Nemuin tulisan yang menarik dari seorang mahasiswi Psikologi UGM dalam blognya masgun (http://kurniawangunadi.tumblr.com) dan karena aku juga mahasiswi psikologi yang memiliki harapan yang hampir sama ketika aku menjadi seorang istri, kelak. Sekaligus sebagai pengingat jika aku lupa akan harapan2 ini ketika aku masih menjadi mahasiwa psikologi :)
CeritaJika #8 : Jika Istrimu Seorang Psikolog
Suatu hari jika kamu menemukanku sebagai istrimu, satu hal yang pertama kali ingin aku sampaikan. Satu hal yang aku ingin agar kamu tahu, paham, dan selalu ingat. Bahwa aku, tidak bisa membaca pikiranmu. Aku bisa memahamimu hanya jika kamu menunjukkan kepadaku apa yang harus aku pahami. Kita berdua dahulunya orang yang saling tidak mengenal bukan? Jika suatu hari aku belum paham tentang jalan pikiranmu, perasaanmu, persepsimu terhadap sesuatu, keinginanmu. Tolong bersabar, pemahaman butuh waktu. Jika kau bersabar, aku akan setia belajar.
Suatu hari jika kamu menemukanku sebagai isterimu, satu hal yang aku minta kepadamu. Support, dukungan, motivasi, sudut pandang positif, afeksi. Apapun itu istilahnya. Yang aku inginkan bahwa kamu paham, aku juga manusia biasa yang kadang lemah, kadang murung, bad mood, down, kecewa, putus asa, kadang bisa kesal dan marah. Dan jika itu terjadi, aku ingin kau selalu hadir disisiku. Nyata ataupun maya. Membantu memperbaiki moodku, meluruskan niatku, memotivasi jiwaku, meredakan amarahku, menerangi kebingunganku. Sekecil apapun itu, aku akan sangat berterima kasih.
Jika suatu hari nanti kamu menemukanku sebagai isterimu, jangan pernah mengatakan ‘kamu kan psikolog!, harusnya…”. Aku tahu tentang perkembangan manusia, perkembangan yang berakibat baik dan buruk. Jika perkembangan itu dimulai dari masa dewasa, masa ketika aku kuliah Psikologi. Maka aku yakin aku bisa menjadi manusia yang sempurna untukmu. Tetapi sayang, perkembangan manusia itu dimulai dari sejak kita bayi. Tentu aku mengalami masa-masa buruk, masa-masa yang tidak terlalu mendukung perkembanganku. Masa-masa yang kadang traumatis dan menyedihkan. Masa-masa yang menyisakan unfinish business dan memberi bekas padaku hingga saat ini. Jangan pernah katakan ya?
Jika suatu hari kau menemukanku sebagai isterimu. Maukah kau mendengarkan konsep-konsep kehidupan berumah tangga yang aku pelajari dan aku pahami? Mendengarkan saja dulu. Tentang komunikasi yang akan kita terapkan, tentang fungsi dan peran masing-masing diri dalam rumah tangga, tentang aturan-aturan yang harus kita jaga dan patuhi. Dan yang paling utama adalah bagaimana kita mengkonsep dalam mendidik anak. Tentu aku punya pertimbangan secara psikologis dalam semua hal itu. Untuk itu aku membutuhkanmu untuk mendengarkan. Karena aku paham, yang menjalani rumah tangga ini bukan aku, tapi kita. Pun ketika kamu memiliki konsep konsep yang lain, aku sangat mau untuk mendengarkannya.
Jika suatu hari kau menemukanku sebagai isterimu nanti. Tolong jangan terganggu dengan orang-orang yang senang curhat kepadaku. Mereka yang menelpon tengah malam, yang tiba-tiba datang kerumah. Diantara mereka ada yang mungkin klien yang tidak aku kenal. Namun, diantara mereka mungkin juga teman-temanku sendiri. Diantara mereka, ada yang perempuan juga ada laki-laki. Untuk kau tahu, jika dalam dunia psikologi ada kode etik yang tidak boleh mencampurkan urusan pribadi dengan masalah klien, tetapi jika klien itu teman sendiri? Atau teman sendiri yang tidak mendaftar resmi sebagai klien tetapi meminta nasihat sebagai teman yang kebetulan psikolog? Maka tolong bersabar, jangan terganggu. Aku ingin kamu selalu ada disitu, untuk selalu mengingatkanku.
Jika suatu hari kamu menemukanku sebagai isterimu. Bolehkah aku tinggal dirumah saja? Mendirikan biro konsultasi dengan klien yang sangat terbatas sebagai janji profesiku, karena Aku ingin selalu hadir dalam setiap perkembangan anak-anak kita. Aku ingin selalu ikut campur dalam mengajari moral, emosi, sosial dan intelektual.
Yap, sampai sini, aku suka penjabaran harapannya (buat lengkapnya, silakan baca sendiri dari sumbernya langsung ^_^). Memang benar, psikolog atau calon psikolog tidak bisa membaca pikiran atau memahami seseorang begitu saja dalam waktu beberapa detik pertemuan. Kami hanya berusaha selalu memahami kode-kode yang ditunjukkan seseorang.
Pandai merasa. Yaa, berusaha pandai merasa. Itu yang kami lakukan. Dan kami pun memang manusia biasa yang terkadang merasa kurang percaya diri; merasa kurang mampu; merasa butuh dukungan fisik dan psikis dari orang-orang terdekat yang menyayangi kami.
Psikolog. Sebuah profesi yang tidak sederhana. Banyak tuntutan untuk "harusnya lebih paham", "harusnya lebih memahami", "harusnya lebih mengerti", "harusnya lebih tau apa yang dirasakannya" Gelar-gelar "harusnya..." ini lah yang membuat profesi psikolog menjadi rumit. Jadi, apa yang akan terjadi jika suami pun mengatakan hal yang sama? "harusnya kamu lebih memahamiku!" atau "harusnya kamu lebih paham tentang anak kita daripada aku" Tolong, jauhkan tuntutan "harusnya ..." dari seorang pasangan kita yang psikolog atau yang pernah belajar psikologi. Kami hanya belajar lebih banyak tentang jiwa manusia, tapi bukan berarti kami selalu mengetahui tentang kejiwaan setiap orang. Bahkan, kami pun butuh waktu lama untuk memahami kejiwaan kami pribadi.
Manusia berkembang sejak ia lahir. Kami belajar bahwa mendidik anak tidaklah mudah dan tidak bisa disepelekan. Dan kami paham bahwa mendidik anak bukan hanya peran seorang ibu, tapi juga amat butuh peran seorang ayah, juga butuh konsep. Mendidik anak dengan memberi teladan, sehingga butuh aturan-aturan yang harus dijaga oleh kedua orang tua.
Sama seperti seorang dokter yang harus siap 24 jam jika mendapat panggilan darurat dari pasien. Begitu pula dengan seorang psikolog, harus siap 24 jam jika mendapat panggilan dari klien, karena masalah kejiwaan sama pentingnya dengan masalah pasien darurat. Harus ditangani dengan profesional, tanpa ada campuran masalah psibadi. Oleh karena itu, psikolog butuh suami yang sabar dan memahami hal ini.
Bagi saya, buat apa bisa selalu ada bagi klien, tapi tidak bagi anak-anak dan keluarga? Dan mendirikan biro konsultasi di rumah merupakan salah satu jawaban agar perkembangan anak-anak tetap terpantau dengan baik dan terarah.
Semoga saya bisa jadi istri dan ibu yang luar biasa, yang mampu memahami suami dn anak-anak serta mampu membersamai suami dalam mendidik anak-anak menjadi generasi yang taat pada Allah Swt., dan memiliki karakter baik yang kuat. Aamiin ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar