Senin, 10 November 2014

Semu

Aku menyesal, amat menyesali pada apa yang pernah terjadi di antara kita selama 3 bulan terakhir itu. Ingin rasanya membalikkan waktu dan memulai semua dari awal. Di antara kita perasaan itu tidak menelusuk ke dalam hatimu, tidak pernah, dan tidak akan pernah, sehingga kita akan baik-baik saja. Dan akan terus baik-baik saja, menjadi teman baik.

Sama seperti siluetku di pagi hari. Aku menyukainya, dengan wajar. Tapi itu hanya siluet. Hanya bayangan. Semu...

Pun pertemanan kita. aku menyukainya dengan wajar, tapi tidak nyata. Semu. Kita nyata, pun pertemuan kita. Keberadaan kita juga nyata, tapi tidak pertemanan kita..

Kau ibarat angin. Datang dan pergi sesuka hati dengan intensitas yang juga sesuka hatimu. Kau ibarat musim, kadang sulit diprediksi, juga berubah sesuka hati.

Kau temanku, tapi tidak layaknya teman. Kau perhatian dengan diammu. Juga mengacuhkan keberadaan diriku. Tak ada sapa, juga teguran. kemudian, semakin kudapati bahwa pertemanan kita adalah semu. Kita memang tinggal di bumi yang sama, tapi punya dunia berbeda. Kau dengan urusanmu, dan aku dengan urusanku. Seperti tak ada lagi alasan bagi kita tuk sekedar melempar sapaan.

Dengan segala sikapmu, kau memintaku tetap menjadi temanmu yang bisa saling berbagi cerita, juga bersenda gurau bersama. Kau tuntut aku. Jelas lah sudah, kau berangan pertemanan kita baik-baik saja dan berharap semu itu menghilang. 

Namun, aku hanya berharap semoga kau sadar dan lekas sadar, kawan. Sesungguhnya, semu itu kau lah yang menciptakan...

Tidak ada komentar: