Satu semester kemarin (semester 3) aku adalah mahasiswa tergalau di angkatanku dan kampusku. Kenapa begitu? Karena hanya aku yang mondar-mandir kelas, antara penghuni kelas A dan kelas B (biasanya kelasnya tetap jika mata kuliahnya masih mata kuliah wajib. Dan semester 1 s.d. semester 3 itu mata kuliah wajib semua). Jika mata kuliah statistika (banyak yang pindah kelas) dan klinis-asesmen (kelas digabung) tidak dihitung, 2 mata kuliahku berada di kelas A, dan di kelas B 3 mata kuliah. Temanku sering tanya, "kamu mata kuliah ini di kelas mana sih?" atau "kita satu kelompok ga sih?" (biasanya ditanyai sama temenku yang udah biasa satu kelompok) bahkan aku sering terlupakan saat akan menyusun jadwal mentoring karena hanya aku yang beda jadwal kuliahnya.
Jika sedikit flashback saat awal aku tahu aku di-PHP-in (Pemberi Harapan Palsu) sama universitas, tiba-tiba kelasku jadi B semua padahal aku pilih kelas A semua saat isi KRS online, kemudian setelah beberapa hari pengesahan KRS tiba-tiba berubah lagi jadi ada beberapa mata kuliah yang di kelas A dan bentrok dengan beberapa kuliah di kelas B. Harus ngelobi dosen, sendirian, supaya bisa stay di kelas B untuk jenis mata kuliah yang dosennya sama dengan kelas A. Hahaha.. pokoknya, sampai sebelum revisi KRS, aku adalah mahasiswa tersibuk dan tergalau masalah kelas dan lobi-lobi dosen. jadi sering di-puk-puk sama temen-temen, sama ketua kelas A; ketua kelas B, hingga ketua tingkat --"
Eh? kenapa jadi ngelantur ya? hehehe
Sekarang aku mau bahas mengenai opiniku setelah satu tahun full sebagai penghuni kelas A, dan kemudian satu semester jadi amphibi (hidup di dua tempat, kelas A dan kelas B). Banyak teman-teman di kelas B yang nanya, "gimana rasanya di kelas B?" atau "enakan di kelas A atau di kelas B?" atau "apa sih bedanya kelas A dengan kelas B yang kamu rasain setelah kamu di kelas B?" dan berbagai pertanyaan hampir sejenis lainnya. Begitu pun teman-teman kelas A. Banyak yang nanya, "kelas B beda banget yaa sama kelas A?" atau pernah ketua kelas A bilang "kamu pasti akan ngerasain bedanya aku sama Seta (ketua kelas B)" atau bahkan ada juga yang bilang "kelas B pada pinter-pinter ya? Asdos sering bandingin kita sama kelas B"
Kebanyakan pertanyaan itu dilontarkan saat awal semester 3. Pada saat itu (sampai sekarang juga sih, cuma sekarang udah ada tambahannya, yaa lumayanlah bisa mengenal dan menilai setelah satu semester jadi penghuni baru kelas B) jawabanku simpel dan objektif (menurutku), "yaa, tiap kelas punya kelebihan dan kekurangan. Kalo ditanya bedanya, pasti ada bedanya kan orang-orangnya aja beda. Kalo ditanya enakan yang mana, dua-duanya enak. Kan punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Intinya, nikmatin aja proses di dalamnya" (kurang lebih aku bilang begitu).
Akan tetapi, semakin hari aku semakin sadar bahwa keduanya memang berbeda, bahkan bisa dibilang amat berbeda. Keduanya punya pemimpin (ketua kelas) yang berbeda, keduanya terdiri dari orang-orang yang berbeda sehingga keduanya sudah pasti berbeda. Keduanya memiliki kelebihan yang saling diirikan oleh keduanya. Kelas A selalu iri dengan kelas B yang terlihat menonjol dan sering dibicarakan oleh dosen maupun asdos. Kelas B selalu iri dengan rajinnya kelas A. Dan yang lucu lagi adalah keduanya sama-sama iri mengenai tetangga yang mereka kira lebih kompak.
Kenapa aku bilang lucu? Ya karena keduanya mengirikan hal yang sama. Kalau begitu, siapakah yang sebenarnya lebih kompak? Who knows!
Hahaha... intinya, kita ada dan berbeda bukan untuk bertarung, tapi untuk sama-sama berjuang; sama-sama belajar; sama-sama mencari ilmu; dan sama-sama berusaha menjadi lebih baik serta bermanfaat bagi sekitar :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar