Jumat, 15 November 2013

bukan "DIA" dan bukan "MEREKA" tapi KITA

Sore ini mendapat surat cinta berbalu semangat dari seorang teteh yang luar biasa dari Bandung. Ia seorang aktivis yang penuh semangat berbagi dan bermanfaat yang sedang menyelesaikan skripsinya. Namun, ia masih menyempatkan berbagi semangat kepada adik-adiknya. Beginilah caranya membagi semangat itu:

Mau agak sedikit ngeluarin uneg-uneg. Maaf sebelumnya jika ada kata2 yg sedikit (atau banyak) menusuk hati teman-teman. 
Agak sedih rasanya menulis hasil notulensi rapat sebulan yang lalu. Sedih karena SELAMA BERBULAN-BULAN TIDAK ADA GERAKAN YANG BERARTI YANG TELAH KITA LAKUKAN SEBAGAI PENGURUS NASIONAL. saya bicara sambil ngaca, maksudnya kata-kata ini juga saya tujukan kepada diri saya sendiri. 
Kalo kita mau flashback, coba jawab masing-masing pertanyaan-pertanyaan ini: 
1. Siapa yg mengajukan diri jadi pengurus nasional?
2. Siapa yang sok-sok-an menyanggupi menjabat ditengah tumpukan kewajiban sebagai mahasiswa psikologi (yang terkenal sibuknya)?
3. Siapa orang-orang yang diawal penuh semangat mewujudkan psikologi membumi di Indonesia? 
saya rasa jawabannya "SAYA", bukan "DIA" dan bukan "MEREKA" tapi KITA

Dari sekian banyak pendaftar, kita yang terpilih menjadi pengurus nasional. Dari sekian banyak orang-orang penuh semangat, kita yang terpilih menjadi pengemban amanah yang mempunyai konsekuensi menurunnya kesempatan untuk menghirup nafas lega tanpa tanggung jawab yang bertubi-tubi. Dari sekian banyak orang, kita yang memiliki kesempatan mulia bekerja untuk orang lain walau kadang tidak dihargai, didebat sesuka hati bahkan tidak dianggap ada. Jadi, rasanya tidak ada alasan untuk tetap abai pada tanggungjawab kita.

Saya, kamu, kita, punya kepentingan dan kesibukan yang berbeda-beda. Kuliah, organisasi lain, skripsi, tugas, pekerjaan, dll. Tapi perlu diingat, teman-teman non-pengurus tidak pernah mau tahu kesibukan apa yg kita hadapi. TIDAK AKAN ADA 'PENGERTIAN' KARENA ALASAN-ALASAN : SIBUK KULIAH, TUGAS, DSB DSB. 
SIAPA SURUH MAU JADI PENGURUS NASIONAL? 
Yuk semangat lagi. Jangan berkutat dengan kata-kata PUSING dan BINGUNG. Teman-teman itu orang-orang hebat yang bisa berorientasi kepada jalan keluar bukan pada emosi. Pada belajar kan coping stress dari Lazarus? Yuk belajar bersama. 
Maaf bila ada kata-kata yg menyakitkan, ini sy sampaikan hanya karena saya sayang kalian. 
Dita, Reza, Banna dan Baidui, kita semua orang terpilih, mari buktikan kita pantas dan layak dipilih. Terimakasih :)


Yaa, kami memang menurun semangatnya. Bagiku, semester ini memang amat menjemukan. Aku rasa, ini fase dimana diriku dan banyak teman yang lain merasa amat jenuh dengan rutinitas. Terutama aku. Banyak waktu dimana aku enggan melaksanakan amanah dengan serius dan sungguh-sungguh (Astaghfirullah~)

Dan aku sadar sesadar-sadarnya, memang jalan ini adalah pilihan kita. Pertanyaannya, kenapa aku ngga lagi semangat? *mari temukan jawabannya ...

Terima kasih Allah Swt. telah memberikan kakak yang luar biasa yang masih mau saling mengingatkan disela-sela kegiatannya yang padat. Terima kasih banyak teteh atas kesediaannya untuk mengingatkan :)

Tidak ada komentar: