Subhanalloh, alhamdulillah aku punya teman-teman yang luar biasa. Mereka tetap memberi semangat padaku di saat mereka juga mengalami lelah dan jenuh dengan tugas kuliah yang sama dan aktivitas lain yang banyak. Seperti tadi, saat aku sudah amat jenuh dengan tugas (kelompok) laporan eksperimen yang tak kunjung tuntas, mereka mengingatkanku untuk sabar dan tetap semangat. Padahal, Lulu Deddy dan April pun baru saja menyelesaikan tugas (kelompok) psikologi kesehatan, membuat poster. Erik baru aja selesai melakukan tugas (kelompok) kesehatan mental, penyuluhan. Yaa, padahal, mereka juga sama lelahnya denganku, dan mungkin mereka juga sama jenuhnya denganku. Tetapi, dengan sabar, mereka mengingatkanku untuk sabar dan tetap semangat.
Dan lagi, waktu kepanitiaan Seminar Nasional Psikologi Islam beberapa hari lalu (acaranya berlangsung), banyak orang menyampaikan simpatinya sama aku. Erik juga nawarin banyak bantuan. Banyak semangat diberikan oleh teman2 senior2 dan juga dosen. Juga banyak permintaan maaf aku terima dari koor sie di kepanitiaan karena masalah internal kepanitiaan, menyalahkan diri sendiri atas kesalahan orang lain. Aku terharu, tapi juga ngga enak hati. Dibandingkan aku, para koor sie lebih berat lagi bebannya.
Oleh karena itu, aku selalu menjadi orang yang menunjukkan ketegaran dan menawarkan bantuan pada mereka. Meski akhirnya aku tak banyak membantu tugas teknis mereka, tapi setidaknya aku selalu berusaha meyakinkan mereka bahwa mereka sudah memberikan yang terbaik buatku, buat diri mereka, dan buat orang lain.
Tak ada air mata yang aku tunjukkan ketika mereka merasa sedih dan hopeless. Aku berusaha tak menunjukkan lelahku ketika mereka terlihat lelah dengan perjuangan mereka. Aku berusaha tidak menyalahkan diriku atau pun mereka ketika ada hal-hal di luar prediksi terjadi, tapi mengajak mereka berevaluasi bersama. Meski diri ini, nyatanya, menyalahkan diri sendiri atas kelalaian sehingga tidak memprediksi hal terburuk, tidak berani menyatakan keraguan atas optimisme yang dibangun.
Hingga akhirnya, air mata ini luruh saat SC menyatakan permohonan maaf dan memberi semangat. Cukup sudah aku menahan diri untuk menguatkan orang-orang yang merasa dirinya bersalah. Cukup sudah aku mendengar banyak orang menyatakan diri bersalah. Padahal, sejatinya, kesalahan itu paling banyak berada di tangan ini, yang dengan semena-menanya menyatakan optimisme, yang dengan semena-menanya menyatakan idealisme pribadinya bahwa semua akan baik-baik saja, yang dengan semena-mena bersombong dengan kesuksesan yang selama ini di raih.
Akan tetapi, tak ada yang dapat disampaikan dengan kata-kata. Biarlah air mata ini yang berbicara bahwa aku juga manusia, bukan tempat dimohonkan maaf. Aku juga manusia yang sepatutnya di kritik atas kinerjaku sebagai ketua panitia. Dan lagi, jika aku bersuara, maka acara hari itu tak akan berakhir dengan evalusi dan komitmen bersama.
Terima kasih teman, aku banyak belajar karena kalian menyertaiku dan melangkah bersamaku menapaki jalan kehidupan yang belum terlihat ujungnya ini kawan.
Tetap semangat, dan saling menyemangatai. Jangan pula pernah lelah untuk belajar dan menebar kebaikan :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar