
Kelak, aku ingin bersanding dengan para saudagar sahabat NABI, di kehidupan yang ABADI. Akupun ingin mengajak Anda yang membaca tulisan ini, bermain-main di taman SURGAWI. Mau?
Salam SuksesMulia!
Ingiiiiin banget deh punya semangat seperti ini
Semangat wirausaha yang menggebu, yang menuntun kaki ini untuk terus melangkah tanpa henti; yang menuntun hati ini terus bertahan tanpa putus asa; yang menuntun raga ini terus berjuang tanpa kenal lelah
Kamis, 24 Januari 2013
... #Opiniku3
21 Januari 2013
Ternyata beda yaa antara melihat dari layar kaca dengan melihat langsung di lapangan. Tadi baru aja lewat daerah Dewi Sartika -- Otista yg di pinggir jalannya banyak posko penampungan dan posko peduli banjir. Selama melihat dari tv, aku cuma 'oh, banjirnya segitu' atau 'oh, baru surut sedikit'
Tapi setelah lihat selintas di lapangan, aku jadi ngerasa 'duh, ternyata begini toh keadaannya? Jadi pengen banget jadi bagian dari relawan bantuan'
Inilah salah satu hikmah perintah Allah Swt. "Berjalan2 lah di muka bumi"
Supaya kita tahu bahwa hidup ini bagaikan roda yang terus berputar, selalu ada yang berada di atas (manusia-manusia dengan segala kenyamanan, keamanan, dan keadaan berlimpah rezeki); selalu ada yang berada di bawah (manusia-manusia dengan segala ksengsaraan, ketidaknyamanan, kesusahan, kekhawatiran, dan kemiskinan); serta selalu ada yang berada di tengah (manusia-manusia dengan segala kecukupan yang cukup secukupnya, tidak kelebihan, tidak juga kekurangan)
Supaya kita sadar bahwa hidup ini bagai air yang mengalir, kadang mengalir ke atas; kadang juga ke bawah; kadang mengalir di ruang yang luas; kadang pula mengalir di ruang yang sempit; bahkan terkadang harus menguapkan, kembali menjadi embun di pagi hari atau menjadi hujan; kadang pula harus berjuang melalui bebatuan cadas. Semua itu untuk dapat tetap bertahan.
Akan tetapi, jangan pernah lupa bahwa hidup itu adalah pilihan. Kita bisa memilih untuk menjadi seperti apa dan memilih bagaimana cara kita bertahan. Hanya saja yang paling penting dari semua ini adalah jangan putus asa untuk berusaha dan jangan pernah lupa untuk tetap memberi manfaat pada orang lain.
*jadi ngelantur ke mana-mana -___-"
Rabu, 16 Januari 2013
Bukan Pertarungan A VS B #Opiniku2
Satu semester kemarin (semester 3) aku adalah mahasiswa tergalau di angkatanku dan kampusku. Kenapa begitu? Karena hanya aku yang mondar-mandir kelas, antara penghuni kelas A dan kelas B (biasanya kelasnya tetap jika mata kuliahnya masih mata kuliah wajib. Dan semester 1 s.d. semester 3 itu mata kuliah wajib semua). Jika mata kuliah statistika (banyak yang pindah kelas) dan klinis-asesmen (kelas digabung) tidak dihitung, 2 mata kuliahku berada di kelas A, dan di kelas B 3 mata kuliah. Temanku sering tanya, "kamu mata kuliah ini di kelas mana sih?" atau "kita satu kelompok ga sih?" (biasanya ditanyai sama temenku yang udah biasa satu kelompok) bahkan aku sering terlupakan saat akan menyusun jadwal mentoring karena hanya aku yang beda jadwal kuliahnya.
Jika sedikit flashback saat awal aku tahu aku di-PHP-in (Pemberi Harapan Palsu) sama universitas, tiba-tiba kelasku jadi B semua padahal aku pilih kelas A semua saat isi KRS online, kemudian setelah beberapa hari pengesahan KRS tiba-tiba berubah lagi jadi ada beberapa mata kuliah yang di kelas A dan bentrok dengan beberapa kuliah di kelas B. Harus ngelobi dosen, sendirian, supaya bisa stay di kelas B untuk jenis mata kuliah yang dosennya sama dengan kelas A. Hahaha.. pokoknya, sampai sebelum revisi KRS, aku adalah mahasiswa tersibuk dan tergalau masalah kelas dan lobi-lobi dosen. jadi sering di-puk-puk sama temen-temen, sama ketua kelas A; ketua kelas B, hingga ketua tingkat --"
Eh? kenapa jadi ngelantur ya? hehehe
Sekarang aku mau bahas mengenai opiniku setelah satu tahun full sebagai penghuni kelas A, dan kemudian satu semester jadi amphibi (hidup di dua tempat, kelas A dan kelas B). Banyak teman-teman di kelas B yang nanya, "gimana rasanya di kelas B?" atau "enakan di kelas A atau di kelas B?" atau "apa sih bedanya kelas A dengan kelas B yang kamu rasain setelah kamu di kelas B?" dan berbagai pertanyaan hampir sejenis lainnya. Begitu pun teman-teman kelas A. Banyak yang nanya, "kelas B beda banget yaa sama kelas A?" atau pernah ketua kelas A bilang "kamu pasti akan ngerasain bedanya aku sama Seta (ketua kelas B)" atau bahkan ada juga yang bilang "kelas B pada pinter-pinter ya? Asdos sering bandingin kita sama kelas B"
Kebanyakan pertanyaan itu dilontarkan saat awal semester 3. Pada saat itu (sampai sekarang juga sih, cuma sekarang udah ada tambahannya, yaa lumayanlah bisa mengenal dan menilai setelah satu semester jadi penghuni baru kelas B) jawabanku simpel dan objektif (menurutku), "yaa, tiap kelas punya kelebihan dan kekurangan. Kalo ditanya bedanya, pasti ada bedanya kan orang-orangnya aja beda. Kalo ditanya enakan yang mana, dua-duanya enak. Kan punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Intinya, nikmatin aja proses di dalamnya" (kurang lebih aku bilang begitu).
Akan tetapi, semakin hari aku semakin sadar bahwa keduanya memang berbeda, bahkan bisa dibilang amat berbeda. Keduanya punya pemimpin (ketua kelas) yang berbeda, keduanya terdiri dari orang-orang yang berbeda sehingga keduanya sudah pasti berbeda. Keduanya memiliki kelebihan yang saling diirikan oleh keduanya. Kelas A selalu iri dengan kelas B yang terlihat menonjol dan sering dibicarakan oleh dosen maupun asdos. Kelas B selalu iri dengan rajinnya kelas A. Dan yang lucu lagi adalah keduanya sama-sama iri mengenai tetangga yang mereka kira lebih kompak.
Kenapa aku bilang lucu? Ya karena keduanya mengirikan hal yang sama. Kalau begitu, siapakah yang sebenarnya lebih kompak? Who knows!
Hahaha... intinya, kita ada dan berbeda bukan untuk bertarung, tapi untuk sama-sama berjuang; sama-sama belajar; sama-sama mencari ilmu; dan sama-sama berusaha menjadi lebih baik serta bermanfaat bagi sekitar :)
Langganan:
Komentar (Atom)